Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

Keberagaman Penafsiran dalam Islam

qs

Pemberitaan terbaru mengenai penolakan komunitas lokal masyarakat dayak di Kalimantan Tengah mengenai kehadiran organisasi Front Pembela Islam (FPI), tidaklah mengejutkan. Jika hendak melihat kembali sepak terjang organisasi yang sangat konsen terhadap penegakan syari’at Islam di Indonesia ini, akan terlintas aksi-aksi represif yang menggambarkan tipe pemahaman mereka terhadap ajaran Islam, yang cenderung literalistik. Sikap masyarakat dayak di Kalimantan Tengah ini barangkali berangkat dari kekhawatiran mereka akan aktifitas FPI yang kemungkinan akan menggeser tradisi dan budaya mereka, yang bisa jadi dianggap FPI bertentangan dengan nilai-nilai syari’at Islam. Sehingga dengan demikian, dapat saja terjadi aksi “penertiban” oleh FPI yang berujung pada tereleminasinya pijakan tradisi yang sedari dahulu diwariskan oleh nenek moyang kaum adat dayak di Kalimantan ini.

Gerakan “Syari’at” dalam Islam dan akar Doktrinal-Historisnya

Tidak berbeda dengan hal yang disebutkan diatas, organisasi-organisasi yang memiliki konsen gerakan serupa dengan FPI pun banyak ditemukan dalam alam demokrasi Indonesia. Biasanya organisasi semacam ini mengusung tema diberlakukannya syariat Islam dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat, sembari menolak kemungkinan diterapkannya sistem hukum dan falsafah diluar Islam, termasuk dasar negara dan falsafah kebangsaan Pancasila. Pemahaman Islam semacam ini berangkat dari pengertian akan kemencakupan ajaran Islam yang mengatur seluruh aktifitas kehidupan manusia, sembari melupakan keniscayaan keberagaman penafsiran dalam mengelaborasi ajaran-ajaran yang “maha-mencakup” itu.

Jika hendak melacak akar historis dari fenomena gerakan islam seperti ini, maka dapat dirujuk pada aktifitas kelompok khawarij yang dapat dikatakan sebagai pemula dari gerakan-gerakan serupa ini. Kelompok khawarij merupakan kelompok sempalan dari pendukung Ali ibn Abi Thalib yang menganggap perjanjian damai yang dilakukan Ali dengan Mu’awiyah pada peristiwa Shiffin merupakan dosa besar -sebagaimana QS.al-Hujuraat:9. Kelompok ini beralasan bahwa golongan Mu’awiyah tidak selayaknya di beri tempat untuk perdamaian karena telah melakukan makar terhadap pemerintahan Khalifah Ali yang sah.

Tidak kurang dari penegasan-penegasan di dalam kitab suci  -QS. al-Anfaal: 39-40 dan QS. Al-Maidah ayat ke 44- dijadikan dasar pijakan teologis untuk menuduh kelompok Ali (Syi’ah Ali) sebagai kelompok yang telah keluar dan menyimpang (Kaafiir) dari ajaran Islam, serta tidak mematuhi dan melaksanakan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh syara’wa man lam yahkum bimaa anzala alLahu faa-ulaaa-ikaa hum al-kaafiruun. Dalam menanggapi pandangan kaum khawarij yang mengkafirkannya ini, menurut riwayat, pada saat itu Ali ibn Abi Thalib berkata, “Kitab Suci (al-Qur’an) tidak membawa makna di atas pundaknya, Ia membutuhkan pembaca untuk menangkap maknanya. Dan pembaca itu adalah manusia”.

Keniscayaan Keberagaman Penafsiran ajaran Islam

            Pernyataan Khalifah Ali yang diriwayatkan itu selain menegaskan tentang terbukanya kebebasan manusia –dalam pengertian yang bertanggungjawab- untuk memberikan elaborasi-elaborasi penafsiran (Ijtihaad) yang sesuai dengan semangat spasio-temporal yang dihadapi ummat Islam, pun menegaskan keniscayaan keberagaman penafsiran ajaran Islam didalam kitab suci. Hal ini membawa pada pengertian bahwa, akan sangat banyak kemungkinan penafsiran-penafsiran mengenai implementasi syari’at dalam dimensi ruang dan waktu tertentu. Oleh karenanya, sikap yang cenderung memandang penafsiran syari’at secara monolitik dan tunggal, bukan saja mengkerdilkan semangat kebebasan manusia dalam memahami ajaran Islam, namun juga menyempitkan pengertian “kemaha-mencakupan” kitab suci.

Dalam kerangka kebolehan manusia memberikan elaborasi pengertian (Ijtihaad) kitab suci ini Ibnu Rusyd, misalnya menjelaskan bahwa, “fa in kana muwafiqan fa la qawla hunalika, wa idza kana mukhalifan thuliba ta’wiluhu”, (jika di sana –alQur’an- tak ada pertentangan antara wahyu dan akal maka tak ada yang perlu ditafsirkan. Tapi, jika ada pertentangan, maka wahyu haruslah ditafsirkan)(Fashl al-Maqal, h. 97).

Syaikh al-Azhar Muhammad Abduh tidak kurang pula menegaskan semangat kemaha-mencakupan kitab suci harus terus dikontektualisasikan dengan dimensi spasio-temporal yang dihadapi ummat, “Bacalah terus al-Qur’an dan pahamilah segala perintah dan larangannya serta nasihat-nasihat dan pelbagai ajarannya, sebagaimana ia dahulu dibacakan kepada orang-orang beriman dan orang-orang kafir masa turunnya wahyu, dan juga bersikaplah hati-hati dalam melihat dan menghadapi berbagai macam kitab tafsir, kecuali sekadar untuk memahami maksud lafal yang sulit (musykil), dan berpeganglah pada apa yang diturunkan al-Qur’an sendiri.”  Bacalah, pahamilah dan bersikaplah, tiga kata kerja bentuk perintah ini  menunjukkan bahwa Abduh berusaha untuk memberikan makna pentingnya berusaha dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam secara mandiri, atau dengan bahasa lain yang ditegaskan oleh Munawir Syadzali adalah bagi yang mampu memahami kitab suci, agar membuat tafsirnya sendiri.

Dalam banyak riwayat, juga dikisahkan mengenai pandangan-pandangan (Ijtihaad) para sahabat Rasul mengenai suatu permasalahan aktual di zaman itu. Pandangan-pandangan para sahabat itu tidak jarang bertentangan dengan pendapat Rasul, dan bahkan terkadang wahyu datang membenarkan pendapat sahabat daripada pendapat Rasul sendiri. Dalam konteks ini, Umar ibn Khattab memiliki keistimewaan dibanding sahabat yang lain, karena pendapatnya seringkali sesuai dengan wahyu yang turun, satu hal yang kemudian disebut oleh para ulama’ sebagai “kesesuaian-kesesuaian umar” (muwafaqqat umar). Kisah-kisah ijtihaad Umar ini banyak dikumpulkan oleh Abu Nu’aim dalam karyanya Hilyat al-Auliyaa.

Oleh karena Islam memberikan porsi yang begitu besar bagi ummat Islam dalam memberikan elaborasi-elaborasi penafsiran (Ijtihaad) kitab suci, maka upaya penyeragaman penafsiran melalui gerakan syariatisasi oleh sementara kelompok Islam di Indonesia, samasekali tidak menemukan relevansinya dengan semangat kebebasan dan kemaha-mencakupan kitab suci. Kemaha-mencakupan kitab suci bukanlah keadaan taken-for-granted yang dapat diartikan bahwa kitab suci akan sesuai dengan semangat zaman (shalih li kulli zaman), tanpa samasekali ada usaha untuk memberikan pengertian-pengertian yang baru terhadapnya. Namun, kemaha-mencakupan kitab suci akan ditemukan titik pemaknaannya jika diiringi dengan upaya terus-menerus untuk memberikan tafsiran yang relevan sesuai dengan tantangan waktu dan tempat yang dihadapi ummat.

Keberagaman Penafsiran: Banyak pintu menuju Tuhan

Kesadaran akan beragamnya tantangan ummat dalam setiap dimensi ruang dan waktu yang melingkupi, membawa pada sikap yang seharusnya faham akan adanya implementasi syari’at yang beraneka bentuk dalam kehidupan ummat Islam. Sehingga keadaan seperti ini, sepatutnya mampu mengeliminasi sikap yang memiliki kecenderungan untuk memonopoli penafsiran dan penerapan syari’at dalam kehidupan ummat.

Melalui ungkapan metaforik Nabi Ya’kub kepada anak-anaknya ketika hendak mencari Yusuf, Tuhan memberikan pesan tersirat kepada manusia agar mampu melihat Kebenaran dalam wajahnya yang majemuk, tidak Tunggal. Karena sejatinya Kebenaran akan ditemukan, bukan dengan sikap yang tiranik dan klaim kebenaran sepihak. Namun Ia akan hadir dalam ketulusan dan kesediaan guna menyadari beragamnya pengertian Kebenaran yang ditangkap manusia oleh karena keterbatasan yang dimilikinya. Kebenaran sejati pada akhirnya akan menjadi otoritas penuh tergantung pada keputusan Tuhan di akhir kehidupan.

“Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu masuk dari satu pintu, dan masuklah dari pintu-pintu yang berbeda-beda; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah Aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”. (QS:12:67)

*Wa alLahu a’lam bi ash-Shawwab*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 Maret 2012 by in Peristiwa, Sosial, Tulisanku.

My Instagram

three of us... there always been a hope at the end of the aisle....

Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

My Tweet @romie_zf

Mutiara Islam

Sesungguhnya Allah S.w.t mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam sebuah barisan (yang teratur), bagai sebuah bangunan yang kokoh. (Q.S. As-Shaff : 04)

Mutiara Kata

Kebaikan yang tersusun secara teratur dan sistematis akan mampu mengalahkan kejahatan sebesar apapun meskipun di atur secara sistematis pula (Imam Ali bin Abi Thalib R.A)
%d blogger menyukai ini: