Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

Renungan Perkaderan Kita

kader

Pendahuluan

“Mahasiswa Islam sebagai generasi muda yang sadar akan hak dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada umat manusia, umat muslim dan Bangsa Indonesia bertekad memberikan dharma bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata‘ala.”

Kutipan yang terlihat diatas merupakan bunyi dari paragraf kelima dalam mukaddimah anggaran dasar Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) yang menjelaskan tentang posisi dan peran strategis Mahasiswa Islam sebagai representasi dari generasi muslim dalam merealisasikan cita-cita terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata‘ala., setelah pada paragraf sebelumnya dijelaskan tentang ajaran Islam yang merupakan pedoman dalam kehidupan, fitrah manusia untuk mengabdi pada peradaban, dan terakhir adalah posisi umat islam indonesia sebagai bagian dari bangsa yang memiliki potensi pengabdian bagi kejayaan bangsa ini.

Dalam pasal 4 anggaran dasar Himpunan Mahasiswa Islam, makna dari kalimat diatas di afirmasi lebih mendalam, dan di tempatkan sebagai tujuan perjuangan dan perkaderan (Mission). Lebih lengkapnya anggaran dasar mengatakan Himpunan Mahasiswa Islam bertujuan agar “Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata‘ala.” Dengan rumusan tersebut, maka pada hakekatnya HmI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kuantitatif, sebaliknya HmI secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif. Dari tujuan ini kemudian dapat dijabarkan 5 kualitas insan cita HmI yang harus mewujud dalam pribadi setiap kader HmI; kualitas insan akademis (memiliki rekam jejak intelektual dan akademik yang baik), kualitas insan pencipta (memiliki daya inovasi, kreasi dan inisiatif yang cemerlang dalam berkarya), kualitas insan pengabdi (memiliki orientasi perjuangan semata untuk mengabdi pada Tuhan, masyarakat dan alam), kualitas insan islam (menjadikan nilai-nilai luhur ajaran islam sebagai orientasi perjuangan) dan kualitas insan bertangggung jawab dalam mewujudkan tatanan masyarakat adil makmur dalam ridho Allah Subhanahu wata‘ala (Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofuur) . Hampir setiap kader HmI sangat ingat dan hafal bagaimana Mission itu di lafalkan, namun demikian pengejawantahannya dalam aktifitas pribadi dan keorganisasian masih belum dapat dikatakan berhasil.

Oleh karena itu, kader HmI sebagai ujung tombak yang mengemban misi mulia tersebut harus dapat mendefinisikan dirinya dalam kancah perjuangan kekinian dengan berbagai ancaman dan tantangan yang menanti. Dari sini dapat dilihat bahwa kader-kader HmI merupakan individu yang bertanggungjawab bagi berlangsungnya sistem secara simultan dan oleh karenanya, peran untuk merealisasikan cita-cita luhur HmI secara penuh berada di tangan kader HmI.

Kader dan Perkaderan

Dapat dilihat terlebih dahulu tinjauan makna kader (cadre) yang dipaparkan oleh AS. Hornby berikut,

“Cadre is a small group of people who are specially chosen and trained for a particular purpose, or “cadre is a member of this kind of group; they were to become the cadres of the new community party “ (AS. Hornby)

Dengan bahasa sederhana, yang dimaksud dengan kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Dalam konteks Himpunan Mahasiswa Islam (HmI), maka pengertian dari perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HmI, sehingga memungkinkan seorang anggota HmI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi seorang kader Muslim – Intelektual – Profesional, yang memiliki kualitas insan Cita. Untuk mewujudkan hal ini tentu dilakukan melalui serangkaian upaya sistematis, yang diwujudkan dalam usaha rekruitmen, pelatihan, dan pembinaan. Keseluruhan upaya untuk menuju hal itulah yang dinamakan dengan sitem perkaderan. Perkaderan menjadi sarana ikhtiar kader-kader HmI yang telah lebih dahulu mengabdi, untuk meneruskan estafet perjuangannya kepada generasi penerus selanjutnya yang terlebih dahulu perlu di didik, di latih dan di bekali kemampuan untuk melanjutkan kehidupan organisasi dalam upaya meneruskan pengabdian.

Perkaderan HmI bertujuan adalah demi terciptanya kader muslim-intelektual-profesional yang berakhlakul karimah serta mampu mengemban amanah Allah sebagai khalifah fil ardh dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

Beberapa Renungan untuk Perkaderan Kita

Dalam prosesnya, perkaderan HmI bukan merupakan sesuatu yang sempurna, bebas dari kekurangan dan tantangan. Bahkan, perkaderan HmI penuh dengan semua itu. Eksistensi perkaderan HmI dan lebih-lebih pula, eksistensi HmI dimasa selanjutnya ditentukan oleh kemampuan segenap elemen HmI untuk merumuskan sistem perkaderan yang friendly terhadap arus dinamika zaman. Arus dinamika zaman yang dimaksud adalah kecenderungan zaman dalam mendefinisikan kehidupan global vis-a-vis dinamika perkembangan peradaban umat manusia.

Kebangkitan Pengalaman Spritual dalam beragama

Hipotesis John Naissbitt dan Patricia Aburdance dalam buku Megatrends 2000 (1990), bahwa pada awal abad ke 21 akan terjadi kebangkitan rasa keagamaan secara global, barangkali menjadi suatu teori yang berguna untuk merumuskan kebutuhan perkaderan HmI. Keduanya mengatakan (yang didukung oleh semboyan Spirituality, yes. Organized religion, no), bahwa kebangkitan tersebut lebih merupakan kebangkitan spiritualitas dibanding kebangkitan agama. Fenomena spiritualitas secara individual yang menggejala hampir di seluruh belahan dunia saat ini memang menjadi salah satu bukti keberhasilan hipotesis John Naissbitt dan Patricia Aburdance itu, namun demikian kebangkitan itu tidak hanya sebatas aspek spritual seperti dikatakan keduanya, tapi juga kebangkitan keagamaan secara ritual. Hal ini dapat dilihat di Indonesia, masyarakat memadukan secara baik ajaran agama dan keinginan spiritualitasnya. Dengan kata lain, agama dijadikan sebagai sarana penyalur hasrat spiritual. Kebangkitan spiritualitas lebih menekankan pada aspek pengalaman (afektif) yang bertumpu pada qalb dalam beragama, dibandingkan penekanan pada aspek pemikiran intelektual (kognitif) yang bertumpu pada aql. Oleh karena itu, kelompok keagamaan yang fokus pada pengalaman ruhaniyah sebagai ujung dari spiritualitas beragama, dapat lebih diterima daripada kelompok-kelompok lainnya.

Praksis keberagamaan HmI yang cenderung pada penekanan sisi kognitif-aqliyah dibandingkan daripada sisi afektif-qalbiyahnya dapat menjadi ancaman dan sekaligus tantangan bagi sistem rekruitmen dan perkaderan organisasi ini. Disatu sisi dikatakan ancaman, karena pola perkaderan HmI cenderung menuju pada pengembangan intelektualitas di atas kecenderungan membangun pengalaman spiritualitas dalam beragama. Oleh karena itu, sulit untuk menemukan kader HmI yang berlarut-larut dalam membaca Al-Qur’an sembari meneteskan air mata, karena kebanyakan kader HmI memiliki preferensi untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab operasional teknis dalam mewujudkan masyarakat adil makmur ketimbang menjadikannya sekadar sebagai kitab novel yang menggugah jiwa. Sulit pula untuk menemukan kader HmI yang terpolarisasi dalam arus mayoritas islam tradisional untuk berdzikir akbar bagi mencari pengampunan dosa, karena pengampunan dosa dapat dilakukan melalui aktifitas-aktifitas sosial yang lebih bermanfaat bagi seluruh ummat, dalam hal ini, pandangan egoistik (pengampunan dosa pribadi) disingkirkan terlebih dahulu demi kepentingan kolektif yang lebih mulia (kemaslahatan ummat).

Di sisi lain, dikatakan tantangan karena fenomena diatas (kecenderungan meningkatnya hasrat pengalaman sipritual dalam beragama) dapat menjadi refleksi perkaderan HmI dalam hal rekruitmen kader. Penyesuaian-penyesuaian harus dilakukan terkait dengan perkembangan fenomena zaman, jika HmI ingin terus eksis dalam menyuarakan keluhuran nilai-nilai ajaran Islam. Cara bijak dimasa yang akan datang untuk lebih mendekatkan HmI pada massa yang akan menjadi calon kader adalah dengan mengubah pendekatan diatas, yaitu tidak semata-mata kognitif-aqliyah tapi juga mengimbanginya dengan pendekatan afektif-qalbiyah. Sehingga dengan itu, kuantitas dan kualitas kader HmI dapat menjadi kebanggan dalam meneruskan eksistensi organisasi ini.

One comment on “Renungan Perkaderan Kita

  1. deny rachmat s
    29 November 2013

    assalamu’alaikum wr.wb

    boleh tanya tentang ke-perkaderan IPM maupun IMM ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 Agustus 2011 by in Sosial, Tulisanku, whatever..! and tagged .

My Instagram

three of us... there always been a hope at the end of the aisle....

Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

My Tweet @romie_zf

Mutiara Islam

Sesungguhnya Allah S.w.t mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam sebuah barisan (yang teratur), bagai sebuah bangunan yang kokoh. (Q.S. As-Shaff : 04)

Mutiara Kata

Kebaikan yang tersusun secara teratur dan sistematis akan mampu mengalahkan kejahatan sebesar apapun meskipun di atur secara sistematis pula (Imam Ali bin Abi Thalib R.A)
%d blogger menyukai ini: