Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

Seputar Persoalan Ucapan “Selamat”

selamat

Beberapa saat yang telah lewat, saya sempat berbagi cerita dan pengetahuan dengan beberapa teman mengenai kontroversi yang menjadi kelaziman di kalangan umat Islam menjelang akhir tahun masehi, yaitu perayaan Natal oleh saudara satu agama Ibrahimi kita, umat Kristiani. Dalam perbincangan yang menarik itu, teman-teman saya merasa terganggu jika ada umat Islam yang mengaku mengikuti ajaran Allah dan RasulNya Muhammad Saw, namun tetap mengakui ajaran lain diluar Islam dengan jalan mengucapkan “selamat” kepada perayaan hari besar agama diluar Islam.

Ini memang merupakan pandangan kelaziman mayoritas umat Islam, jika kita mengucapkan “selamat” kepada perayaan agama di luar Islam –tidak saja terkhusus pada Natal-, artinya kita telah mengakui kebenaran lain diluar kebenaran Islam. Maka itu berarti ada penyimpangan, atau bahkan dikatakan telah keluar dari Islam. Bahkan, hal ini di dukung oleh fatwa MUI yang mengharamkan hal tersebut. Hemat saya, terlalu jauh mengambil keputusan semacam itu, tidak saja akan mengancam kehidupan antar-umat beragama kita di Indonesia yang terkenal begitu santun dan toleran, namun juga lebih dalam akan turut mengoyak secara perlahan sendi-sendi dasar keyakinan kita sebagai seorang Muslim.

Pertama yang harus kita fahami bahwa sikap untuk mengucapkan “selamat”  kepada perayaan hari besar agama lain diluar Islam merupakan perkara ikhtilafiyyah. Perkara ikhtilafiyyah merupakan suatu keadaan dimana para ahli hukum Islam, baik itu para sarjana muslim dan ulama’-ulama’ yang memiliki otoritas tertinggi dibidangnya, masih memiliki perselisihan pendapat baik dari sisi ketetapan maupun legitimasi syara’ untuk menetapkan boleh atau tidaknya suatu perkara dalam hukum Islam. Sebagai contohnya adalah mengenai hal yang kita bahas ini, yakni boleh tidaknya mengucapkan selamat natal kepada saudara kita kaum kristiani. Dalam tradisi klasik fiqh Islam dikenal istilah Ijtihad yang berfungsi untuk menetapkan hukum syara’ dalam berbagai bidang, termasuk –sebagaimana penjelasan Ibn Taymiyyah– dalam bidang teologi dan tasawwuf. Ijtihad diperlukan dikarenakan cakupan ajaran Islam yang luas dan dimensional, termasuk diantaranya mengenai perkara hubungan dengan umat beragama di luar Islam. Karena itulah ajaran Islam perlu diartikulasikan secara spesifik oleh kita, sebagaimana Ibnu Rusyd dalam kitabnya Fashl al-Maqal: fii maa baina al-Hikmah wa asy-Syari’ah al-Ittishal menegaskan, “…Jika ia (ajaran Islam) jelas maknanya maka tidak ada perkataan (penafsiran) padanya, dan jika ia samar pengertiannya, maka diperlukan peran akal untuk menafsirkannya..”. Demikian pula halnya perkara pengucapan selamat natal, diperlukan upaya pemahaman secara mendalam mengenai kebolehannya untuk diucapkan. Konsekuensinya tentu akan berdampak pada sikap kita dalam menyikapi hal ini. Namun demikian sikap untuk memilih berijtihad tentang perkara yang penuh ikhtilafiyyah para ulama’ ini, digaransi oleh Rasul,

“Jika seseorang berijtihad lantas ijtihadnya benar, maka baginya dua pahala disisi Tuhannya. dan jika ijtihadnya keliru, maka baginya satu pahala di sisi Tuhannya” (HR. Bukhari-Muslim)

Jadi, jikapun pandangan kita tentang boleh atau tidaknya mengucapkan “selamat” kepada perayaan hari besar agama lain diluar Islam merupakan pandangan yang keliru, maka hal itu tetap merupakan hasil ijtihad yang bernilai dimata Allah Swt (satu pahala). Apatah lagi jika benar, maka bernilai dua pahala dan kitapun mendapat dampak positif berupa kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat antar pemeluk agama di Indonesia ini.

Hal kedua yang perlu kita pahami bahwa Isa al-Masiih  –dalam bahasa romawi dan inggris, Jesus Christ– merupakan salah satu dari utusan Tuhan (Rasul) yang harus kita imani sebagai bagian tak terpisahkan dari Iman kita sebagai seorang Muslim. Keimanan sebagai seorang Muslim menyangkut keimanannya pada seluruh para Nabi dari Adam As, Ibrahim As, Musa As, Isa As hingga Muhammad Saw (QS. al-Baqarah:136) serta tidak membeda-bedakan antar semua Rasul itu (QS.al-Baqaraah:285) –artinya, jika kita merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw, maka hal yang sama juga harus kita perlakukan bagi setiap kelahiran Nabi yang lain agar tidak membeda-bedakan kedudukannya, termasuk Isa al-Masiih. Oleh karena itu segala bentuk perintah dan suruhan yang diajarkan oleh nabi-nabi tersebut merupakan kebaikan dan untuk kemaslahatan manusia. Salah satu dari perintah dan bimbingan Nabi Isa al-Masiih adalah seruannya yang agung tentang dirinya, yaitu;

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ibn Maryam), pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS.Maryaam:33)

Dari keterangan yang jelas oleh Allah Swt dalam al-Qur’an itu tampak bahwa Nabi Isa al-Masiih juga memohon keselamatan (al-Salaam) di hari ketika beliau dilahirkan (Natality), dimatikan (Mortality) dan hari Kebangkitannya. Oleh karena itu, diluar konteks perbedaan pandangan tentang status Isa al-Masiih (bagian dari “Tuhan” atau hanya seorang Rasul) serta apakah perayaan Natal itu benar jatuh pada waktu yang tepat (25 Desember) dengan kelahiran beliau, maka peristiwa Natal ini dapat dipandang sebagai bagian dari upaya umat Islam untuk menegakkan Kalimah Allah Swt dalam QS.Maryaam:33 tersebut, meskipun umat Islam tidak memiliki cara atau “syari’at” tertentu dalam merayakannya. Dan yang perlu ditekankan bahwa pengucapan dan perayaan kelahiran Nabi Isa al-Masiih ini tidak dikhususkan kepada kalangan umat kristiani pada saat perayaan Natal saja, namun kepada kelompok manapun yang mengimani Nabi Isa al-Masiih. Hal ini sebagaimana tradisi perayaan Maulid ar-Rasuul Muhammad Saw yang kerap dipraktekkan mayoritas umat Islam tiap-tiap 12 Rabi’ul Awwal tahun Hijriah, padahal kita fahami bahwa kelahiran Muhammad Saw tersebut juga masih menjadi perkara Ikhtilafiyyah di kalangan ulama’ –sebagaimana diwakili oleh perbedaan pandangan antara asy-Syaikh Shofiy al-Rahman al-Mubarakfury (12 Rabi’ul Awwal), asy-Syaikh Ibnu Utsaimin (9 Rabi’ul Awwal) dan Mufassir Ibn Katsir (2 Rabi’ul Awwal) -, serta tidak ditemukan dasar syara’ yang kuat di dalam al-Qur’an untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad ini –bandingkan dengan perintah dalam QS.Maryaam:33 tersebut mengenai kelahiran Nabi Isa al-Masiih.

Hal ketiga yang perlu kita cermati adalah bahwa pengucapan “selamat” kepada perayaan hari besar keagamaan di luar Islam harus dipandang sebagai sebuah upaya untuk menjaga hubungan horizontal antarsesama manusia (al-amal al-Shalihaat), terutama antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Hal ini dikarenakan menjaga hubungan horizontal antarsesama manusia (al-amal al-Shalihaat) merupakan akhlak, yang menjadi tumpuan dasar yang kedua tentang  keyakinan kita sebagai seorang Muslim setelah Iman kepada Allah Swt. Di dalam al-Qur’an begitu banyak ayat yang secara tidak terpisah mengaitkan antara Iman (al-ladziina aamanuu) dan amal pada sesama (wa amal al-Shalihaat). Nabi Muhammad Saw pun mengingatkan bahwa menjaga hubungan baik antarsesama manusia, lebih-lebih antar pemeluk keyakinan yang berbeda merupakan prasyarat dan indikator dari Iman Muslim kepada Allah dan hari Akhir;

“…Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan (manjaga hubungan baik) orang-orang di lingkungan terdekatnya…” (HR. Muslim)

Yang terakhir adalah, dengan sembari memperkuat keyakinan kita tentang ajaran Islam yang menyeluruh (QS. al-Anbiya:107 dan QS.as-Saba:28) yaitu sikap ketundukan yang memasrahkan diri sepenuhnya pada Kebenaran Tuhan (QS.Alii Imraan:19 dan QS.Alii Imraan:85), kita harus memandang pengucapan “selamat” kepada perayaan hari besar keagamaan di luar Islam sebagai keharusan sosiologis demi terjaganya kerukunan sosial kehidupan antar sesama makhluk Tuhan di dunia ini. Sebaliknya kita tidak terlalu tendensional untuk menjadikannya sebagai perdebatan dan keharusan teologis, yang membawa pada keadaan berhadap-hadapan mengenai keabsahan Iman masing-masing keyakinan.

Finally;

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan (kalimatun sawa’) antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan  sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). (QS. Alii Imraan: 64)

*Wallahu a’lam bi ash-Showwab*

 

4 comments on “Seputar Persoalan Ucapan “Selamat”

  1. A. Haris
    1 April 2012

    mantabs dan 1000% agree

    • rhomiezf
      1 April 2012

      tengkyuu bapak berkenan mampirr., hehe..

  2. Shan's
    18 Desember 2012

    Menjawab kekeliruan orang diluar sana yang tidak mengerti hal ini…..

  3. 28081988
    25 Desember 2012

    emang tanggal 25 desember ydah pasti kelahiran nabi isa?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 Maret 2012 by in Peristiwa, Sosial, Tulisanku.

My Instagram

three of us... there always been a hope at the end of the aisle....

Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

My Tweet @romie_zf

Mutiara Islam

Sesungguhnya Allah S.w.t mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam sebuah barisan (yang teratur), bagai sebuah bangunan yang kokoh. (Q.S. As-Shaff : 04)

Mutiara Kata

Kebaikan yang tersusun secara teratur dan sistematis akan mampu mengalahkan kejahatan sebesar apapun meskipun di atur secara sistematis pula (Imam Ali bin Abi Thalib R.A)
%d blogger menyukai ini: