Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

Islam, sedikit penjelasan…

Islam

Islam merupakan agama yang di turunkan oleh Allah Swt melalui malaikat Jibril –didalam al-Qur’an sering disebut sebagai al-Ruuh al-Quduus– kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umat manusia sebagai pedoman dan tuntunan hidup. Begitulah kira-kira pengertian Islam yang sering dirujuk oleh umat Islam pada umumnya mengenai pengertian agama Islam. Memang tidak keliru, namun juga tidak sepenuhnya dapat dikatakan benar. Jika dilihat dari perspektif Islam sebagai sebuah ajaran serta penerapannya dalam rentang kehidupan manusia, setidaknya Islam dapat dijelaskan dengan dua bentuk. Yaitu Islam Ideal dan Islam Real. Dengan mudah akan dapat dipahami bahwa Islam Ideal merupakan nilai-nilai luhur ajaran Islam yang secara objektif menjadi pedoman hidup manusia, “Islam yang seharusnya”. Namun demikian, nilai-nilai luhur ajaran “Islam yang seharusnya” tersebut dalam kehidupan duniawi yang terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu akan mengalami subjektifikasi oleh pengertian-pengertian manusia dalam usaha untuk mengartikulasikan nilai dan doktrin Islam dalam praktek kehidupannya. Dengan demikian, nilai-nilai luhur ajaran “Islam yang seharusnya” itu mengalami deviasi makna dalam kaitannya dengan kenyataan sejarah manusia, dan itulah yang disebut sebagai Islam Real –atau dalam bahasa Jalaluddin Rakhmat dikatakan sebagai Islam aktual-, “Islam yang senyatanya”.

Komaruddin Hidayat menyebutkan ada lima macam rujukan ketika umat islam memaknai kata Islam. Pertama adalah Islam berarti kepasrahan dan ketundukan pada hukum dan ketentuan Tuhan, Allah Swt (QS Ali Imran:83). Kedua, kata Islam ditujukan kepada para Rasul Allah terdahulu dan kepada siapa yang mengikuti ajaran mereka (ummatnya masing-masing) secara benar dan konsisten (QS. an-Nahl:36). Semua Rasul Allah mengajarkan Islam, artinya bertauhid dan tunduk pada hukum-hukumNya (QS. al-Baqarah:136). Ketiga, Islam dalam pengertian dilekatkan pada ajaran Tuhan, Allah Swt yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, tersusun dalam kitab al-Qur’an dan teladan Nabi (al-Hadits). Keempat, Islam yang pengertiannya merujuk pada pendapat ulama dan sarjana muslim tertentu. Oleh karenanya, terdapat perbedaan pendapat dan penafsiran tentang ajaran-ajaran didalamnya. Kelima, adalah Islam yang dalam pengetian sederhana yaitu seseorang yang apabila telah bersaksi tentang Tuhan Allah Swt dan utusan Tuhan, Nabi Muhammad (Kalimah Syahadat) dapat dikatakan Islam –tepatnya seorang Muslim. Pada pengertian yang diajukan diatas, hanya poin pertama yang merujuk pada pengertian “Islam yang seharusnya”, empat poin selebihnya menunjukkan Islam sebagai sebuah ajaran yang terejawantahkan dalam praktek dan sejarah umat manusia. Secara tersirat, hal ini menegaskan bahwa pengertian Islam lebih banyak di rujuk pada keadaannya sebagai “Islam yang senyatanya”.

Oleh karena itu, menjadi penting untuk mengangkat perbincangan mengenai pemaknaan “Islam yang seharusnya” ini sebagai wacana diskursif, mengingat pengejawantahan nilai-nilai Islam dalam “Islam yang senyatanya” –disadari ataupun tidak- sangat ditentukan oleh pengertian yang mendalam dari setiap individu dalam memaknai nilai-nilai ideal Islam yang terdapat dalam “Islam yang seharusnya” itu.

Islam sebagai Agama: Mencari Relevansi Pemaknaan “Islam Rahmatan li al-‘Aalamiin

Islam diturunkan oleh Allah Swt sebagai agama dan tuntunan hidup bagi umat manusia yang ada di dunia, sehingga oleh karenanya Islam sebagai rangkaian nilai di harapkan mampu untuk membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Pemahaman bahwa Islam tidak hanya di peruntukkan bagi segelintir orang dan kelompok, melainkan kepada seluruh alam semesta, membawa kita pada pengertian bahwa pengejawantahan nilai-nilai keislaman “seharusnya” di rasakan oleh seluruh manusia, termasuk kepada manusia yang tidak memeluk Islam sebagai sebuah lembaga formal agama. Namun dalam realitas “senyatanya”, pengejawantahan nilai-nilai keIslaman yang seharusnya berlaku bagi seluruh semesta itu, menjadi timpang ketika di dapati sikap individu dan kelompok dalam Islam yang kurang toleran terhadap perbedaan-perbedaan, baik itu perbedaan keyakinan, pandangan intern keIslaman maupun perbedaan aksi gerakan dalam pengejawantahan nili-nilai Islam itu sendiri. Jika demikian, lalu dimanakah letak kesemestaan (Rahmatan li al-‘Aalamiin) ajaran Islam yang luhur itu sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an;

“Dan tidaklah Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad), kecuali sebagai Rahmat bagi alam semesta.” (QS. al-Anbiya:107)  

Sebagaimana pula dijelaskan dalam ayat berikut;

“Dan Kami (Allah) tidaklah mengutusmu (Muhammad), kecuali kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS.as-Saba:28)

Tentu letak permasalahannya bukan pada nilai-nilai Islam itu sendiri, melainkan terletak pada proses subjektifikasi pemaknaan Islam yang objektif itu oleh para pemeluknya. Melalui Kitab dan UtusanNya, Tuhan Allah Swt mengajarkan bahwa nilai-nilai keTuhanan adalah Tunggal (QS.al-Ikhlash:1), Benar (QS:al-Baqarah:147), Mutlak (QS.Thaahaa:14), dan Menyeluruh (QS. al-Anbiya:107). Oleh karena itu, seharusnya segala nilai keTuhanan itu tergambar dalam realitas sesungguhnya sebagai sesuatu yang Tunggal, Benar, Mutlak dan Menyeluruh pula. Namun pada kenyataannya banyak sekali klaim-klaim kebenaran (truth claim) yang di ajukan oleh berbagai lembaga agama yang notabene juga mengakui keTunggalan, Kebenaran dan Kemutlakan Tuhan secara khusus. Jika masing-masing agama memiliki dan mengakui Tuhannya, maka nilai “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi tidak relevan dalam wacana praksis keberagamaan kita. Fenomena semacam ini juga sering menjadi akar permasalahan konflik antar-agama, khususnya pada tiga agama besar yang memiliki kesamaan dasar teologis, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Permasalahannya bukan sekedar bagaimana menyikapi perbedaan ini, tapi yang lebih penting adalah bagaimana semangat teologis agama-agama tersebut menemukan relevansinya terhadap realitas Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, nilai-nilai keTuhanan itu Tunggal, Benar, Mutlak dan Menyeluruh. Pada prakteknya ketika nilai-nilai keTuhanan yang Mutlak itu di komunikasikan kepada manusia yangrelatif, terjadi perwujudan kembali nilai nilai-nilai keTuhanan itu dari yang sebelumnya Mutlak menjadi ter-relatifisasi oleh subjektifikasi pengertian manusia terhadap nilai-nilai keTuhanan tersebut. Konsekuensinya adalah fragmentasi dan remanifestasi nilai-nilai keTuhanan menjadi kebenaran-kebenaran kecil yang bersifat parsial dan kemudian terpolarisasi oleh arus kehidupan duniawi. Kebenaran-kebenaran parsial tersebut kemudian terlembagakan dalam institusi dan pranata sosial seperti kepercayaan tradisional dan kelompok-kelompok ideologis sampai pada institusionalisasi nilai kebenaran parsial tersebut ke dalam pranata sosial-ideologis yang bernama agama.

Sebagai gambaran, nilai-nilai keTuhanan yang diturunkan dalam dimensi ruang di daerah mesir dan sekitarnya, serta pada dimensi waktu tahun sebelum masehi mewujud dalam ajaran Nabi Musa As dan Kitabnya Taurat. Sebagian besar ditujukan kepada kaum Yahudi di jazirah itu. Selanjutnya, nilai-nilai keTuhanan yang diturunkan dalam dimensi ruang di daerah Yerusalem sekarang, serta pada dimensi waktu diawal-awal abad masehi mewujud dalam bentuk ajaran cinta kasih Nabi Isa As dan dalam Kitabnya Injil. Dan terakhir adalah nilai-nilai keTuhanan yang diturunkan kepada masyarakat arab jahiliyyah dalam dimensi ruang di jazirah arabiyah dan sekitarnya, serta pada dimensi waktu sekitar abad ke-6 masehi, mewujud dalam ajaran Nabi Muhammad Saw dan Kitabnya al-Qur’an. Hal inilah yang ditegaskan dalam al-Qur’an; “Sesungguhnya dahulu manusia itu adalah ummat yang satu, lalu Allah mengutus (kepada mereka) para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan diturunkanNya bersama mereka (para Nabi) itu Kitab Kebenaran…..” (QS.al-Baqaraah:213)

Mengenai perbedaan ajaran para Nabi yang tampak secara lahiriyah, namun inti dan maksudnya adalah sama ini, as-Syaikh AbdurRazzaq al-Qasyani dalam Syarah Fushush al-Hikam, Muhyi ad-Diin Ibn ‘Arabi menjelaskan; “…Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan cara diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan), lalu mengapa para Nabi itu berbeda-beda?. Jawabnya ialah karena perbedaan kesiapan antara berbagai ummat, maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan Tawhid dan cara dalam menempuh jalan itu. Sementara maksud, tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu, seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu (satu)….” Oleh penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa Islam tidak khusus merujuk pada pengertian agama yang di turunkan oleh Allah Swt melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada kelompok manusia tertentu. Namun Islam dimaknai sebagai sistem ajaran menyeluruh dari Tuhan yang merentang dari Adam As hingga Muhammad Saw (QS.al-Baqaraah:136).

Islam, Sikap Ketundukan yang Pasrah

Begitupun pengertian “agama Islam” atau dalam bahasan keagamaan kerap disebut Diinul Islam. Dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an, kata ad-Diin di artikan sebagai agama dan al-Islaam di artikan sebagai bentuk formal agama –syari’at dan kaidah-kaidah teknis-operasional pelaksanaanya- yang di bawa oleh Muhammad Saw. Quraish Shihab menjelaskan bahwa sebenarnya dari tinjauan kebahasaan –bahasa arab, kata ad-Diin berasal dari tiga huruf yaitu dalya’ dan nunDalam kaidah kebahasaan arab, setiap kata yang terbentuk dari rangkaian tiga huruf tersebut merujuk pada pengertian “hubungan dua pihak yang saling berinteraksi, dimana salah satu pihak lebih tinggi kedudukannya di banding pihak lainnya”. Oleh karenanya,hutang dalam bahasa arab di namakan ad-Dayn –tadaayan-tum yang merupakan fi’il mudhari’ dari isim ad-Dayn, lihat misalnya QS.al-Baqaraah:282 yang membahas perkara hutang-piutang-, karena berhutang berarti ada hubungan interaksi antara si pemberi hutang (kedudukannya lebih tinggi) dengan orang yang berhutang. Interaksi antara dua pihak ini, oleh karena adanya kesenjangan kedudukan antara satu pihak terhadap yang lainnya, melahirkan interaksi sikap tunduk dan patuh pihak yang berhutang terhadap ketentuan dan syarat yang diajukan oleh si pemberi hutang. Begitupun dengan ad-Diin (yang dalam bahasa Indonesia kerap diterjemahkan menjadi agama) merupakan hubungan interaksi antara Tuhan (kedudukannya lebih tinggi) dengan manusia sebagai makhluk ciptaanNya. Interaksi tersebut akan melahirkan sikap ketundukan, kepatuhan dan ketaatan oleh makhluk ciptaan –manusia- terhadap Penciptanya, yaitu Tuhan.

Sedangkan al-Islaam, secara etimologis al-Islam berasal dari akar kata salamaa-yusallimu-salaaman yang berarti keselamatan, kepasrahan dan penyerahan diri. Di dalam al-Qur’aan dapat dirujuk bahwa penyebutan Nabi Ibrahim As sebagai seorang Muslim Muslimisim maf’ul dari kata al-Islaam, lihat QS.al-Baqaraah:131, dan ia menyeru kepada umat manusia agar selalu berada dalam keadaan sebagai al-Muslimuun Muslimuun: jamak dari kata Muslim yang juga berakar dari kata al-Islaam– (QS.al-Baqaraah:132).  Begitu pula Nabi-Nabi yang lain, Ya’qub, Ismail dan Ishaq serta Musa As dan Isa As(QS.al-Baqaraah:132 dan 136) . Lalu dengan demikian, apakah dapat di artikan bahwa Ibrahim, Ya’qub, Ismail dan Ishaq serta Musa As dan Isa As saat itu memeluk agama Islam –dalam artian formal-  padahal Muhammad Saw belum di utus? Tentu tidak. Karena kata Muslim dan al-Islaam dalam konteks ayat tersebut di artikan sebagai kepasrahan dan penyerahan diri Ibrahim, Ya’qub, Ismail dan Ishaq serta Musa As dan Isa As pada setiap perintah Tuhan, sehingga layak di sebut Islam dalam arti bahwa para Nabi tersebut membawa ajaran keselamatan bagi manusia dengan jalan kesediaan memasrahkan dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan. Hal inilah yang di tegaskan kembali di dalam al-Qur’an tentang posisi diutusnya Nabi Ibrahim As; “Dan tidaklah Ibrahim itu Yahudi ataupun Nasrani, melainkan dia adalah seseorang yang memiliki sikap kepasrahan yang lurus (hanya kepada Tuhan) (Haniifan Muslimaan)  

Dari sinilah kemudian kata ad-Diin dan al-Islaam bukan sekedar merujuk pada agama formal terlembagakan yang di bawa oleh Muhammad Saw, melainkan di artikan sebagai sebuah sistem nilai menyeluruh (Universal) yang berasal dari Tuhan semesta alam (Rabb al-‘Aalamiin, QS.al-Faatihah:2). Sehingga ayat pada QS.Alii Imraan:19 dapat  dimaknai kembali; “Sesungguhnya sikap interaksi ketundukan (yang benar) terhadap Tuhan adalah sikap penyerahan diri yang menyeluruh –kepasrahan- (pada KebenaranNya).” (QS.Alii Imraan:19)   Begitupun dalam QS.Alii Imraan:85; “Siapa yang mencari sikap interaksi ketundukan (ad-Diin) selain sikap penyerahan diri menyeluruh (kepada Tuhan) (al-Islaam), maka sekali-kali tidak akan diterima (sikap ketundukan itu) darinya, dan di akhirat ia termasuk di antara orang-orang yang rugi.” (QS.Alii Imraan:85)              

Kalimatun Sawa’: Titik Pertemuan

Berangkat dari pengertian-pengertian diatas, akan terlihat titik temu antar-agama, yang secara tidak berbeda mengakui Keesaan (Tunggal), Kebenaran dan Kemutlakan Tuhan dan berupaya secara sungguh-sungguh –jahada– mempraktekkan Kebenaran dari Tuhan seraya tunduk dan pasrah terhadapNya. Persis sebagaimana al-Qur’an menegaskan; Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan (kalimatun sawa’) antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dantidak kita persekutukan Dia dengan  sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). (QSAlii Imraan: 64)

Penutup: Menegaskan Ajaran Muhammad Saw

Nurcholish Madjid dengan mengutip keterangan dalam Kitab Tahafut al-Tahafut mengatakan, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa meskipun pada esensinya seluruh agama itu semua sama, namun manusia pada zaman tertentu memiliki kewajiban moral untuk memilih tingkat perkembangannya yang paling akhir saat itu (mutaakhir).   Dan perkembangan terakhir dari agama-agama itu adalah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw . Namun dengan tetap dalam kesadaran akan kesatuan asal agama-agama, kita diwajibkan untuk beriman kepada semua Nabi dan tidak membeda-bedakannya, beriman kepada Kitab-Kitabnya (QS.al-Baqaraah:285) seraya tunduk pasrah kepadaNya (QS. al-Baqaraah:136)  

*Wallahu a’lam bi ash-Showwab*

*Tulisan ini saya buat untuk memberikan pengantar diskusi pada sebuah organisasi mahasiswa islam sekitar akhir tahun 2011 lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 November 2013 by in Tak Berkategori.

My Instagram

three of us... there always been a hope at the end of the aisle....

Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

My Tweet @romie_zf

Mutiara Islam

Sesungguhnya Allah S.w.t mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam sebuah barisan (yang teratur), bagai sebuah bangunan yang kokoh. (Q.S. As-Shaff : 04)

Mutiara Kata

Kebaikan yang tersusun secara teratur dan sistematis akan mampu mengalahkan kejahatan sebesar apapun meskipun di atur secara sistematis pula (Imam Ali bin Abi Thalib R.A)
%d blogger menyukai ini: