Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

Universalitas Ajaran Islam: Membangun Konsensus Pemahaman Agama

Hmmm, kali ini ku coba lagi tuk meng-explore pengetahuanku yang terbatas tentang khazanah keislaman. Semoga kiranya bermanfaat dan dapat memberikan sedikit kontribusi bagi kehidupan beragamaan kita. Sekiranya jika ada pemikiran yang kurang berkenan, saya yakin, seiring dengan perjalanan waktu pemikiran-pemikiran tersebut akan dengan sendirinya kehilangan relevansinya di tengah arus khazanah intelektual keislaman. Tulisan ini berangkat dari refleksi pribadi keprihatinanku terhadap kondisi umat islam saat ini, khususnya terhadap kejumudan intelektual yang memberi dampak pada ekspresi keberagamaan yang “Lebay” dan di luar cerminan nilai-nilai keislaman, seperti ekspresi ritual agama yang terjebak pada simbol dan tradiisi yang pada akhirnya menutupi substansi nilai ajaran islam itu sendiri. okelah kalo beg…beg…begituuu…!

Lets check it out…!!!!!!!!!!!

=================================================
“Dan tidaklah Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad), kecuali sebagai Rahmat bagi alam semesta.” (QS. Al-Anbiya:107)

Islam di turunkan oleh Allah SWT sebagai agama dan tuntunan hidup bagi umat manusia yang ada di dunia, sehingga oleh karenanya islam sebagai rangkaian nilai di harapkan mampu untuk membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Pemahaman bahwa islam tidak hanya di peruntukkan bagi segelintir orang dan kelompok, melainkan kepada seluruh alam semesta, membawa kita pada pengertian bahwa pengejawantahan nilai-nilai keislaman seharusnya di rasakan oleh seluruh manusia, termasuk kepada manusia yang tidak memeluk islam sebagai sebuah lembaga formal agama.
Namun dalam realitas sebenarnya, pengejawantahan nilai-nilai keislaman yang seharusnya berlaku universal itu, menjadi timpang ketika kita dapati sikap umat islam yang kurang toleran terhadap perbedaan agama. Kita bisa melihat bagaimana sikap umat islam yang terlalu reaktif terhadap kegiatan keagamaan yang bersinggungan dengan aqidah mereka, seperti kasus baru-baru ini, protes yang dilancarkan oleh MUI terhadap kegiatan perayaan natal yang berbahasa arab. Hal ini terjadi karena agama di pahami dalam perspektif kultural dan tradisi serta simbol-simbol belaka, bukan secara substansi nilainya. Selanjutnya kita melihat sikap kurang toleran dan kekerasan yang mengatasnamakan agama terhadap para jamaat ahmadiyah, dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya.
Jika demikian, lalu kita patut bertanya, dimanakah letak universalitas (yang pada akhirnya mewujudkan inklusifitas demi mereduksi radikalisme desruktif dan anarkisme agama) ajaran Islam yang luhur itu sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami (Allah) tidaklah mengutusmu (Muhammad), kecuali kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. As-Saba:28)

Hemat saya, bukan pada tempatnya kita menyoroti Islam sebagai sebuah institusionalisasi nilai-nilai ilahiyah, sebagai sebab dari fenomena tersebut di atas. Akan tetapi pemahaman para pemeluknyalah yang menjadi konsen kita dalam mengamati gejala praksis keagamaan yang reaktif ini. Kiranya perlu kita formulasikan dan kita interpretasikan kembali pemahaman kita tentang nilai-nilai keislaman, sehingga memunculkan wajah islam yang toleran, humanis dan universal, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an.

Pertanyaan yang menarik ketika kita berbicara mengenai persoalan agama adalah jika sekiranya kita mengakui bahwa Tuhan itu Esa/Tunggal, maka seharusnya pula segala nilai kebenaran yang datang dari Tuhan juga bersifat Esa/Tunggal. Tetapi pada kenyataannya banyak sekali klaim-klaim kebenaran yang di ajukan oleh berbagai lembaga agama yang notabene juga mengakui keesaan Tuhan. Jika masing-masing agama memiliki dan mengakui Tuhannya, maka nilai “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi tidak relevan dalam wacana praksis keberagamaan kita. Fenomena semacam ini juga sering menjadi akar permasalahan konflik antar-agama , khususnya pada tiga agama besar yang memiliki kesamaan dasar teologis, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Permasalahannya bukan sekedar bagaimana kita menyikapi perbedaan ini, tapi yang lebih penting adalah bagaimana semangat teologis agama-agama tersebut menemukan relevansinya terhadap realitas Ketuhanan Yang Maha Esa.
Terhadap permasalahan tersebut di atas, saya coba memberikan konsep Kebenaran Mutlak yang bersifat Tunggal dan Universal sebagai suatu pemahaman yang dapat menjembatani seluruh perbedaan faham keagamaan, sehingga lewat konsepsi ini di harapkan kita sebagai umat beragama mampu mencapai konsensus yang pada akhirnya berkontribusi memunculkan kehidupan antar umat beragama yang toleran, humanis dan universal.
Kebenaran universal berarti bahwa konsep kebenaran yang ada di alam semesta ini hanya satu, tunggal dan Mutlak. Akan tetapi derivasi/turunan dari Kebenaran universal ini mewujud dalam berbagai bentuk dan nilai kehidupan.Kebenaran universal ini juga merupakan konsekwensi logis dari keesaan Tuhan, sehingga nilai kebenaran ini pun bersifat Transeden, Esoteris dan Metahistoris (terlepas dari dimensi keduniawian). Pada prakteknya ketika Kebenaran Mutlak dan universal yang berasal dari Tuhan yang esa ini di komunikasikan kepada manusia yang relatif, terjadi demanifestasi nilai Kebenaran, dari sebelumnya Esoteris menjadi eksoteris, transeden menjadi immanen, dan dari Metahistoris menjadi terhistorisasi. Tidak hanya itu, akibat dari interaksi Kebenaran Mutlak yang datang dari Tuhan ini dengan manusia yang relatif, terjadi fragmentasi dan remanifestasi konsep Kebenaran menjadi kebenaran-kebenaran kecil yang bersifat parsial dan kemudian terpolarisasi oleh arus kehidupan duniawi. Kebenaran-kebenaran parsial tersebut kemudian terlembagakan dalam institusi dan pranata sosial seperti paguyuban dan kelompok-kelompok ideologis sampai pada institusionalisasi nilai kebenaran parsial tersebut ke dalam pranata sosial yang bernama agama.
Sehingga konsekwensinya adalah, nilai-nilai kebenaran parsial tersebut mewujud dalam agama-agama yang di bawa oleh para utusan Tuhan sebelum datangnya Muhammad SAW yang bertugas menghimpun kebenaran-kebenaran yang berserakan itu menjadi satu himpunan Kebenaran yang mendekati Kemutlakan Tuhan (Dimensi duniawi hanya mampu mendekati nilai Kebenaran dan tidak mungkin mampu menggapai kemutlakan Kebenaran, karena esensi duniawi adalah relatif). Jadi disinilah letak universalitas Islam, dia datang untuk menghimpun dan membawa kesatuan nilai-nilai agama sebelumnya menjadi suatu tatanan nilai keagamaan yang menghormati pluralitas ajaran dan tidak terjebak pada realitas realitas tradisi dan simbol masing-masing agama. Kesatuan nilai-nilai tersebut hanya bisa tercapai, jika kita melakukan penelusuran dan perenungan secara intelektual dan spiritual. Kesatuan itu pula, kita sadari berangkat dari realitas keagamaan yang berbeda, karena setiap agama diturunkan dalam rentang kontinuitas ruang dan waktu yang berbeda pula. Oleh karena itu, konsekwensinya adalah agama mengalami reinterpretasi dalam bentuk kemasan simbol-simbol dan tradisi tertentu yang heterogen. Sebagai contoh, kita mengenal sholat, puasa dan zakat dalam ajaran Islam. Kemudian kebaktian dan ajaran cinta kasih dalam doktrin kekristenan, serta bentuk tradisi-tradisi tertentu pada agama Yahudi. Secara substansial, semua itu memiliki maksud dan tujuan yang tidak berbeda, yaitu sebagai sarana mendekatkan diri pada Tuhan.
Selain dari hal-hal di atas, klaim kebenaran ekslusif masing-masing agama juga memberikan kontribusi yang signifikan bagi konflik antar-agama, sehingga berpotensi memunculkan perselisihan yang bersifat horizontal (sosial) maupun vertical (masalah teologis). Lalu bagaimana Islam melihat permasalahan ini? Adakah Islam juga memiliki klaim eksklusif tentang Kebenaran agamanya?. Salah satu keterangan di dalam Al-Qur’an yang sering di jadikan pijakan kebenaran eksklusif adalah:

“Sesungguhnya agama yang di ridhoi di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imran:19)

Sepertinya, jika ini yang menjadikan umat islam terlihat eksklusif dan menjadikan sikap mereka bertentangan dengan inklusifitas Islam yang di ajarkan Al-Qur’an dalam QS. Al-Anbiya:107 (telah di sebutkan sebelumnya), maka agaknya kita perlu melihat kembali ayat tersebut dalam konteks yang lebih luas dan universal.
Saya mengajak kita semua untuk melihat ayat tersebut dari segi kebahasaan, bahwa Ad-Din dalam ayat tersebut di artikan sebagai agama dan kemudian Al-Islam di artikan sebagai bentuk formal agama yang di bawa oleh Muhammad SAW. Mari kita lihat ayat tersebut dalam perspektif lain, agar cita-cita universal Islam tidak sebatas wacana tanpa aksi. Dalam tinjauan bahasa arab, kata Ad-Din itu berasal dari tiga huruf yaitu Dal, Ya’ dan Nun. Dalam khazanah Arabic, setiap kata yang terbentuk dari rangkaian tiga huruf tersebut merujuk pada pengertian “Hubungan dua pihak yang saling berinteraksi, dimana salah satu pihak lebih tinggi kedudukannya di banding pihak lainnya”. Oleh karenanya, Hutang dalam bahasa arab di namakan Ad-Dain, karena berhutang berarti ada hubungan interaksi antara si pemberi hutang (kedudukannya lebih tinggi) dengan orang yang berhutang. Begitupun dengan Ad-Din (yang dalam bahasa Indonesia di terjemahkan menjadi Agama) merupakan hubungan interaksi antara Tuhan (kedudukannya lebih tinggi) dengan manusia sebagai makhluk ciptaanNya.
Kemudian mari kita lihat kata Al-Islam, secara etimologis Al-Islam berasal dari akar kata salama-yusallimu-salaaman yang berarti keselamatan, kepasrahan, ketundukan dan penyerahan diri. Di dalam Al-Qur’an kita dapati penyebutan nabi Ibrahim sebagai seorang Muslim (isim maf’ul dari kata Islam), lalu apakah dapat di artikan bahwa Ibrahim saat itu memeluk agama Islam padahal Muhammad belum di utus? Tentu tidak. Karena Islam dalam konteks tersebut di artikan sebagai kepasrahan dan ketundukan Ibrahim pada setiap perintah Tuhan, sehingga dia layak di sebut Islam dalam artian yang universal itu. Dari sinilah kemudian kata Al-Islam bukan sekedar merujuk pada agama formal terlembagakan yang di bawa oleh Muhammad SAW, melainkan sebagai sebuah sistem nilai substantif yang berasal dari Tuhan semesta alam. Sehingga ayat pada QS. Ali Imran:19 tersebut di atas dapat kita formulasikan kembali sebagai berikut:

“Sesungguhnya hubungan interaksi yang benar terhadap Tuhan adalah sikap ketundukan menyeluruh terhadapNya (dengan mengikuti Kebenaran Mutlak dariNya).” (QS. Ali Imran:19)

Berangkat dari pengertian ini, akan terlihat titik temu antar-agama, yang sama-sama mengakui keesaan Tuhan dan coba mempraktekkan Kebenaran dari Tuhan seraya tunduk dan pasrah terhadapNya. Jika semua agama memahami esensi ini, maka Islamlah Kebenaran substantif yang mampu menjadi wasilah atau sarana konsensus (titik temu atau dalam bahasa agama di sebut Kalimatun Sawa’) antar ajaran agama.
Dari sini kemudian Islam menjadi agama universal yang akseptabel dan mampu menciptakan suasana kehidupan keagamaan yang harmonis, toleran dan menjadi Rahmat bagi alam semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Maret 2010 by in Politik, Sosial, Tulisanku.

My Instagram

three of us... there always been a hope at the end of the aisle....

Romie Ziatul Fadlan

Bekerja untuk dunia, Beramal demi akhirat

My Tweet @romie_zf

Mutiara Islam

Sesungguhnya Allah S.w.t mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam sebuah barisan (yang teratur), bagai sebuah bangunan yang kokoh. (Q.S. As-Shaff : 04)

Mutiara Kata

Kebaikan yang tersusun secara teratur dan sistematis akan mampu mengalahkan kejahatan sebesar apapun meskipun di atur secara sistematis pula (Imam Ali bin Abi Thalib R.A)
%d blogger menyukai ini: