Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

Berislam tanpa Madzhab?

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya ketika akan menyambut datangnya bulan ramadhan dan (juga) ketika akan menyambut ‘idul fitri, umat islam di indonesia selalu saja di hadapkan pada kebingungan-kebingungan yang di sebabkan oleh perbedaan-perbedaan pandangan tentang penetapan awal dan akhir bulan ramadhan. Ada tiga “madzhab” besar di indonesia yang sering menjadi rujukan umat islam dalam penetapan awal dan akhir ramadhan, yaitu Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah dan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agamanya.

Jika Muhammadiyah biasanya selalu lebih dahulu telah menentukan awal dan akhir ramadhan denganmetode hisab (perhitungan kalender hijriah), maka Nahdhatul Ulama akan menentukan awal dan akhir ramadhan setelahnya dengan menunggu hasil ru’yatul hilal (melihat bulan) yang dilakukan menjelang matahari terbenam. Dan pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang itsbat penentuan awal dan akhir ramadhan,setelah sebelumnya dilakukan hisab dan ru’yatul hilal.

 

Perbedaan-perbedaan semacam ini tentu memberikan banyak pertanyaan bagi umat islam di indonesia yang kebanyakan awam terhadap ajaran agamanya. Pertanyaan yang muncul dapat berupa, manakah yang harus di ikuti? Apa konsekwensi jika mengikuti salah satu penetapan tersebut? Jika ternyata penetapan yang diikuti itu keliru, apakah berdosa?. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain berupa kekhawatiran ummat ketika mereka “salah” dalam mengikuti salah satu “madzhab” diatas tentang penetapan awal dan akhir ramadhan.

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan keadaan ummat islam indonesia yang belum siap berhadapan dengan perbedaan-perbedaan pandangan, meskipun itu hanya dalam masalah furu’iyyah (cabang) sekalipun, dan belum menyentuh pada permasalahan ushuliyyah (pokok). Kebelumsiapan ummat islam di indonesia terhadap perbedaan-perbedaan pandangan itu ditunjukkan melalui ekspresi kecemasan ketika mengikuti salah satu faham atau ajaran ataupun pandangan tertentu, khawatir jika pandangan itu keliru dan mereka akan berdosa.

 

Beberapa hal yang mungkin dapat menjelaskan sikap ummat islam yang seperti ini adalah yang pertama, penerimaan secara taklid terhadap ajaran –dalam hal ini adalah masalah fiqh-, sejatinya sikap taklid itu merupakan bagian dari akibat terjadinya kristalisasi pandangan atau ijtihad ulama-ulama tertentu yang pada gilirannya menutup pintu ijtihad yang lebih luas di kalangan ummat islam. Padahal, kata Muhammad Abduh, belum tentu akal kita atau pemikiran kita akan cocok dengan apa yang mereka (para ulama) sampaikan.

 

Ada baiknya kita mencontoh apa yang dahulu pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat di zamannya. Suatu ketika pernah dalam keadaan sakit, Rasulullah Saw menyuruh sahabatnya mengambil kertas dan pena untuk menuliskan wasiatnya. Setelah menuliskan wasiat itu lantas Rasulullah berujar, “dengan ini kalian tidak akan sesat selama-lamanya”.  Mendengar perkataan Rasulullah itu, Umar Ibn Khattab berkata pada para sahabat, “Rasulullah itu dalam keadaan sakit, di tangan kalian ada kitab Allah, cukuplah untuk kita kitab Allah itu”. Sikap Umar Ibn Khattab ini menunjukkan “perlawanannya” terhadap pandangan Rasulullah Saw. Secara implisit, kejadian yang oleh Ibnu Abbas disebut sebagai kejadian hari kamis ini menunjukkan bahwa perbedaan-perbadaan pandangan sering terjadi di zaman Rasulullah, bahkan perbedaan itu sering melibatkan ketidaksetujuan para sahabat terhadap pandangan Rasulullah.

 

Sahabat yang lainnya, Ibn Abi Al-Hadid pernah membantah pandangan Rasulullah ketika diperintahkan untuk tetap berada dalam pasukan usamah, sementara dia bersama Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan Usamah tersebut. Ibn Abi Al-Hadid berujar, “Sesungguhnya  Rasulullah Saw mengirimkan pasukan usamah berdasarkan ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu, yang diharamkan membantahnya”. Diriwayatkan pula, Rasulullah Saw pernah menangis dikarenakan beberapa pandangannya yang keliru dan bertentangan dengan perintah wahyu yang diturunkan kepadanya. Umar ibn Khattab bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, hal apakah gerangan yang menyebabkan anda menangis, kalau ada sesuatu yang aku patut tangisi, maka aku akan menangis bersama anda. Jika tidak, maka aku akan menangis saja sebagamana anda menangis”. Lantas Rasulullah Saw menceritakan kepada Umar ibn Khattab tentang wahyu yang turun membenarkan pendapat Umar dan mengoreksi pandangan Rasulullah yang tidak sejalan dengan pandangan Umar. Rasulullah selanjutnya mengatakan, “Seandainya saat ini adzab diturunkan oleh Allah, tidak ada yang akan selamat kecuali Umar ibn Khattab”. Kisah-kisah di zaman Rasulullah yang diceritakan ini memberikan kesempatan dan peluang bagi kita untuk tetap dapat bersikap terbuka terhadap perbedaan pandangan, dan memperluas pintu keinginan berijtihad terhadap nilai-nilai normatif dalam islam.

Ali ibn Abi Thalib pernah berkata, “Kitab Suci (Al-Qur’an) tidak membawa makna di atas pundaknya, Ia membutuhkan pembaca untuk menangkap maknanya. Dan pembaca itu adalah manusia”. Pernyataan Ali ini memberitahu kita bahwa setiap manusia memiliki potensi ijtihad dalam menangkap jiwa dan semangat ajaran Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an.

 

Kemudian, penyebab kedua dari kebelumsiapan ummat islam dalam menghadapi perbedaan pandanganadalah lemahnya etos intelektual ummat islam. Lemahnya etos intelektual dalam mengelaborasi ajaran dan hukum islam ini sebenarnya jika dilihat lebih jauh, bertalian dengan sikap taklid buta ummat islam yang disebutkan sebelumnya. Akibat dari itu, lebih parahnya lagi menyebabkan, meminjam istilah Muhammad Iqbal, kemalasan intelektual (intellectual laziness) dikalangan ummat dalam mengembangkan ajaran dan hukum islam secara lebih dinamis.

Dalam kerangka ini, menarik untuk mencermati pernyataan Muhammad Abduh, “Bacalah terus al-Qur’an dan pahamilah segala perintah dan larangannya serta nasihat-nasihat dan pelbagai ajarannya, sebagaimana ia dahulu dibacakan kepada orang-orang beriman dan orang-orang kafir masa turunnya wahyu, dan juga bersikaplah hati-hati dalam melihat dan menghadapi berbagai macam kitab tafsir, kecuali sekadar untuk memahami maksud lafal yang sulit (musykil), dan berpeganglah pada apa yang diturunkan al-Qur’an sendiri.”  Bacalah, pahamilah, bersikaplah, tiga kata kerja bentuk perintah tersebut menunjukkan bahwa Abduh berusaha untuk memberikan makna pentingnya berusaha untuk memahami dan menjalankan ajaran islam secara mandiri, atau dengan bahasa lain yang ditegaskan Munawir Syadzali adalah agar yang mampu, membuat tafsir sendiri.

 

Ketiga, adalah adanya kekhawatiran dikalangan ummat islam dalam memberikan makna dalam aajaran al-Qur’an dan Hadits karena kesadaran bahwa mereka tidak memiliki kualifikasi yang cukup untuk hal tersebut. Ibnu Rusyd dalam Fashl al-Maqal baina al-Hikmah wa asy-Syari’ah mengatakan bahwa, “…Jika ia (al-Qur’an dan al-Hadits) jelas maknanya maka tidak ada perkataan (penafsiran) padanya, dan jika ia (al-Qur’an dan al-Hadits) samar pengertiannya, maka diperlukan peran akal untuk menafsirkannya..”. Dengan menyadari bahwa terbuka dan dinamisnya ajaran islam terhadap berbagai pemaknaan, namun jika hal itu tidak diiringi dengan pengetahuan yang baik tentangnya, juga akan menyebabkan sulitnya ummat islam untuk bersikap mandiri dalam memahami ajaran islam. Itulah sebabnya sangat penting untuk menghadirkan ummat islam yang terdidik secara intelektual, sehingga mampu memperkaya khazanah pemikiran keislaman kita.

 

Lantas, haruskah kita bermadzhab tertentu?, mengikuti pandangan ulama tertentu dalam memahami islam?. Penulis kira, ummat islam harus cerdas dan selektif, mengutamakan kemampuan sendiri dalam memaknai islam haruslah menjadi etos intelektual kita. Bagi ummat islam yang merasa belum mampu untuk berijtihad, sebaiknya dia melakukan penilaian secara komprehensif terhadap berbagai madzhab yang ada, dengan cara memahami bagaimana konstruksi dari suatu madzhab itu di bangun, apa dan bagaimana dasarnya, serta mengapa madzhab tertentu memiliki pandangan berbeda terhadap permasalahan yang sama. Selanjutnya, barulah dapat  disimpulkan madzhab mana yang lebih kuat kedudukannya terhadap suatu permasalahan. Hal ini agar menghindarkan ummat islam dari sikap bertaklid buta terhadap suatu ajaran tertentu.

 

Penulis kira, ini tawaran yang cukup baik dalam mengembangkan wawasan keislaman kita secara mandiri, didukung dengan karakter ajaran islam yang terbuka dan dinamis.

Wallahu a’lam bish showab

 

Tulisan ini dimuat pada media KoranKaltim sekitar tahun 2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 November 2013 by in Tak Berkategori.

My Instagram

three of us... there always been a hope at the end of the aisle....

Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

My Tweet @romie_zf

Mutiara Islam

Sesungguhnya Allah S.w.t mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam sebuah barisan (yang teratur), bagai sebuah bangunan yang kokoh. (Q.S. As-Shaff : 04)

Mutiara Kata

Kebaikan yang tersusun secara teratur dan sistematis akan mampu mengalahkan kejahatan sebesar apapun meskipun di atur secara sistematis pula (Imam Ali bin Abi Thalib R.A)
%d blogger menyukai ini: