Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

Buku The God Delusion: Khayalan tentang Tuhan

God delution

“Ketika seseorang yang menderita “delusion” (khayalan,red), maka itu dapat disebut suatu kegilaan.

Ketika banyak orang yang menderita “delusion” maka itu disebut Agama.” (R.M. Pirsig)

Baru-baru ini saya membaca buku yang sangat bagus. Temanya lumayan berat sich, tentang wacana anti-Tuhan atau Atheisme yang di tulis oleh kritikus agama terbesar abad ini, Richard Dawkins. Berlatar belakang sebagai seorang ilmuwan Biologi beraliran Darwinian, beliau mengkritik habis-habisan nalar agama-agama besar dunia, dan sekaligus meneguhkan kedudukan sains (ilmu pengetahuan) sebagai satu-satunya dasar keyakinan yang rasional, masuk akal. Konsekuensi dari itu, dawkins menyebut agama sebagai delusion, semacam khayalan manusia tentang keberadaan Tuhan yang sebenarnya tidak ada.

Om Richard Dawkins ini merupakan salah satu dari empat penunggang kuda (the four horsemen) Atheisme Baru di abad 21 bersama Sam Harris, Daniel Dennett, dan Christopher Hitchens. Ateisme Baru memandang bahwa agama tidak hanya harus ditoleransi, tetapi juga dijawab, dikritik, dan dibongkar dengan argumen rasional saat pengaruhnya muncul.

Untuk info saja, BUku dengan Judul The God Delusion yang terbit pada 2006 di Inggris ini, Pada Januari 2010, telah terjual sebanyak lebih dari dua juta copy.Buku ini telah mengundang berbagai komentar, dan banyak buku ditulis sebagai tanggapan. Ini menunjukkan kelas buku ini.

Kalo di tanya buat apa baca beginian? Saya bisa menjawab;

pertama, untuk kebutuhan saya dalam melatih objektifitas dalam berfikir.
kedua, agar mampu melihat kemungkinan lain di luar dimensi keyakinan kita.
ketiga, mencoba respect terhadap berbagai macam gagasan.
keempat, biar kita jangan terlalu keras kepala dengan pendapat sendiri. (biasanya kaum fundamentalis nih, yang begini)
terakhir, itung-itung buat refreshing otak, hehe….

Kudu dibaca deh, buat yang berencana tinggal landas dari kepercayaan agama, hehe… Berani???
Mau tau isinya? Here we goooo…!!!!

Book’s Contents of The God Delusion, Richard Dawkins:
Chapter-1 A deeply religious non-believer
Chapter-2 The God Hypothesis
Chapter-3 Arguments for God’s existence
Chapter-4 Why there almost certainly is no God
Chapter-5 The roots of religion
Chapter-6 The roots of morality: why are we good?
Chapter-7 The ‘Good’ Book and the changing moral Zeitgeist
Chapter-8 What’s wrong with religion? Why be so hostile?
Chapter-9 Childhood, abuse and the escape from religion
Chapter-10 A much needed gap?

Biar lebih lengkap, nih gw kasi pengantar langsung dari penulisnya, Om Dawkins, hehe..
Oohh iya, ini buku gw baca versi englishnya lho, tapi karena gw baik hati, gw translate nih pengantarnyaa…

Pengantar
Sebagai seorang anak kecil, dahulu isteri saya tidak menyukai sekolahnya dan dia ingin agar bisa keluar dari sekolahnya itu. Bertahun-tahun kemudian, ketika usianya menginjak duapuluhanan tahun, dia mengungkapkan kenyataan yang tidak membahagiakan ini (ingin keluar dari sekolah) kepada orang tuanya, dan ibunya terkejut, dan mengatakan: ”Tetapi sayang, kenapa kamu sebelumnya tidak datang dan menceritakannya kepada kami?”. Jawaban Lalla (sang isteri,red) tentang pertanyaan tersebut menjadi poin saya untuk kali ini, yaitu:

“I didn’t know I could.” (arti: “Tetapi aku tidak tau apakah aku mampu untuk mengatakannya (bahwa berkeinginan untuk keluar dari sekolah).”)

“I didn’t know I could.” (arti: Aku tidak tau apakah aku mampu untuk mengatakannya.)

Saya mengira -bahkan saya meyakini- bahwa banyak orang-orang di dunia ini yang telah dididik dalam banyak keyakinan agama masing-masing, dan mereka merasa tidak bahagia dalam kepemelukan terhadap agamanya itu, tidak mempercayai agamanya, atau khawatir akan tindakan kejahatan yang terjadi atas nama agama; orang-orang yang diam-diam secara tersembunyi berkeinginan untuk meninggalkan agama orangtua mereka dan berharap bahwa mereka bisa untuk melakukan itu, hanya saja mereka belum menyadari bahwa itu merupakan suatu pilihan. Jika anda termasuk salah satu dari mereka, buku ini ditulis untuk anda. Buku ini ditulis, dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran kita -kesadaran tentang kenyataan bahwa untuk menjadi seseorang yang tak berTuhan (Atheist) adalah suatu cita-cita yang realistis, suatu keputusan yang berani dan sangat baik. Anda bisa menjadi seorang Atheist yang bahagia, adil, bermoral, dan dengan sangat beralasan. Ini adalah poin pertama yang menjadi “pesan-penyadaran” saya kepada anda. Saya juga ingin membangkitkan kesadaran anda dengan tiga cara yang lain, yang akan saya jelaskan selanjutnya.

Pada bulan Januari 2006 saya mempersembahkan sebuah film dokumenter dalam dua bagian, yang disiarkan di televisi inggris (Channel Four) dengan judul Root of All Evil?. Dari awal, saya tidak suka dengan judul itu. Agama bukanlah penyebab dari semua kejahatan/malapetaka, tapi tidak terkecuali untuk hal lain, agama menjadi akar persoalan dari segala sesuatu. Tetapi saya dihibur dengan iklan Channel Four di surat kabar nasional. Yaitu sebuah gambar di gedung pencakar langit kota manhattan dengan tulisan ‘Bayangkan suatu dunia tanpa agama.’ Apa yang menjadi penghubung?, menara kembar WTC dengan jelas memperlihatkan tulisan itu. Bayangkanlah kata John Lennon, suatu dunia tanpa agama. Bayangkanlah dunia tanpa bom bunuh diri, tanpa tragedi serangan 11 september , tidak ada tragedi 7/7, tidak ada perang salib, tidak ada tragedi witch-hunts, tidak ada Gunpowder plot, tidak ada diskriminasi suku indian, tidak ada peperangan antara Israel dan Palestina, tidak ada pembantaian Muslim Serbia, tidak ada penyiksaan Yahudi oleh para pembantai kristen (Holocaust,red), tidak ada ‘troubles’ di Irlandia bagian utara, tidak ada ‘honour killings’ (seperti mati syahid dalam islam,red), tidak ada orang-orang yang mudah tertipu dengan uang mereka (“Tuhan ingin anda untuk memberi hingga anda menderita”). Bayangkan tidak ada kelompok Taliban yang meledakkan patung jaman kuno, tidak ada publik yang saling menuduh kesesatan pada yang lain (Pengkafiran,red), tidak ada cambukan pada tubuh wanita karena kesalahannya yang telah mempertunjukkan bagian tubuhnya (membuka aurat,red). Bersamaan dengan itu, suatu ketika rekan kerja saya, Desmond Morris memberitahu saya bahwa lagu John Lennon kadang-kadang dinyanyikan di Amerika dengan kalimat ‘and no religion too’ yang telah diedit. Bahkan, salah satu versi lagu tersebut telah dengan lancang diubah menjadi ‘and one religion too’.

Barangkali anda berfikir sikap agnostik (meragukan adanya Tuhan,red) itu adalah suatu posisi yang pantas, tetapi atheisme (anti-Tuhan) itu sama saja, sama dogmatisnya seperti kepercayaan terhadap agama? Jika demikian, saya berharap Bab 2 akan merubah pikiran anda, dengan menunjukkan kepada anda bahwa ‘Hipotesis tentang Tuhan’ adalah suatu hipotesis ilmiah tentang alam semesta, yang harus diteliti se-skeptis seperti pada penelitian lainnya. Barangkali anda telah diajarkan bahwa para ahli filsafat dan ahli ilmu agama sudah mengemukakan pertimbangan yang baik untuk percaya terhadap Tuhan. Jika anda berpikir demikian, anda sebaiknya mengikuti Bab 3 tentang ‘Argumentasi keberadaan Tuhan’- argumentasi ini ternyata terbukti secara mengejutkan, sangat lemah. Barangkali anda berpikir bahwa sudah sangat jelas, Tuhan haruslah ada. Jika tidak, bagaimana mungkin tanpa Tuhan, dunia ini bisa menjadi ada?. Bagaimana mungkin tanpa Tuhan, bisa terjadi kehidupan, dengan segala keanekaragamannya yang sangat kaya, dengan tiap-tiap jenis yang terlihat secara hebat, seolah-olah dirancang oleh sesuatu (Tuhan,red)? Jika anda berfikir demikian, Saya berharap anda akan memperoleh pencerahan dari Bab 4, dengan judul ‘Mengapa hampir bisa dipastikan tidak ada Tuhan’. Alih-alih mencari perancang, ilusi tentang rancangan kehidupan di dunia ini dapat diterangkan dengan hukum ekonomi dan dengan teori seleksi alam Darwinian. Dan, saat teori seleksi alam sangat terbatas untuk menjelaskan dunia yang hidup ini, maka akan membangkitkan kesadaran kita terhadap kemungkinan penjelasan yang komparatif mengenai teori “keran” yang dapat menopang pemahaman kita menyangkut alam semesta. Kekuatan teori “keran”, yaitu seleksi alam merupakan poin kedua dari empat pesan-penyadaran yang saya sampaikan.

Barangkali anda berpikir tentang keharusan adanya Tuhan atau tuhan-tuhan, sebab ahli antropologi dan sejarawan melaporkan bahwa para penganut agama selalu ada dan mendominasi sepanjang sejarah peradaban manusia. Jika anda menemukan bahwa hal ini sangat meyakinkan, silahkan membaca Bab 5, tentang ‘Akar-akar keyakinan agama’, yang menjelaskan mengapa kepercayaan (Tuhan,red) selau dapat ditemui di berbagai tempat di dunia ini. Atau apakah anda berpikir kepercayaan agama itu diperlukan bagi kita untuk menuntun moralitas? Bukankah kita memerlukan Tuhan untuk menjadi baik? Silahkan baca Bab 6 dan 7 untuk melihat mengapa hal ini tidak seperti yang kita pikirkan. Apakah anda masih melihat sesuatu yang baik dalam agama untuk memberikan kebaikan bagi dunia, sekalipun anda tidak beriman terhadap hal itu? Bab 8 akan mengajak anda untuk memikirkan bagaimana agama tidak menjadi sesuatu yang baik bagi dunia.

Jika anda merasakan terjerat dalam agama pada masa kanak-kanak, hal ini akan menjadi pertanyaan yang berharga bagi diri anda, bagaimana ini bisa terjadi. Jawaban pada umumnya adalah indoktrinasi yang terjadi di masa kanak-kanak anda. Jika anda menjadi sangat religius , hal itu sangat mungkin bahwa agama anda adalah warisan orang tua anda. Jika anda dilahirkan di Arkansas dan berpikir ajaran Kekristenan adalah benar dan Islam salah, maka anda akan berfikir sebaliknya jika anda dilahirkan di Afghanistan, anda menjadi korban indoktrinasi di masa kanak-kanak anda.

Keseluruhan permasalahan agama dan masa kanak-kanak menjadi pokok bahasan Bab 9, yang juga meliputi pesan-penyadaran ketiga saya. Sama halnya seperti pejuang hak wanita (feminist) tidak dapat menerima, ketika mereka mendengar kata “He” bukannya “He or She”, atau ‘ Man’ bukannya ‘Human’ (sensitifitas gender dalam kaidah bahasa untuk kata ganti orang,red), saya ingin agar semua orang juga tersentak ketika kita mendengar suatu ungkapan seperti “anak katolik” atau “anak islam”. Jika anda mendengar seseorang berbicara tentang ”anak katolik”, hentikan mereka dan beritahulah dengan sopan bahwa anak-anak masih terlalu muda untuk menentukan agama mereka, sama halnya mereka masih terlalu muda untuk menentukan posisi mereka dalam perdebatan masalah-masalah ekonomi dan politik. Oleh karena tujuan saya adalah untuk membangkitkan kesadaran kita, maka saya tidak akan segan-segan untuk membahas hal semacam ini dalam Kata pengantar, seperti halnya yang juga saya tulis dalam Bab 9. Jika anda tidak mampu untuk terus mengatakannya, maka saya akan terus mengatakannya. Saya tegaskan bahwa tidak ada istilah “anak muslim”, tapi yang ada adalah seorang anak dari orang tua yang muslim. Karena, anak-anak masih terlalu muda untuk mengetahui apakah dia muslim atau tidak. Sama halnya, tidak ada istilah “anak kristen”.

Bab 1 dan 10 buku ini menjelaskan, dengan cara berbeda, bagaimana kita dapat merumuskan pemahaman tentang dunia ini -sembari untuk tidak selalu mengait-ngaitkannya dengan agama- dapat mendatangkan ide inspiratif bahwa agama secara historis telah menguasai dunia.

Pesan-penyadaran saya yang ke empat adalah kebanggan untuk menjadi seorang Atheist. Dengan menjadi Atheist, tidak perlu ada sesuatu yang anda bantah atau anda sesalkan. Sebaliknya, ini adalah sesuatu yang seharusnya anda banggakan, berjalan dengan wajah tegak kedepan, karena pilihan untuk menjadi Atheist merupakan indikasi bagi orang yang memiliki kebebasan berfikir dan, tentu saja, berfikiran sehat. Ada banyak orang-orang menyadari dari nurani terdalam mereka, bahwa mereka sebenarnya adalah seorang Atheist, tetapi mereka takut untuk mengatakannya kepada keluarga mereka atau bahkan, bagi beberapa orang, mereka takut untuk menerima kenyataan itu bagi diri mereka sendiri. Hal ini sebagian (besar) disebabkan oleh kata “Atheist” yang sejak dulu dikenal sangat menakutkan dan mengerikan. Bab 9 mengutip kisah komik dramatis komedian Julia Sweeney tentang penemuan orangtuanya, ketika membaca surat kabar, dan sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang Atheist. Tidak percaya terhadap adanya Tuhan (Atheist) dapat menjadi sebuah pilihan yang dapat diambil!, Atheist..!!!

Saya perlu untuk mengatakan pada para pembaca di Amerika, khususnya pada poin ini, religiusitas (semangat beragama,red) yang terjadi di Amerika saat ini menunjukkan tren yang sangat luar biasa. Seorang pengacara, Wendy Kaminer sangat berlebihan ketika mengatakan bahwa memperolok agama merupakan suatu tindakan yang penuh resiko, sama seperti ketika anda membakar bendera Amerika di markas tentara Amerika.1 Menjadi seorang Atheist saat ini di Amerika sama seperti ketika anda menjadi seorang Homoseksual pada 50 tahun yang lalu. Dewasa ini, setelah terjadinya gerakan Gay Pride, Homoseksualitas telah dimungkinkan di Amerika, meskipun masih tidak mudah bagi kaum homoseksual untuk dipilih menduduki jabatan-jabatan publik. Suatu polling dilaksanakan oleh Gallup Poll pada tahun 1999, masyarakat Amerika ditanya apakah mereka akan memilih alternatif calon yang berkualifikasi, dari figur ; perempuan (95 persen akan memilih perempuan), seorang yang beragama Katolik Roma ( 94 per sen), Yahudi (92 persen), orang kulit hitam ( 92 per sen), seseorang dari gereja Mormon (79 per sen), homoseks (79 per sen) atau seorang Atheist (49 per sen). Dari polling itu, sangat jelas bahwa jalan perjuangan kita (kaum Atheist,red) masih panjang. Tetapi keberadaan kaum Atheist sebenarnya jauh lebih banyak daripada yang kita sadari, terutama di kalangan kaum elit berpendidikan. Bahkan di Abad ke-19 ini, ketika John Stuart Mill mengatakan: “Dunia akan sangat dikejutkan jika mengetahui bagaimana proporsi yang sangat agung yang terjadi pada alam ini, yang dikatakan oleh banyak teori-teori terkenal dan bahkan oleh teori-teori populer tentang kebijaksanaan (wisdom) dan kebaikan (virtue), sangat skeptis (meragukan) terhadap eksistensi agama.”

Kenyataan ini bahkan sangat benar adanya, tentu saja, saya akan menyajikan bukti mengenai kebenaran tersebut pada Bab 3. Alasan dari banyak orang untuk tidak mengatakan bahwa dirinya Atheist adalah karena kebanyakan dari kita masih merasa segan untuk menunjukkan diri. Harapan saya, buku ini dapat membantu orang-orang untuk bangga menunjukkan dirinya sebagai seorang Atheist. Persis seperti kasus gerakan Gay Pride-nya kaum Gay, semakin banyak orang-orang menunjukkan statusnya, maka semakin mudah bagi yang lain untuk mengikuti. Mungkin nanti akan ada kelompok orang-orang kritis yang akan mengawali gerakan ini.

Polling-polling yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa jumlah Atheist dan Agnostic jauh melebihi jumlah Yahudi religius, dan bahkan jauh melebihi jumlah hampir semua kelompok religius tertentu. Tidak seperti Yahudi, yang terkenal sebagai salah satu dari kelompok yang lobi-lobi politiknya paling efektif di Amerika Serikat, dan kaum Kristen Evangelis, yang memegang kuasa politik sangat besar, kaum Atheist dan agnostik tidaklah terorganisir dan oleh karena itu hampir tidak memiliki pengaruh apa-apa. Tentu saja, mengorganisir kaum Atheist sama halnya seperti menggembalakan kucing, sebab mereka cenderung untuk berpikir bebas dan tidak akan berkompromi terhadap kekuasaan. Tetapi langkah baik pertama yang harus dilakukan adalah membangun komunitas massa untuk menunjukkan eksistensi diri kaum Atheist (show-up), dengan demikian akan memberikan harapan bagi yang lain untuk juga ikut menunjukkan eksistensinya. Sekalipun kucing-kucing itu tidak bisa digembalakan, namun kucing-kucing dalam jumlah yang cukup, dapat membuat banyak suara gaduh dan mereka tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kata “delusion” (arti: hayalan,red) pada judul buku ini telah membuat gelisah beberapa psikiater yang sering menggunakan kata “delusion” sebagai istilah teknis dalam ilmu kejiwaan. Tiga diantaranya mengusulkan kepada saya suatu istilah teknis khusus untuk fenomena “religius delusion”, yaitu “relusion”.2 Barangkali itu sangat cocok. Tetapi saya masih merasa pas dengan kata “delusion” untuk judul buku ini, dan disini, saya merasa perlu untuk mengungkapkan alasan pemilihan saya terhadap kata “delusion” itu. Kamus Bahasa Inggris, Penguin English Dictionary mendefinisikan kata “delusion” sebagai “a false belief or impression” (arti: kepercayaan yang palsu/salah atau suatu kesan,red). Yang mengejutkan adalah, kutipan ilustratif pada kamus tersebut yang diberikan oleh Phillip E. Johnson: “Darwinisme (Faham Darwin) merupakan kisah tentang pembebasan ras manusia dari delusion (khayalan,red) yang mengatakan bahwa manusia ditakdirkan untuk dikendalikan oleh sesuatu (Tuhan,red) yang memiliki kekuatan lebih besar dibanding dirinya sendiri.” Mungkinkah pengertian tentang “delusion” itu datang dari seorang Phillip E. Johnson, seorang pemimpin ide kaum kreasionis (kreasionis: ajaran kepercayaan tentang Tuhan,red) yang selama ini konsen dalam menyerang faham darwinisme (darwinisme: cikal bakal lahirnya Atheisme,red) di Amerika? Tentu saja tidak diragukan lagi, itu merupakan pengertian yang diberikan oleh Phillip E. Johnson, dan pengertian itu, seperti yang kita kira, diberikan diluar konteks pengertian yang ingin dimaksud. Saya berharap bahwa usaha saya yang telah mencoba memberikan pengertian kata “delusion” dari banyak sumber ini, dapat menjadi catatan tentang alasan saya mengambil judul itu, karena banyak dari literatur tulisan dan kutipan dari para kreasionis mengenai “delusion” ini belum saya dapatkan. Bagaimanapun juga, pengertian yang diberikan oleh Johnson sangat baik untuk saya elaborasi. Kamus dari Microsft Word menggambarkan “delusion” sebagai “a persistent false belief held in the face of strong contradictory evidence, especially as a symptom of psychiatric disorder” (arti: “suatu kepercayaan yang sangat salah/ palsu yang berlawanan dengan kenyataan yang ada, terutama dapat dikatakan sebagai gejala gangguan jiwa”,red) . Di satu sisi, dapat dilihat keimanan relijius yang sempurna. Sebagai suatu gejala gangguan jiwa, Saya ingin mengutip pernyataan dari Robert M. Pirsig, pengarang buku Zen and the Art of Motorcycle Maintenance, ketika ia berkata, “Ketika seseorang yang menderita “delusion” (khayalan,red), maka itu dapat disebut suatu kegilaan. Ketika banyak orang yang menderita “delusion” maka itu disebut Agama.”

Seandainya buku ini mendapat sambutan sesuai dengan keinginan saya, maka para pembaca religius yang membaca buku ini akan menjadi Atheist ketika mereka selesai membacanya . Sungguh suatu optimisme yang berlebihan! Tentu saja, benar-benar iman telah kebal terhadap berbagai macam argumentasi, perlawanan argumentasi mereka yang di bangun bertahun-tahun berupa indoktrinasi dimasa kanak-kanak telah dilawan dengan menggunakan berbagai cara yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu (apakah itu melalui teori evolusi ataupun teori desain) . Di antara alat pengebalan (agar tetap percaya pada adanya Tuhan,red) yang paling efektif adalah suatu peringatan mengerikan untuk menghindari, bahkan untuk sekedar membuka, buku seperti ini, yang jelas bagi mereka merupakan pekerjaan Setan. Tetapi saya percaya ada banyak orang-orang yang berpandangan terbuka di luar sana: orang-orang yang indoktrinasi masa kecilnya mengenai agama tidak terlalu dalam, atau untuk beberapa pertimbangan mereka memutuskan untuk tidak beragama, atau orang-orang yang kecerdasan intelektualnya sejak awal tidak menerima indoktrinasi semacam agama. Semangat kebebasan seperti itu hanya memerlukan sedikit motivasi untuk melepaskan diri secara total dari dampak buruk pengaruh agama. Setidak-tidaknya, saya berharap agar tak ada satupun orang setelah membaca buku ini, lalu berkata, “I didn’t know I could.” (arti : “Aku tidak tau apakah aku mampu untuk melakukannya (keluar dari kepercayaan agama –menjadi Atheist-)”)

Catatan:

1Wendy Kaminer, ‘The last taboo: why America needs atheism’, New Republic, 14 Oct. 1996; http://www.positiveatheism.org/writ/kaminer.htm.

2Dr Zoe Hawkins, Dr Beata Adams and Dr Paul St John Smith, personal communication.

*Bootleg copies are being downloaded from numerous US websites. Negotiations are under way for legitimate DVDs to be marketed. At the time of going to press these negotiations are incomplete – updates will be posted at http://www.richarddawkins.net.

22 comments on “Buku The God Delusion: Khayalan tentang Tuhan

  1. uuuu
    9 Juni 2012

    adakah e booknya dalam bahasa indonesia? di toko buku dekat rumah saya ga nemu

    • rhomiezf
      20 Juli 2012

      Untuk edisi indonesianya blm ada..🙂

      • Rendy
        19 Februari 2013

        buku ini saya yakin seru banget. Tapi sayang belum ada bahasa Indonesianya

      • metta karuna
        17 Februari 2016

        sekarang sudah ada

  2. aaaa
    28 September 2012

    Richard Dawkins is the man!

    • rhomiezf
      10 November 2013

      right

  3. Freedom
    8 Januari 2013

    ok juga..justru yg begini bisa menggugah qta,mengapa qta hrs beragama?kalo g ktemu jawabannya ya silahkan memilih jln itu

  4. Abdul Halim
    22 Mei 2013

    he..he..he.. saya sudah baca buku itu, saya sebagai seorang Muslim yang taat dan beriman atas keyakinan saya sebagaimana seorang muslim, menurut saya .ateisme, agnostic, dan skeptic sebenarnya bukan barang baru di dunia ini sudah ribuan tahun lalu, bahkan sejak pada masa Nabi Nabi dahulu sebelum Nabi Muhammad SAW pun sudah ada, jadi menurut saya mereka orang-orang yang patut di kasihani karena mereka menyandarkan pencapaian kebenaran hanya melalui jalan Rasional Buta, dan rasional prematur, sambil mereka menuduh orang yang berkenyakinan terhadap agama mereka anggap Illusi.. mereka menganggap semua teori yang ada saat ini bisa menjelaskan tentang alam semesta. ? padahal mereka masih sangat-sangat terbatas sekali kalaupun sekiranya dikumpulkan seluruh ilmuwan dari sejak ada manusia yang berperadaban tinggi hingga sekarang dan dilanjut sampai 1 milyar tahun yang akan datang ( kalau sekiranya manusia masih ada ) mereka secara terus menurus meneliti dan membuat teori tentang alam semesta ini dan menggabungkan seluruh teori yang ada ( Matematik, Fisika, Biologi,dll ). Niscaya mereka masih belum mampu untuk menjelaskan fenomena yang ada di alam semesta ini,.. jadi menurut saya pencapai keyakinan yang benar dan bijak hanya bisa dicapai dengan keiman dan ketakwaan serta keikhlasan dan ketaatan dalam melaksanakan ajaran agama, saya sebagai Muslim menyadari adanya perbedaan keyakinan, maka saya menykapinya hal tsb dengan sikap toleransi yang tinggi dan memberikan kebebasan masing-masing kenyakinan sambil memelihara kedamaian dan dengan rasa Rahmatan Lilalamin, Menurut Saya Islam is The Best.

    • Aquino
      27 Februari 2014

      Hanya karena anda dan saya tidak tau bukan berarti tuhan.. misteri hari ini bukan misteri selamanya .. tuhan hanya jawaban dari orang2 yg malas berfikir tentang ketidaktahuan tentang alam semesta seperti .. ” i don’t know .. therefore god! “

    • John Doe
      4 Juni 2014

      dimana is the bestnya? coba diterangkan.

    • Cocologi
      24 Juli 2014

      Tuhan itu ilusi.
      Surga itu ilusi.
      Kamu di bodohi oleh dogma kepercayaan.
      Kamu yakin Tuhan dan Surga itu ada?
      Buktikan. Suruh Tuhan-mu menunjukan sosok-Nya.
      Habisi sendiri musuh-musuh-nya. Jangan hanya minta di sembah.

    • Rifky
      18 September 2014

      Islam salah satu ilmu cocoklogi yang menggabungkan fiksi yang seakan2 nyata… 2000 tahun tidak ada pembuktian dan hanya sebuah dongeng. begitu juga semua konsep agama yang ada.. Religi : Pikiran dan ilmu kita masih terbatas.. ya sudah sudah ada yg mengatur… Sains : Pikiran dan ilmu terbatas, maka harus terus dikembangkan sampai kapanpun.. Belum adanya penjelasa fenomena bukan berarti harus percaya terhadap konsep kuno keagamaan.

  5. Ad
    16 Oktober 2013

    oh.. .. atheis juga butuh pembuktian yang ilmiah..

    • rhomiezf
      10 November 2013

      ya kira-kira begitu..

  6. natiq
    18 Februari 2014

    lagi rencana baca buku ini. kayaknya seru!

  7. rizky
    15 April 2014

    lalu, bahkan sejak pada masa Nabi Nabi dahulu sebelum Nabi Muhammad SAW pun sudah ada, jadi m
    *********************************

    hihihi ngecap doang gak ada bukti

  8. tommy
    27 April 2014

    saya nyari bukunya mpe skrg blm ketemu juga… bisa bantu ga gan?

  9. Nadhiantara
    11 Mei 2014

    Saya mungkin belum berpikir untuk menjadi seorang atheis, tapi menurut saya konsep Tuhan personal itu harus ditinggalkan, mengatakan Tuhan sebagai sosok personal sama saja dengan mengatakan tak hingga itu sebagai sebuah bilangan. Kita memang terbatas tapi bukan berarti kita tidak akan memahami semuanya, kita hanya butuh waktu untuk memahaminya, 200.000 tahun jika dibandingkan dengan 13.8 milliar tahun bukanlah perbandingan yang besar, dan hal yang kita capai dalam kurun waktu 200rb tahun tersebut tidaklah sedikit.

  10. Afa
    25 April 2015

    Sebenarnya ada buku yang lebih sarkasme tentang agama, khususnya menyerang satu agama, yaitu Islam. Buku2 karangan Ali Sina.. Berbeda dengan buku2 Ali Sina yang mengguncang (secara konyol dan distorsif) pemikiran umat islam, Buku God Delusion ini benar-benar mengguncang logika umum umat beragama secara menyeluruh. Dawkins menggunakan paradigma ilmiah, objektif secara ilmu. Tapi mungkin ia tak objektif dalam memahami batasan ilmu, bahwa ilmu pengetahuan (rasionalisme/empirisme) selalu berkembang dan ga mutlak. Dalam bahasa sederhana, ilmu terbatas. Bahasa kaum sufi, bagaimana yg terbatas mampu mencapai yang tak terbatas? Bahasa kaum Theosofi (di Barat diilhami oleh Madam Blavatsky, di Islam diimami oleh Ibn Arabi), tidak ada Tuhan personal, yg menguasai manusia dari langit, memberi surga dan menyiksa manusia di neraka. Tuhan tidak menciptakan dunia ini, karena, pertama, jika Tuhan akan menciptakan sesuatu, Ia pasti berpikir. Lebih Esa mana, pikiran Tuhan atau Tuhan sendiri? Jika Tuhan punya pikiran, mana bisa disebut lagi ‘Esa’ (tunggal)? Kedua, jika Tuhan menciptakan alam semesta beserta manusia, diciptakan dari apa mereka, sedang hanya Tuhan-lah yang ada?

    Aku setuju, tak ada dogma/indoktrinasi yang kuat untuk mempercayai Tuhan. Karena, justru aku percaya karena aku tak tahu alasan (logika) untuk mempercayai-Nya. Bukan karena aku tak berpikir (benar, pemikiranku terbatas), tapi sejauh pikiran memikirkan Tuhan, tak ada logika yang pas (kembali lagi pada alasan kaum sufi di atas), untuk itulah dibutuhkan keyakinan/iman. Pertanyaan Dawkins “Apakah kita mempercayai Tuhan agar kita menjadi baik?” pertanyaan ini tak mendasar (filosofis). Jika hanya untuk baik Manusia harus berTuhan, maka tak lebih tinggi derajatnya daripada binatang. Binatang berTuhan, secara rasional dibuktikan tidak ada binatang yang berbuat jahat. Macan membunuh dan memakan kijang tak bisa disebut kejahatan, karena memang itulah kewajarannya. Justru akan aneh, jika macan memakan rumput atau dedaunan. Untuk menjadi baik, manusia tak begitu memerlukan Tuhan, karena manusia memiliki akal dan perasaan. Manusia membutuhkan Tuhan, karena manusia butuh mengenal siapa dirinya yang sebenarnya.

  11. metta karuna
    17 Februari 2016

    maaf, numpang komen . “I didn`t konw that I could ” menurut saya arti dan maksudnya adalah “aku tidak tahu bahwa aku boleh …………….. berhenti sekolah, atau aku tidak tahu bahwa aku boleh tidak percaya agama atau tuhan

  12. Metta Karuna
    17 Februari 2016

    numpang komen ……….. “I didn`t that I could …… ” , aku kira lebih tepat “aku tidak tahu bahwa aku boleh …….. berhenti sekolah atau tidak percaya agama dan tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 September 2011 by in Tulisanku.

My Instagram

three of us... there always been a hope at the end of the aisle....

Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

My Tweet @romie_zf

Mutiara Islam

Sesungguhnya Allah S.w.t mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam sebuah barisan (yang teratur), bagai sebuah bangunan yang kokoh. (Q.S. As-Shaff : 04)

Mutiara Kata

Kebaikan yang tersusun secara teratur dan sistematis akan mampu mengalahkan kejahatan sebesar apapun meskipun di atur secara sistematis pula (Imam Ali bin Abi Thalib R.A)
%d blogger menyukai ini: