Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

Training ESQ 165: Sebuah Kritik

esq

Beberapa saat yang lalu, saya sempat mengikuti training emotional dan spiritual quotion yang dimotori oleh lembaga khusus training emotional and spiritual quotion (ESQ 165) Ary Ginanjar Agustian. Dari berbagai macam pengakuan rekan-rekan saya sesama peserta, banyak diantara mereka yang mendapatkan pencerahan emosional dan spiritual, training yang luar biasa, menyentuh hati, dan sebagian lagi mengatakan bahwa ini akan menjadi titik balik dalam kehidupan mereka untuk menjalani hidup dimasa yang akan datang. May it works yaa..!

Bagaimana dengan saya? Jika ada sesuatu yang dapat saya kagumi dari training tersebut, itu adalah efek audio visual yang mensupport proses training itu.

Cara trainer dalam menyajikan materi training dari satu slide ke slide yang lain, pengaturan intonasi dan penekanannya dalam menyampaikan materi, hingga cara trainer dalam menggugah emosi peserta yang dapat dikatakan sangat baik.

Ketertarikan saya sebenarnya untuk ikut training ini, ingin ikut mencoba merasakan “kebahagiaan” (kata yang sering dipakai, setelah mengikuti training ini) yang dialami oleh rekan-rekan saya yang sudah lebih dulu mengikuti training. Selain itu, saya juga ingin menuntaskan rasa ingin tau saya tentang training ini, seberapa besar nilai yang dikeluarkan secara finansial akan berbanding lurus dengan kebahagiaan spiritual yang akan didapat. Dalam pengetahuan saya, ESQ 165 merupakan lembaga training paling populer saat ini, klien dan alumninya pun merupakan kalangan kelas elit eksekutif, baik itu pejabat birokrasi, pengusaha maupun kalangan akademisi. Hal ini juga menjadi ketertarikan saya untuk mencari tau, bagaimana sistem training yang di bangun sehingga mampu menarik kalangan middle-high class utk ikut bergabung.

Jauh dari itu semua, saya sebenarnya ingin mengetahui juga, bagaimana dan darimana training ESQ 165 yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian ini, membangun basis spiritualitas pemahaman agama di tengah kecenderungan dunia yang semakin global serta di tengah invasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih.

Jika dilihat dari peristiwa kekinian tersebut, tampaknya agama dan spiritualitas sulit untuk berkembang melawan objektivitas dan rasionalitas ilmu pengetahuan dewasa ini. Tapi penulis juga tidak menutup mata terhadap kemungkinan terjadinya kebangkitan spiritualitas agama di tengah fenomena tersebut. Hal ini sebagaimana hipotesis john naissbitt dan patricia aburdance, bahwa pada awal abad ke 21 akan terjadi kebangkitan rasa keagamaan secara global. Tapi penulis tidak begitu sepakat dengan hipotesis keduanya yang mengatakan (yang didukung oleh semboyan Spirituality, yes. Organized religion, no), bahwa kebangkitan tersebut lebih merupakan kebangkitan spiritualitas dibanding kebangkitan agama. Azyumardi Azra mengatakan pendapat tersebut layak dibantah karena dua hal. Pertama, karena keduanya melakukan studi kasus pada agama mapan di Amerika (yaitu kristen dan katolik). Kedua, karena spiritualitas dalam islam tidak terpisah terhadap ajaran agama islam itu sendiri (berbasis syari’ah, yaitu tradisi tasawwuf). Dan yang ketiga, jika penulis dapat menambahkan, adalah kecenderungan meningkatnya aktivitas keagamaan islam dengan indikasi munculnya banyak kelompok-kelompok keagamaan islam di tanah air.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, kebangkitan nilai-nilai spiritualitas agama ini, jika di kaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, seharusnya akan tampak berbanding terbalik. Namun, tidak demikian adanya. Karena manusia dewasa ini semakin sadar akan nilai-nilai spiritualitas setelah melihat perkembangan modern yang mencemaskan dan ilmu pengetahuan yang tidak lagi dapat menjamin kepastian, sehingga nilai-nilai spiritual di anggap sesuatu yang cukup baik untuk menghilangkan kecemasan tersebut. Hal ini mungkin dapat dijelaskan dengan pernyataan E.F Schumacher yang dikutip oleh Budhy Munawar-Rachman berikut:

“…kesombongan ilmu-ilmu materialistik telah berkurang, dan bahkan adakalanya orang telah bertenggang hati bila nama Tuhan disebut dalam pergaulan yang sopan. Harus diakui bahwa beberapa diantara perubahan pikiran ini pada mulanya tidak berasal dari wawasan rohani, melainkan dari kecemasan materialistik yang ditimbulkan oleh krisis lingkungan, krisis bahan bakar, ancaman akan krisis bahan makanan dan petunjuk-petunjuk akan datangnya krisis kesehatan. Menghadapi semua ancaman ini kebanyakan orang masih mencoba percaya pada kepastian teknologi. Jika kita dapat mengembangkan energi peleburan, kata mereka, kesulitan bahan bakar akan tepecahkan, jika kita dapat menyempurnakan proses mengubah minyak menjadi protein yang dapat dimakan, kesulitan bahan makanan dunia akan dipecahkan, dan pengembangan obat-obatan pastilah akan sanggup menghindarkan setiap ancaman dari krisis kesehatan… dan sebagainya.”

“…Manusia menutup gerbang-gerbang surga terhadap dirinya sendiri dan mencoba dengan daya kerja dan kecerdikan yang besar sekali, mengurung diri mereka dibumi. Kini manusia mulai mengetahui bahwa bumi hanyalah tempat persinggahan sementara. Sehingga penolakan untuk mencapai surga berarti tak sengaja turun ke neraka.”

“…Percobaan modern untuk hidup tanpa agama telah gagal, dan sekali lagi memahami hal ini, kita pun lalu tahu apa sesungguhnya tugas pasca-modern kita.”

Penulis berpandangan, sepertinya Ary Ginanjar Agustian , memahami keadaan ini dan membaca peluang dibalik kebangkitan spiritualitas keagamaan tersebut. Bahwa saat ini, manusia sedang membutuhkan penyaluran hasrat spiritualnya untuk menghilangkan kepenatan modernitas yang menghantui mereka di setiap aktivitas kehidupan saat ini. Selanjutnya, tinggal bagaimana kita dapat mengelola dan menghilangkan kepenatan modernitas tersebut melalui saluran yang tepat dan secara proporsional. Training ini dapat memadukan dengan baik teori ilmu pengetahuan dan penegasan wahyu Tuhan di dalam Al-Qur’an.

Setidaknya ada dua pendekatan argumentasi teologis yang di pakai oleh training ini dalam menjelaskan eksisitensi Tuhan. Penulis dapat menyebutkannya. Pertama adalah argumentasi teleologis yang dicetuskan oleh William Paley. Argumen ini mendasarkan basisnya pada keteraturan alam semesta yang berjalan secara sistematis. Menurut Paley, sistemasi alam ini tentu tidak berjalan secara sendiri, melainkan ada yang mengelola keteraturan tersebut, yaitu Tuhan. Dalam filsafat islam, argumen ini terkenal dipopulerkan oleh Ibnu Rusyd melalui teori dalil al-inayah nya yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sesuai bagi eksistensi manusia, dan keteraturan alam semesta haruslah muncul dari sebuah agen yang sengaja melakukannya untuk tujuan tertentu (tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang hanya kebetulan).

Argumentasi teleologis semacam ini di kritik tajam oleh Immanuel Kant, bahwa argumentasi ini hanya berdasarkan dunia fenoumena (fisik), dan tidak bisa berkutik jika di hadapkan pada permasalahan noumena (metafisik). Bagi Kant, dalam dunia noumena ada tiga unsur metafisik yang tidak bisa dijelaskan melalui pendekatan fenoumena saja, yaitu Tuhan, Immortalitas dan kebebasan. Ketiga hal ini menurut kant, tidak bisa dicapai melalui rasio murni manusia. Oleh karenanya, pendekatan teleologis ditolaknya.

Dalam waktu selanjutnya, Immanuel Kant memberikan solusi pendekatan baru, yaitu argumentasi moral. Menurut Kant, dalam diri manusia terdapat dua hasrat, ingin bahagia dan ingin selalu berbuat baik. Untuk mencapai kebahagiaan dan kebaikan, maka menurut kant, manusia harus selalu mendengarkan suara hatinya untuk berbuat baik sebagai kewajiban moral. Dan yang membisikkan suara hati itu adalah Tuhan.

Teori moral Immanuel kant ini kemudian juga disanggah oleh Bertrand Russel yang mengatakan bahwa Tuhan dan suara hati (moral) tidaklah sama. Terlalu memalukan, kata Russell, untuk memberi pengertiaan tentang eksistensi Tuhan dengan pendekatan ini yang seolah meyiratkan bahwa kepercayaan kepada Tuhan berangkat dari kebutuhan duniawi. Hal ini menurut Russel bertentangan secara logika, namun juga merugikan secara moral, karena dasar dari moral adalah kejujuran. Seseorang dapat berhenti dari berbuat baik jika tidak ada alasan yang meyakinkan untuk melakukannya. Bahkan dengan keyakinan tertentu, seseorang dapat melakukan suatu tindakan yang tidak bermoral terhadap orang yang tidak melakukan sesuatu yang sesuai dengan keyakinannya. Ia akan menjadi seorang penuntut. Karena itu Russel berpendapat, jika pendekatan moral ini yang dipakai, maka iman adalah suatu kejahatan, karena dengan iman, seseorang mempercayai sesuatu yang tidak meyakinkan, lalu kemudian menilai orang lain berdasarkan ukuran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Kita dapat melihat bahwa kedua pendekatan yang dipakai dalam ESQ 165 bukanlah sesuatu yang baru, kedua pendekatan ini telah lama diperbincangkan dalam perdebatan teologis. Sehingga kritik para filsuf untuk kedua pendekatan teologis diatas juga dapat dipakai untuk memberikan kritik terhadap training ESQ 165 ini.

Jika ada hal lain yang dapat penulis kritik dari training ini, adalah pendekatannya dalam menjelaskan kebenaran Al-Qur’an tentang fenomena alam semesta. Kita tentu memahami bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan kepada manusia yang memiliki kebenaran absolut, sehingga upaya untuk menjelaskan keabsolutan wahyu dengan menyederhanakannya terhadap fenomena semesta yang temporer sangatlah berbahaya. Ilmu pengetahuan mengenai semesta terus berkembang, bisa jadi teori yang diyakini saat ini akan dibantah dengan ilmiah dimasa yang akan datang, sementara wahyu bersifat kebenaran yang selamanya akan dipegang. Sehinnga suatu saat nanti, ketika kebenaran ilmu pangetahuan tentang fenomena saat ini dibantah, dan sudah terlanjur dicocokkan dengan berita yang terdapat dalam Al-Qur’an, maka kebenaran wahyu pun secara tidak langsung akan tergugat.

Hal selanjutnya yang ingin penulis sampaikan adalah tentang bagaimana sosok sang Ary Ginanjar Agustian ini menjadi tokoh sentral yang di singgung banyak dalam training ini. Untuk menjelaskan kritik selanjutnya, penulis ingin mengutip sebuah ulasan oleh ustaz dari malaysia yang pernah mengikuti training ini, selengkapnya dapat dilihat di (http://ustaz.blogspot.com/2009/05/saya-tidak-menyukai-esq-165.html, dikutip pada 19 mei 2011 pukul 10.30 wita)

“Ajaran ESQ pada pendapat peribadi saya lebih menyerupai Kultus Gaya Baru. Melihat di skrin besar gambar Dr Ary Ginanjar Agustian sejak daripada mula sehingga akhir dan gaya para pelatih serta cara pembawaan ESQ Modul 165 telah menyedarkan saya akan hal ini. Untuk apa disebut-sebut Dr Ary Ginanjar sebagai penemu dan pencipta modul ESQ 165 ? Sedang jika benar 1 itu merujuk kepada “Satu hati dan Ihsan” , 6 itu merujuk kepada “enam rukun Iman” dan 5 itu pula merujuk kepada “lima rukun Islam”? Bukankah ianya sudah ada di dalam Al-quran dan As-Sunnah ? bukankah ianya sudah pun puas di syarah dan jenuh sudah ditekuni oleh para salaf dan tiada yang tinggal daripada agama ini segala kebaikkannya melainkan yang sudah diterangkan kepada kita?”

Apa yang sudah disampaikan diatas sebenarnya memiliki kesamaan pandangan dengan penulis, sejak saat penulis mulai dari awal mengikuti training ini. Fenomena kultus gaya baru semacam ini mengambil setting yang sangat elegan di dukung oleh kemampuan sumber daya yang mumpuni, dimulai dari para traineer, peralatan training, hingga para ATS/ relawan yang membantu kegiatan training ini. Apalagi pada satu sesi tertentu, traineer sempat menegur salah satu peserta yang hanya mengucapkan nama Ary Ginanjar Agustian, tanpa awalan pak, om, atau yang lainnya. Sikap yang kurang bersahabat terhadap ekspresi egalitarian, penulis pikir.

Pada akhirnya, ini semua hanya pandangan penulis secara pribadi, silahkan pembaca menilainya secara objektif dan proporsional, terutama bagi para alumni training ini.

2 comments on “Training ESQ 165: Sebuah Kritik

  1. utario
    11 Desember 2011

    literature reviewnay bagus, sayang referensinya ga ditulis secara standar akademis

  2. doni
    13 Mei 2013

    tolong sampaikan kepada saya, bagaimana caranya supaya ilmu yang dimiliki oleh pak Ary bisa di pelajari oleh para trainernya/kadernya.. ? apakah di dalam organisasi ada cara yang lain untuk meyampaikan ilmu kepada kadernya selain dg cara yaitu para kadernya harus mengikuti dan menjalankan apa yang sudah di sampaikan oleh gurunya, bahkan pun ada yang mengikuti cara berjalannya.. supaya bisa semakin dekat dengan gurunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 Agustus 2011 by in Peristiwa, Sosial, Tulisanku.

My Instagram

three of us... there always been a hope at the end of the aisle....

Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

My Tweet @romie_zf

Mutiara Islam

Sesungguhnya Allah S.w.t mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam sebuah barisan (yang teratur), bagai sebuah bangunan yang kokoh. (Q.S. As-Shaff : 04)

Mutiara Kata

Kebaikan yang tersusun secara teratur dan sistematis akan mampu mengalahkan kejahatan sebesar apapun meskipun di atur secara sistematis pula (Imam Ali bin Abi Thalib R.A)
%d blogger menyukai ini: