<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>rHoMie_zF:::Aku dan Hidupku</title>
	<atom:link href="http://rhomiezf.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rhomiezf.wordpress.com</link>
	<description>Bekerja untuk Dunia ::: Beramal untuk Akhirat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Sep 2011 05:56:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rhomiezf.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>rHoMie_zF:::Aku dan Hidupku</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rhomiezf.wordpress.com/osd.xml" title="rHoMie_zF:::Aku dan Hidupku" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rhomiezf.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Buku The God Delusion: Khayalan tentang Tuhan</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/09/20/buku-the-god-delusion-khayalan-tentang-tuhan/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/09/20/buku-the-god-delusion-khayalan-tentang-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 05:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[“Ketika seseorang yang menderita “delusion” (khayalan,red), maka itu dapat disebut suatu kegilaan. Ketika banyak orang yang menderita “delusion” maka itu disebut Agama.” (R.M. Pirsig) Baru-baru ini saya membaca buku yang sangat bagus. Temanya lumayan berat sich, tentang wacana anti-Tuhan atau Atheisme yang di tulis oleh kritikus agama terbesar abad ini, Richard Dawkins. Berlatar belakang sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=327&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Ketika  seseorang yang menderita “delusion” (khayalan,red), maka itu dapat disebut suatu kegilaan. </p>
<p>Ketika banyak orang  yang menderita “delusion” maka itu disebut Agama.” (R.M. Pirsig)</p>
<p>Baru-baru ini saya membaca buku yang sangat bagus. Temanya lumayan berat sich, tentang wacana anti-Tuhan atau Atheisme yang di tulis oleh kritikus agama terbesar abad ini, Richard Dawkins. Berlatar belakang sebagai seorang ilmuwan Biologi beraliran Darwinian, beliau mengkritik habis-habisan nalar agama-agama besar dunia, dan sekaligus meneguhkan kedudukan sains (ilmu pengetahuan) sebagai satu-satunya dasar keyakinan yang rasional, masuk akal. Konsekuensi dari itu, dawkins menyebut agama sebagai delusion, semacam khayalan manusia tentang keberadaan Tuhan yang sebenarnya tidak ada.</p>
<p>Om Richard Dawkins ini merupakan salah satu dari empat penunggang kuda (the four horsemen) Atheisme Baru di abad 21 bersama Sam Harris, Daniel Dennett, dan Christopher Hitchens. Ateisme Baru memandang bahwa agama tidak hanya harus ditoleransi, tetapi juga dijawab, dikritik, dan dibongkar dengan argumen rasional saat pengaruhnya muncul.</p>
<p>Untuk info saja, BUku dengan Judul The God Delusion yang terbit pada 2006 di Inggris ini, Pada Januari 2010, telah terjual sebanyak lebih dari dua juta copy.Buku ini telah mengundang berbagai komentar, dan banyak buku ditulis sebagai tanggapan. Ini menunjukkan kelas buku ini.</p>
<p>Kalo di tanya buat apa baca beginian? Saya bisa menjawab;</p>
<p>pertama, untuk kebutuhan saya dalam melatih objektifitas dalam berfikir.<br />
kedua, agar mampu melihat kemungkinan lain di luar dimensi keyakinan kita.<br />
ketiga, mencoba respect terhadap berbagai macam gagasan.<br />
keempat, biar kita jangan terlalu keras kepala dengan pendapat sendiri. (biasanya kaum fundamentalis nih, yang begini)<br />
terakhir, itung-itung buat refreshing otak, hehe&#8230;.</p>
<p>Kudu dibaca deh, buat yang berencana tinggal landas dari kepercayaan agama, hehe&#8230; Berani???<br />
Mau tau isinya? Here we goooo&#8230;!!!!</p>
<p>Book’s Contents of The God Delusion, Richard Dawkins:<br />
Chapter-1 A deeply religious non-believer<br />
Chapter-2 The God Hypothesis<br />
Chapter-3 Arguments for God&#8217;s existence<br />
Chapter-4 Why there almost certainly is no God<br />
Chapter-5 The roots of religion<br />
Chapter-6 The roots of morality: why are we good?<br />
Chapter-7 The &#8216;Good&#8217; Book and the changing moral Zeitgeist<br />
Chapter-8 What&#8217;s wrong with religion? Why be so hostile?<br />
Chapter-9 Childhood, abuse and the escape from religion<br />
Chapter-10 A much needed gap?</p>
<p>Biar lebih lengkap, nih gw kasi pengantar langsung dari penulisnya, Om Dawkins, hehe..<br />
Oohh iya, ini buku gw baca versi englishnya lho, tapi karena gw baik hati, gw translate nih pengantarnyaa&#8230;</p>
<p>                                                                          Pengantar<br />
Sebagai seorang anak kecil, dahulu isteri saya tidak menyukai sekolahnya dan dia ingin agar bisa keluar dari sekolahnya itu. Bertahun-tahun kemudian, ketika usianya menginjak duapuluhanan tahun, dia mengungkapkan kenyataan yang tidak membahagiakan  ini (ingin keluar dari sekolah) kepada orang tuanya, dan ibunya terkejut, dan mengatakan: ”Tetapi sayang, kenapa  kamu sebelumnya tidak  datang dan  menceritakannya kepada kami?”. Jawaban Lalla (sang isteri,red) tentang pertanyaan  tersebut menjadi poin saya untuk kali ini, yaitu:   </p>
<p>“I didn’t know I could.” (arti: “Tetapi aku tidak tau apakah aku mampu untuk mengatakannya (bahwa berkeinginan untuk keluar dari sekolah).”)</p>
<p>“I didn’t know I could.” (arti: Aku tidak tau apakah aku mampu untuk mengatakannya.)</p>
<p>Saya mengira -bahkan saya meyakini- bahwa banyak orang-orang di dunia ini yang telah dididik dalam banyak keyakinan agama masing-masing, dan mereka merasa tidak bahagia dalam kepemelukan terhadap agamanya itu, tidak mempercayai agamanya, atau  khawatir akan tindakan kejahatan yang terjadi  atas nama agama; orang-orang yang diam-diam secara tersembunyi berkeinginan untuk meninggalkan agama orangtua mereka dan berharap bahwa mereka bisa untuk melakukan itu, hanya saja mereka  belum menyadari bahwa itu merupakan suatu pilihan. Jika anda termasuk salah satu dari mereka, buku ini ditulis untuk anda. Buku ini ditulis, dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran kita  -kesadaran tentang kenyataan bahwa untuk menjadi seseorang yang tak berTuhan (Atheist) adalah suatu cita-cita yang realistis, suatu keputusan yang berani dan sangat baik. Anda bisa menjadi seorang Atheist yang bahagia, adil, bermoral, dan dengan sangat beralasan. Ini adalah poin pertama yang menjadi “pesan-penyadaran” saya kepada anda. Saya juga ingin membangkitkan kesadaran anda dengan tiga cara yang lain, yang akan saya jelaskan selanjutnya. <span id="more-327"></span></p>
<p>Pada bulan Januari 2006 saya mempersembahkan sebuah film dokumenter dalam dua bagian, yang disiarkan di televisi inggris (Channel Four) dengan judul Root of All Evil?. Dari awal, saya tidak suka dengan judul itu. Agama bukanlah penyebab dari semua kejahatan/malapetaka, tapi tidak terkecuali untuk hal lain, agama menjadi akar persoalan dari segala sesuatu. Tetapi saya dihibur dengan iklan  Channel Four  di surat kabar nasional. Yaitu sebuah gambar di gedung pencakar langit kota manhattan dengan tulisan &#8216;Bayangkan suatu dunia tanpa agama.&#8217; Apa yang menjadi penghubung?, menara kembar WTC dengan jelas memperlihatkan tulisan itu. Bayangkanlah kata  John Lennon, suatu dunia tanpa agama. Bayangkanlah dunia tanpa bom  bunuh diri, tanpa tragedi serangan 11 september , tidak ada tragedi 7/7, tidak ada perang salib, tidak ada tragedi witch-hunts, tidak ada Gunpowder  plot, tidak ada diskriminasi suku indian, tidak ada peperangan antara Israel dan Palestina, tidak ada pembantaian Muslim Serbia, tidak ada penyiksaan Yahudi oleh para pembantai kristen (Holocaust,red), tidak ada &#8216;troubles&#8217; di Irlandia bagian utara, tidak ada &#8216;honour killings&#8217; (seperti mati syahid dalam islam,red), tidak ada orang-orang yang mudah tertipu dengan uang mereka (“Tuhan ingin anda untuk memberi hingga anda menderita”). Bayangkan tidak ada kelompok Taliban yang meledakkan patung jaman kuno, tidak ada publik yang saling menuduh kesesatan pada yang  lain (Pengkafiran,red), tidak ada cambukan pada tubuh wanita karena kesalahannya yang telah mempertunjukkan bagian tubuhnya (membuka aurat,red). Bersamaan dengan itu, suatu ketika rekan kerja saya, Desmond Morris memberitahu  saya bahwa lagu John Lennon kadang-kadang dinyanyikan di Amerika dengan kalimat &#8216;and no religion too&#8217; yang  telah diedit. Bahkan, salah satu versi lagu  tersebut telah dengan lancang diubah menjadi  &#8216;and one religion too&#8217;.</p>
<p>Barangkali anda berfikir  sikap agnostik (meragukan adanya Tuhan,red) itu adalah suatu posisi yang pantas, tetapi atheisme (anti-Tuhan) itu sama saja,  sama dogmatisnya seperti kepercayaan terhadap agama? Jika demikian, saya berharap Bab 2 akan merubah pikiran  anda, dengan menunjukkan kepada anda bahwa &#8216;Hipotesis tentang Tuhan&#8217; adalah suatu hipotesis ilmiah tentang alam semesta, yang   harus diteliti se-skeptis seperti pada penelitian  lainnya. Barangkali anda telah diajarkan bahwa para  ahli filsafat dan ahli ilmu agama sudah mengemukakan pertimbangan yang baik untuk percaya terhadap Tuhan. Jika anda berpikir demikian, anda sebaiknya mengikuti Bab 3 tentang &#8216;Argumentasi keberadaan Tuhan&#8217;- argumentasi ini ternyata terbukti secara mengejutkan, sangat lemah.  Barangkali anda berpikir bahwa sudah sangat jelas, Tuhan haruslah ada.  Jika tidak,  bagaimana mungkin  tanpa Tuhan, dunia ini bisa menjadi ada?. Bagaimana mungkin tanpa Tuhan, bisa terjadi kehidupan, dengan segala keanekaragamannya yang sangat kaya, dengan tiap-tiap jenis yang terlihat secara hebat, seolah-olah  dirancang oleh sesuatu (Tuhan,red)? Jika anda berfikir demikian, Saya berharap anda akan memperoleh pencerahan dari Bab 4, dengan judul &#8216;Mengapa hampir bisa dipastikan  tidak ada Tuhan&#8217;. Alih-alih mencari perancang, ilusi tentang rancangan kehidupan di dunia ini dapat  diterangkan dengan hukum ekonomi dan dengan teori seleksi alam Darwinian. Dan, saat teori seleksi alam  sangat terbatas untuk menjelaskan dunia yang hidup ini, maka akan  membangkitkan kesadaran kita terhadap kemungkinan penjelasan yang komparatif mengenai teori “keran” yang dapat menopang pemahaman kita menyangkut alam semesta. Kekuatan  teori “keran”, yaitu seleksi alam  merupakan poin kedua dari empat pesan-penyadaran yang saya sampaikan.</p>
<p>Barangkali anda berpikir  tentang keharusan  adanya Tuhan  atau tuhan-tuhan, sebab ahli antropologi dan sejarawan melaporkan bahwa para penganut agama selalu ada dan mendominasi sepanjang sejarah peradaban manusia. Jika anda menemukan bahwa hal ini sangat meyakinkan, silahkan membaca Bab 5, tentang  &#8216;Akar-akar keyakinan  agama&#8217;, yang  menjelaskan mengapa kepercayaan (Tuhan,red) selau dapat ditemui di berbagai tempat di dunia ini. Atau apakah anda berpikir kepercayaan agama itu diperlukan bagi kita  untuk menuntun moralitas? Bukankah kita memerlukan Tuhan  untuk menjadi baik? Silahkan baca Bab 6 dan 7 untuk melihat mengapa hal ini tidak seperti yang kita pikirkan. Apakah anda masih melihat sesuatu yang baik dalam agama untuk memberikan kebaikan bagi dunia, sekalipun anda tidak beriman terhadap hal itu? Bab 8 akan mengajak anda  untuk memikirkan bagaimana agama tidak menjadi sesuatu yang baik bagi dunia.</p>
<p>Jika anda merasakan terjerat dalam agama pada masa kanak-kanak, hal ini akan  menjadi pertanyaan yang berharga bagi diri anda,  bagaimana ini bisa terjadi. Jawaban pada umumnya adalah indoktrinasi yang terjadi di masa kanak-kanak anda. Jika anda menjadi sangat religius , hal itu sangat mungkin bahwa agama anda adalah warisan orang tua anda. Jika anda dilahirkan di Arkansas dan  berpikir ajaran Kekristenan adalah benar dan Islam salah, maka anda akan berfikir sebaliknya jika anda dilahirkan di Afghanistan, anda menjadi korban  indoktrinasi di masa kanak-kanak anda.</p>
<p>Keseluruhan permasalahan agama dan  masa kanak-kanak menjadi pokok bahasan Bab 9, yang   juga meliputi pesan-penyadaran ketiga saya. Sama halnya seperti pejuang hak wanita (feminist) tidak dapat menerima, ketika mereka mendengar kata “He” bukannya “He or She”, atau &#8216; Man&#8217; bukannya &#8216;Human&#8217; (sensitifitas gender dalam  kaidah bahasa untuk kata ganti orang,red), saya ingin agar semua orang juga tersentak ketika kita mendengar suatu ungkapan seperti “anak katolik”  atau “anak islam”. Jika anda mendengar seseorang berbicara tentang ”anak katolik”, hentikan  mereka  dan beritahulah dengan sopan bahwa  anak-anak masih terlalu muda untuk menentukan agama mereka, sama halnya mereka masih terlalu muda untuk menentukan posisi mereka dalam perdebatan masalah-masalah ekonomi dan politik. Oleh karena tujuan saya adalah  untuk membangkitkan kesadaran kita, maka saya tidak akan  segan-segan untuk membahas hal semacam  ini dalam Kata pengantar, seperti halnya yang juga saya tulis dalam Bab 9. Jika anda tidak mampu untuk terus mengatakannya, maka saya akan terus mengatakannya. Saya tegaskan  bahwa tidak ada istilah “anak muslim”, tapi yang ada adalah  seorang anak dari orang tua yang muslim. Karena, anak-anak masih terlalu muda untuk mengetahui apakah dia muslim atau tidak. Sama halnya, tidak ada istilah “anak kristen”.</p>
<p>Bab 1 dan 10 buku ini menjelaskan, dengan  cara berbeda, bagaimana kita dapat merumuskan pemahaman tentang dunia ini -sembari untuk tidak selalu mengait-ngaitkannya dengan agama- dapat mendatangkan ide inspiratif bahwa agama secara historis telah menguasai dunia.</p>
<p>Pesan-penyadaran saya yang ke empat adalah kebanggan untuk menjadi seorang Atheist. Dengan menjadi Atheist, tidak perlu ada sesuatu yang anda bantah atau anda sesalkan. Sebaliknya, ini adalah sesuatu yang seharusnya anda banggakan, berjalan dengan wajah tegak kedepan, karena pilihan untuk menjadi Atheist merupakan indikasi bagi orang yang memiliki kebebasan berfikir dan, tentu saja, berfikiran sehat. Ada banyak orang-orang menyadari  dari nurani terdalam mereka, bahwa mereka sebenarnya adalah seorang Atheist, tetapi mereka takut untuk mengatakannya kepada keluarga mereka atau bahkan, bagi beberapa orang, mereka takut untuk menerima kenyataan itu bagi diri mereka sendiri. Hal ini sebagian (besar) disebabkan oleh kata “Atheist” yang sejak dulu dikenal sangat menakutkan dan mengerikan. Bab 9 mengutip kisah komik dramatis komedian Julia Sweeney tentang penemuan orangtuanya, ketika membaca surat kabar, dan sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang  Atheist. Tidak percaya terhadap adanya Tuhan (Atheist) dapat menjadi sebuah pilihan yang dapat diambil!,  Atheist..!!!</p>
<p>Saya perlu untuk mengatakan pada para pembaca di Amerika, khususnya pada poin ini, religiusitas (semangat beragama,red) yang terjadi di Amerika saat ini menunjukkan tren yang sangat luar biasa. Seorang pengacara, Wendy Kaminer  sangat berlebihan ketika mengatakan bahwa memperolok agama merupakan suatu tindakan yang penuh resiko, sama seperti ketika anda  membakar bendera Amerika di markas tentara Amerika.1 Menjadi seorang Atheist saat ini di Amerika sama seperti ketika anda menjadi seorang Homoseksual pada 50 tahun yang lalu. Dewasa ini, setelah terjadinya gerakan Gay Pride, Homoseksualitas telah dimungkinkan di Amerika,  meskipun masih tidak mudah bagi kaum homoseksual  untuk dipilih menduduki  jabatan-jabatan publik. Suatu polling dilaksanakan oleh Gallup Poll pada tahun  1999, masyarakat  Amerika ditanya apakah mereka akan memilih alternatif calon yang berkualifikasi,  dari figur ;  perempuan  (95 persen akan memilih perempuan), seorang yang beragama Katolik Roma ( 94 per sen), Yahudi (92 persen), orang kulit hitam ( 92 per sen), seseorang dari gereja Mormon (79 per sen), homoseks (79 per sen) atau seorang Atheist (49 per sen). Dari polling itu, sangat jelas bahwa jalan perjuangan kita (kaum Atheist,red) masih panjang. Tetapi keberadaan kaum Atheist sebenarnya jauh  lebih banyak daripada yang kita sadari, terutama di kalangan kaum elit berpendidikan. Bahkan di Abad ke-19 ini,  ketika John Stuart Mill mengatakan: “Dunia akan sangat dikejutkan jika  mengetahui bagaimana proporsi yang sangat agung yang terjadi pada alam ini, yang dikatakan oleh banyak teori-teori terkenal dan bahkan oleh  teori-teori populer tentang kebijaksanaan (wisdom) dan kebaikan (virtue), sangat skeptis (meragukan) terhadap eksistensi agama.”</p>
<p>Kenyataan ini bahkan sangat benar adanya, tentu saja, saya akan  menyajikan bukti  mengenai kebenaran tersebut pada Bab 3. Alasan dari banyak orang untuk tidak mengatakan bahwa dirinya Atheist adalah karena kebanyakan  dari kita masih merasa segan untuk menunjukkan diri. Harapan saya, buku ini dapat membantu orang-orang untuk bangga menunjukkan dirinya sebagai seorang Atheist. Persis seperti kasus gerakan  Gay Pride-nya kaum Gay, semakin banyak orang-orang menunjukkan statusnya, maka semakin  mudah bagi yang lain untuk mengikuti. Mungkin nanti akan ada kelompok orang-orang  kritis yang akan mengawali gerakan ini.</p>
<p>Polling-polling yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa jumlah Atheist dan Agnostic jauh melebihi  jumlah Yahudi religius, dan bahkan jauh melebihi jumlah hampir semua kelompok religius tertentu. Tidak seperti Yahudi, yang terkenal sebagai salah satu dari kelompok yang lobi-lobi politiknya paling efektif di Amerika Serikat, dan kaum Kristen Evangelis, yang memegang kuasa politik sangat  besar, kaum Atheist dan agnostik tidaklah terorganisir dan oleh karena itu hampir tidak memiliki pengaruh apa-apa. Tentu saja, mengorganisir kaum Atheist sama  halnya seperti  menggembalakan kucing, sebab mereka cenderung untuk berpikir  bebas dan  tidak akan berkompromi terhadap kekuasaan. Tetapi langkah baik pertama yang harus dilakukan adalah membangun komunitas massa untuk menunjukkan eksistensi diri kaum Atheist (show-up), dengan demikian  akan memberikan  harapan bagi yang lain untuk juga ikut menunjukkan eksistensinya. Sekalipun kucing-kucing itu tidak bisa digembalakan, namun kucing-kucing dalam jumlah yang  cukup, dapat membuat banyak suara gaduh dan mereka tidak bisa diabaikan begitu saja.</p>
<p>Kata “delusion” (arti: hayalan,red) pada judul buku ini telah membuat gelisah  beberapa psikiater yang  sering menggunakan kata “delusion” sebagai istilah teknis dalam ilmu kejiwaan. Tiga diantaranya mengusulkan kepada saya suatu istilah teknis khusus untuk fenomena “religius delusion”, yaitu “relusion”.2 Barangkali itu sangat cocok. Tetapi saya masih merasa pas dengan kata “delusion” untuk judul buku ini, dan disini, saya merasa perlu untuk mengungkapkan alasan pemilihan saya terhadap kata “delusion” itu. Kamus Bahasa Inggris, Penguin English Dictionary mendefinisikan kata  “delusion” sebagai  “a false belief or impression” (arti: kepercayaan yang palsu/salah atau suatu kesan,red). Yang mengejutkan adalah, kutipan ilustratif pada kamus tersebut yang diberikan oleh Phillip E. Johnson: “Darwinisme (Faham Darwin) merupakan kisah tentang pembebasan ras manusia dari delusion  (khayalan,red) yang  mengatakan bahwa manusia ditakdirkan untuk dikendalikan oleh sesuatu (Tuhan,red) yang memiliki kekuatan lebih besar dibanding dirinya sendiri.” Mungkinkah pengertian tentang  “delusion”  itu datang dari seorang Phillip E. Johnson, seorang pemimpin ide kaum kreasionis (kreasionis: ajaran kepercayaan tentang Tuhan,red)  yang selama ini konsen dalam menyerang faham darwinisme (darwinisme: cikal bakal lahirnya Atheisme,red) di Amerika? Tentu saja tidak diragukan lagi, itu merupakan pengertian yang diberikan oleh Phillip E. Johnson, dan pengertian itu, seperti yang kita kira, diberikan diluar konteks pengertian yang ingin dimaksud. Saya berharap  bahwa usaha saya yang telah mencoba memberikan pengertian kata “delusion” dari banyak sumber ini, dapat menjadi catatan tentang alasan saya mengambil judul itu, karena banyak dari literatur tulisan dan kutipan dari para kreasionis mengenai “delusion” ini belum saya dapatkan. Bagaimanapun juga, pengertian yang diberikan oleh Johnson sangat baik untuk saya elaborasi. Kamus dari Microsft Word menggambarkan “delusion” sebagai  “a persistent false belief held in the face of strong contradictory evidence, especially as a symptom of psychiatric disorder” (arti: “suatu kepercayaan yang sangat salah/ palsu  yang berlawanan dengan kenyataan yang ada, terutama dapat dikatakan  sebagai gejala gangguan jiwa”,red) . Di satu sisi, dapat dilihat keimanan relijius yang sempurna. Sebagai  suatu gejala gangguan jiwa, Saya ingin mengutip pernyataan dari Robert M. Pirsig, pengarang  buku Zen and the Art of Motorcycle Maintenance, ketika ia berkata, “Ketika  seseorang yang menderita “delusion” (khayalan,red), maka itu dapat disebut suatu  kegilaan. Ketika banyak orang  yang menderita “delusion” maka itu disebut Agama.”</p>
<p>Seandainya buku ini mendapat sambutan sesuai dengan keinginan saya, maka  para pembaca religius yang membaca buku ini  akan menjadi Atheist ketika mereka selesai membacanya . Sungguh suatu optimisme yang berlebihan! Tentu saja, benar-benar iman telah kebal terhadap berbagai macam argumentasi, perlawanan  argumentasi mereka yang di bangun bertahun-tahun berupa indoktrinasi dimasa kanak-kanak telah  dilawan  dengan menggunakan berbagai cara yang telah ada sejak berabad-abad  yang lalu  (apakah itu melalui teori evolusi ataupun teori desain) . Di antara alat pengebalan (agar tetap percaya pada adanya Tuhan,red)  yang paling efektif adalah suatu peringatan mengerikan untuk menghindari, bahkan untuk sekedar membuka, buku seperti ini, yang jelas bagi mereka merupakan  pekerjaan Setan. Tetapi saya percaya ada banyak orang-orang yang  berpandangan terbuka di luar sana: orang-orang yang  indoktrinasi masa kecilnya mengenai agama tidak terlalu dalam, atau untuk beberapa pertimbangan mereka memutuskan untuk tidak beragama, atau orang-orang yang  kecerdasan intelektualnya sejak awal tidak menerima indoktrinasi semacam agama. Semangat kebebasan seperti itu hanya memerlukan sedikit motivasi untuk melepaskan diri secara total dari dampak buruk pengaruh agama. Setidak-tidaknya, saya berharap agar tak ada satupun orang setelah membaca buku ini, lalu berkata, “I didn’t know I could.” (arti :  “Aku tidak tau apakah aku mampu untuk melakukannya (keluar dari kepercayaan agama –menjadi Atheist-)”)</p>
<p>Catatan:</p>
<p>1Wendy Kaminer, &#8216;The last taboo: why America needs atheism&#8217;, New Republic, 14 Oct. 1996; http://www.positiveatheism.org/writ/kaminer.htm.</p>
<p>2Dr Zoe Hawkins, Dr Beata Adams and Dr Paul St John Smith, personal communication.</p>
<p>*Bootleg copies are being downloaded from numerous US websites. Negotiations are under way for legitimate DVDs to be marketed. At the time of going to press these negotiations are incomplete &#8211; updates will be posted at www.richarddawkins.net.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=327&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/09/20/buku-the-god-delusion-khayalan-tentang-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Training ESQ 165: Sebuah Kritik</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/training-esq-165-sebuah-kritik/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/training-esq-165-sebuah-kritik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 04:29:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu, saya sempat mengikuti training emotional dan spiritual quotion yang dimotori oleh lembaga khusus training emotional and spiritual quotion (ESQ 165) Ary Ginanjar Agustian. Dari berbagai macam pengakuan rekan-rekan saya sesama peserta, banyak diantara mereka yang mendapatkan pencerahan emosional dan spiritual, training yang luar biasa, menyentuh hati, dan sebagian lagi mengatakan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=322&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>            Beberapa saat yang lalu, saya sempat mengikuti training emotional dan spiritual quotion yang dimotori oleh lembaga khusus training emotional and spiritual quotion (ESQ 165) Ary Ginanjar Agustian. Dari berbagai macam pengakuan rekan-rekan saya sesama peserta, banyak diantara mereka yang mendapatkan pencerahan emosional dan spiritual, training yang luar biasa, menyentuh hati, dan sebagian lagi mengatakan bahwa ini akan menjadi titik balik dalam kehidupan mereka untuk menjalani hidup dimasa yang akan datang. May it works yaa..!</p>
<p>            Bagaimana dengan saya? Jika ada sesuatu yang dapat saya kagumi dari training tersebut, itu adalah efek audio visual yang mensupport proses training itu.</p>
<p>Cara trainer dalam menyajikan materi training dari satu slide ke slide yang lain, pengaturan intonasi dan penekanannya dalam menyampaikan materi, hingga cara trainer dalam menggugah emosi peserta yang dapat dikatakan sangat baik.</p>
<p>            Ketertarikan saya sebenarnya untuk ikut training ini, ingin ikut mencoba merasakan “kebahagiaan” (kata yang sering dipakai, setelah mengikuti training ini) yang dialami oleh rekan-rekan saya yang sudah lebih dulu mengikuti training. Selain itu, saya juga ingin menuntaskan rasa ingin tau saya tentang training ini, seberapa besar nilai yang dikeluarkan secara finansial akan berbanding lurus dengan kebahagiaan spiritual yang akan didapat. Dalam pengetahuan saya, ESQ 165 merupakan lembaga training paling populer saat ini, klien dan alumninya pun merupakan kalangan kelas elit eksekutif, baik itu pejabat birokrasi, pengusaha maupun kalangan akademisi. Hal ini juga menjadi ketertarikan saya untuk mencari tau, bagaimana sistem training yang di bangun sehingga mampu menarik kalangan middle-high class utk ikut bergabung.</p>
<p>            Jauh dari itu semua, saya sebenarnya ingin mengetahui juga, bagaimana dan darimana training ESQ 165 yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian ini, membangun basis spiritualitas pemahaman agama di tengah kecenderungan dunia yang semakin global serta di tengah invasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih.</p>
<p>Jika dilihat dari peristiwa kekinian tersebut, tampaknya agama dan spiritualitas sulit untuk berkembang melawan objektivitas dan rasionalitas ilmu pengetahuan dewasa ini. Tapi penulis juga tidak menutup mata terhadap kemungkinan terjadinya kebangkitan spiritualitas agama di tengah fenomena tersebut. Hal ini sebagaimana hipotesis john naissbitt dan patricia aburdance, bahwa pada awal abad ke 21 akan terjadi kebangkitan rasa keagamaan secara global. Tapi penulis tidak begitu sepakat dengan hipotesis keduanya yang mengatakan (yang didukung oleh semboyan Spirituality, yes. Organized religion, no), bahwa kebangkitan tersebut lebih merupakan kebangkitan spiritualitas dibanding kebangkitan agama. Azyumardi Azra mengatakan pendapat tersebut layak dibantah karena dua hal. Pertama, karena keduanya melakukan studi kasus pada agama mapan di Amerika (yaitu kristen dan katolik). Kedua, karena spiritualitas dalam islam tidak terpisah terhadap ajaran agama islam itu sendiri (berbasis syari’ah, yaitu tradisi tasawwuf). Dan yang ketiga, jika penulis dapat menambahkan, adalah kecenderungan meningkatnya aktivitas keagamaan islam dengan indikasi munculnya banyak kelompok-kelompok keagamaan islam di tanah air.</p>
<p>            Sebagaimana dikatakan sebelumnya, kebangkitan nilai-nilai spiritualitas agama ini, jika di kaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, seharusnya akan tampak berbanding terbalik. Namun, tidak demikian adanya. Karena manusia dewasa ini semakin sadar akan nilai-nilai spiritualitas setelah melihat perkembangan modern yang mencemaskan dan ilmu pengetahuan yang tidak lagi dapat menjamin kepastian, sehingga nilai-nilai spiritual di anggap sesuatu yang cukup baik untuk menghilangkan kecemasan tersebut. Hal ini mungkin dapat dijelaskan dengan pernyataan E.F Schumacher yang dikutip oleh Budhy Munawar-Rachman berikut:</p>
<p>   “…kesombongan ilmu-ilmu materialistik telah berkurang, dan bahkan adakalanya orang telah bertenggang hati bila nama Tuhan disebut dalam pergaulan yang sopan. Harus diakui bahwa beberapa diantara perubahan pikiran ini pada mulanya tidak berasal dari wawasan rohani, melainkan dari kecemasan materialistik yang ditimbulkan oleh krisis lingkungan, krisis bahan bakar, ancaman akan krisis bahan makanan dan petunjuk-petunjuk akan datangnya krisis kesehatan. Menghadapi semua ancaman ini kebanyakan orang masih mencoba percaya pada kepastian teknologi. Jika kita dapat mengembangkan energi peleburan, kata mereka, kesulitan bahan bakar akan tepecahkan, jika kita dapat menyempurnakan proses mengubah minyak menjadi protein yang dapat dimakan, kesulitan bahan makanan dunia akan dipecahkan, dan pengembangan obat-obatan pastilah akan sanggup menghindarkan setiap ancaman dari krisis kesehatan… dan sebagainya.”</p>
<p>   “…Manusia menutup gerbang-gerbang surga terhadap dirinya sendiri dan mencoba dengan daya kerja dan kecerdikan yang besar sekali, mengurung diri mereka dibumi. Kini manusia mulai mengetahui bahwa bumi hanyalah tempat persinggahan sementara. Sehingga penolakan untuk mencapai surga berarti tak sengaja turun ke neraka.”</p>
<p>   “…Percobaan modern untuk hidup tanpa agama telah gagal, dan sekali lagi memahami hal ini, kita pun lalu tahu apa sesungguhnya tugas pasca-modern kita.”</p>
<p>Penulis berpandangan, sepertinya Ary Ginanjar Agustian , memahami keadaan ini dan membaca peluang dibalik kebangkitan spiritualitas keagamaan tersebut. Bahwa saat ini, manusia sedang membutuhkan penyaluran hasrat spiritualnya untuk menghilangkan kepenatan modernitas yang menghantui mereka di setiap aktivitas kehidupan saat ini. Selanjutnya, tinggal bagaimana kita dapat mengelola dan menghilangkan kepenatan modernitas tersebut melalui saluran yang tepat dan secara proporsional. Training ini dapat memadukan dengan baik teori ilmu pengetahuan dan penegasan wahyu Tuhan di dalam Al-Qur’an.</p>
<p>Setidaknya ada dua pendekatan argumentasi teologis yang di pakai oleh training ini dalam menjelaskan eksisitensi Tuhan. Penulis dapat menyebutkannya. Pertama adalah argumentasi teleologis yang dicetuskan oleh William Paley. Argumen ini mendasarkan basisnya pada keteraturan alam semesta yang berjalan secara sistematis. Menurut Paley, sistemasi alam ini tentu tidak berjalan secara sendiri, melainkan ada yang mengelola keteraturan tersebut, yaitu Tuhan. Dalam filsafat islam, argumen ini terkenal dipopulerkan oleh Ibnu Rusyd melalui teori dalil al-inayah nya yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sesuai bagi eksistensi manusia, dan keteraturan alam semesta haruslah muncul dari sebuah agen yang sengaja melakukannya untuk tujuan tertentu (tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang hanya kebetulan).</p>
<p>Argumentasi teleologis semacam ini di kritik tajam oleh Immanuel Kant, bahwa argumentasi ini hanya berdasarkan dunia fenoumena (fisik), dan tidak bisa berkutik jika di hadapkan pada permasalahan noumena (metafisik). Bagi Kant, dalam dunia noumena ada tiga unsur metafisik yang tidak bisa dijelaskan melalui pendekatan fenoumena saja, yaitu Tuhan, Immortalitas dan kebebasan. Ketiga hal ini menurut kant, tidak bisa dicapai melalui rasio murni manusia. Oleh karenanya, pendekatan teleologis ditolaknya.</p>
<p>Dalam waktu selanjutnya, Immanuel Kant memberikan solusi pendekatan baru, yaitu argumentasi moral. Menurut Kant, dalam diri manusia terdapat dua hasrat, ingin bahagia dan ingin selalu berbuat baik. Untuk mencapai kebahagiaan dan kebaikan, maka menurut kant, manusia harus selalu mendengarkan suara hatinya untuk berbuat baik sebagai kewajiban moral. Dan yang membisikkan suara hati itu adalah Tuhan.</p>
<p>Teori moral Immanuel kant ini kemudian juga disanggah oleh Bertrand Russel yang mengatakan bahwa Tuhan dan suara hati (moral) tidaklah sama. Terlalu memalukan, kata Russell, untuk memberi pengertiaan tentang eksistensi Tuhan dengan pendekatan ini yang seolah meyiratkan bahwa kepercayaan kepada Tuhan berangkat dari kebutuhan duniawi. Hal ini menurut Russel bertentangan secara logika, namun juga merugikan secara moral, karena dasar dari moral adalah kejujuran. Seseorang dapat berhenti dari berbuat baik jika tidak ada alasan yang meyakinkan untuk melakukannya. Bahkan dengan keyakinan tertentu, seseorang dapat melakukan suatu tindakan yang tidak bermoral terhadap orang yang tidak melakukan sesuatu yang sesuai dengan keyakinannya. Ia akan menjadi seorang penuntut. Karena itu Russel berpendapat, jika pendekatan moral ini yang dipakai, maka iman adalah suatu kejahatan, karena dengan iman, seseorang mempercayai sesuatu yang tidak meyakinkan, lalu kemudian menilai orang lain berdasarkan ukuran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Kita dapat melihat bahwa kedua pendekatan yang dipakai dalam ESQ 165 bukanlah sesuatu yang baru, kedua pendekatan ini telah lama diperbincangkan dalam perdebatan teologis. Sehingga kritik para filsuf untuk kedua pendekatan teologis diatas juga dapat dipakai untuk memberikan kritik terhadap training ESQ 165 ini.</p>
<p>Jika ada hal lain yang dapat penulis kritik dari training ini, adalah pendekatannya dalam menjelaskan kebenaran Al-Qur’an tentang fenomena alam semesta. Kita tentu memahami bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan kepada manusia yang memiliki kebenaran absolut, sehingga upaya untuk menjelaskan keabsolutan wahyu dengan menyederhanakannya terhadap fenomena semesta yang temporer sangatlah berbahaya. Ilmu pengetahuan mengenai semesta terus berkembang, bisa jadi teori yang diyakini saat ini akan dibantah dengan ilmiah dimasa yang akan datang, sementara wahyu bersifat kebenaran yang selamanya akan dipegang. Sehinnga suatu saat nanti, ketika kebenaran ilmu pangetahuan tentang fenomena saat ini dibantah, dan sudah terlanjur dicocokkan dengan berita yang terdapat dalam Al-Qur’an, maka kebenaran wahyu pun secara tidak langsung akan tergugat.</p>
<p>Hal selanjutnya yang ingin penulis sampaikan adalah tentang bagaimana sosok sang Ary Ginanjar Agustian ini menjadi tokoh sentral yang di singgung banyak dalam training ini. Untuk menjelaskan kritik selanjutnya, penulis ingin mengutip sebuah ulasan oleh ustaz dari malaysia yang pernah mengikuti training ini, selengkapnya dapat dilihat di (http://ustaz.blogspot.com/2009/05/saya-tidak-menyukai-esq-165.html, dikutip pada 19 mei 2011 pukul 10.30 wita)</p>
<p>“Ajaran ESQ pada pendapat peribadi saya lebih menyerupai Kultus Gaya Baru. Melihat di skrin besar gambar Dr Ary Ginanjar Agustian sejak daripada mula sehingga akhir dan gaya para pelatih serta cara pembawaan ESQ Modul 165 telah menyedarkan saya akan hal ini. Untuk apa disebut-sebut Dr Ary Ginanjar sebagai penemu dan pencipta modul ESQ 165 ? Sedang jika benar 1 itu merujuk kepada “Satu hati dan Ihsan” , 6 itu merujuk kepada “enam rukun Iman” dan 5 itu pula merujuk kepada “lima rukun Islam”? Bukankah ianya sudah ada di dalam Al-quran dan As-Sunnah ? bukankah ianya sudah pun puas di syarah dan jenuh sudah ditekuni oleh para salaf dan tiada yang tinggal daripada agama ini segala kebaikkannya melainkan yang sudah diterangkan kepada kita?”</p>
<p>            Apa yang sudah disampaikan diatas sebenarnya memiliki kesamaan pandangan dengan penulis, sejak saat penulis mulai dari awal mengikuti training ini. Fenomena kultus gaya baru semacam ini mengambil setting yang sangat elegan di dukung oleh kemampuan sumber daya yang mumpuni, dimulai dari para traineer, peralatan training, hingga para ATS/ relawan yang membantu kegiatan training ini. Apalagi pada satu sesi tertentu, traineer sempat menegur salah satu peserta yang hanya mengucapkan nama Ary Ginanjar Agustian, tanpa awalan pak, om, atau yang lainnya. Sikap yang kurang bersahabat terhadap ekspresi egalitarian, penulis pikir.</p>
<p>            Pada akhirnya, ini semua hanya pandangan penulis secara pribadi, silahkan pembaca menilainya secara objektif dan proporsional, terutama bagi para alumni training ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/322/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=322&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/training-esq-165-sebuah-kritik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Renungan Perkaderan Kita</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/renungan-perkaderan-kita/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/renungan-perkaderan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 04:26:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>
		<category><![CDATA[whatever..!]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan “Mahasiswa Islam sebagai generasi muda yang sadar akan hak dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada umat manusia, umat muslim dan Bangsa Indonesia bertekad memberikan dharma bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata‘ala.” Kutipan yang terlihat diatas merupakan bunyi dari paragraf kelima dalam mukaddimah anggaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=320&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendahuluan</p>
<p>“Mahasiswa Islam sebagai generasi muda yang sadar akan hak dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada umat manusia, umat muslim dan Bangsa Indonesia bertekad memberikan dharma bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata‘ala.”</p>
<p>            Kutipan yang terlihat diatas merupakan bunyi dari paragraf kelima dalam mukaddimah anggaran dasar Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) yang menjelaskan tentang posisi dan peran strategis Mahasiswa Islam sebagai representasi dari generasi muslim dalam merealisasikan cita-cita terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata‘ala., setelah pada paragraf sebelumnya dijelaskan tentang ajaran Islam yang merupakan pedoman dalam kehidupan, fitrah manusia untuk mengabdi pada peradaban, dan terakhir adalah posisi umat islam indonesia sebagai bagian dari bangsa yang memiliki potensi pengabdian bagi kejayaan bangsa ini.</p>
<p>            Dalam pasal 4 anggaran dasar Himpunan Mahasiswa Islam, makna dari kalimat  diatas di afirmasi lebih mendalam, dan di tempatkan sebagai tujuan perjuangan dan perkaderan (Mission). Lebih lengkapnya anggaran dasar mengatakan Himpunan Mahasiswa Islam bertujuan agar “Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata‘ala.” Dengan rumusan tersebut, maka pada hakekatnya HmI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kuantitatif, sebaliknya HmI secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif. Dari tujuan ini kemudian dapat dijabarkan 5 kualitas insan cita HmI yang harus mewujud dalam pribadi setiap kader HmI; kualitas insan akademis (memiliki rekam jejak intelektual dan akademik yang baik), kualitas insan pencipta (memiliki daya inovasi, kreasi dan inisiatif yang cemerlang dalam berkarya), kualitas insan pengabdi (memiliki orientasi perjuangan semata untuk mengabdi pada Tuhan, masyarakat dan alam), kualitas insan islam (menjadikan nilai-nilai luhur ajaran islam sebagai orientasi perjuangan) dan kualitas insan bertangggung jawab dalam mewujudkan tatanan masyarakat adil makmur dalam ridho Allah Subhanahu wata‘ala (Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofuur) . Hampir setiap kader HmI sangat ingat dan hafal bagaimana Mission itu di lafalkan, namun demikian pengejawantahannya dalam aktifitas pribadi dan keorganisasian masih belum dapat dikatakan berhasil.</p>
<p>            Oleh karena itu, kader HmI sebagai ujung tombak yang mengemban misi mulia tersebut harus dapat mendefinisikan dirinya dalam kancah perjuangan kekinian dengan berbagai ancaman dan tantangan yang menanti. Dari sini dapat dilihat bahwa kader-kader HmI merupakan individu yang bertanggungjawab bagi berlangsungnya sistem secara simultan dan oleh karenanya, peran untuk merealisasikan cita-cita luhur HmI secara penuh berada di tangan kader HmI.</p>
<p>Kader dan Perkaderan</p>
<p>Dapat dilihat terlebih dahulu tinjauan makna kader (cadre) yang dipaparkan oleh AS. Hornby berikut,</p>
<p>“Cadre is a small group of people who are specially chosen and trained for a particular purpose, or “cadre is a member of this kind of group; they were to become the cadres of the new community party “ (AS. Hornby)</p>
<p>Dengan bahasa sederhana, yang dimaksud dengan kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Dalam konteks Himpunan Mahasiswa Islam (HmI), maka pengertian dari perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HmI, sehingga memungkinkan seorang anggota HmI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi seorang kader Muslim &#8211; Intelektual &#8211; Profesional, yang memiliki kualitas insan Cita. Untuk mewujudkan hal ini tentu dilakukan melalui serangkaian upaya sistematis, yang diwujudkan dalam usaha rekruitmen, pelatihan, dan pembinaan. Keseluruhan upaya untuk menuju hal itulah yang dinamakan dengan sitem perkaderan. Perkaderan menjadi sarana ikhtiar kader-kader HmI yang telah lebih dahulu mengabdi, untuk meneruskan estafet perjuangannya kepada generasi penerus selanjutnya yang terlebih dahulu perlu di didik, di latih dan di bekali kemampuan untuk melanjutkan kehidupan organisasi dalam upaya meneruskan pengabdian.</p>
<p>Perkaderan HmI bertujuan adalah demi terciptanya kader muslim-intelektual-profesional yang berakhlakul karimah serta mampu mengemban amanah Allah sebagai khalifah fil ardh dalam upaya mencapai tujuan organisasi.</p>
<p>Beberapa Renungan untuk Perkaderan Kita</p>
<p>            Dalam prosesnya, perkaderan HmI bukan merupakan sesuatu yang sempurna, bebas dari kekurangan dan tantangan. Bahkan, perkaderan HmI penuh dengan semua itu. Eksistensi perkaderan HmI dan lebih-lebih pula, eksistensi HmI dimasa selanjutnya ditentukan oleh kemampuan segenap elemen HmI untuk merumuskan sistem perkaderan yang friendly terhadap arus dinamika zaman. Arus dinamika zaman yang dimaksud adalah kecenderungan zaman dalam mendefinisikan kehidupan global vis-a-vis dinamika perkembangan peradaban umat manusia.</p>
<p>Kebangkitan Pengalaman Spritual dalam beragama</p>
<p>Hipotesis John Naissbitt dan Patricia Aburdance dalam buku Megatrends 2000 (1990), bahwa pada awal abad ke 21 akan terjadi kebangkitan rasa keagamaan secara global, barangkali menjadi suatu teori yang berguna untuk merumuskan kebutuhan perkaderan HmI. Keduanya mengatakan (yang didukung oleh semboyan Spirituality, yes. Organized religion, no), bahwa kebangkitan tersebut lebih merupakan kebangkitan spiritualitas dibanding kebangkitan agama. Fenomena spiritualitas secara individual yang menggejala hampir di seluruh belahan dunia saat ini memang menjadi salah satu bukti keberhasilan hipotesis John Naissbitt dan Patricia Aburdance itu, namun demikian kebangkitan itu tidak hanya sebatas aspek spritual seperti dikatakan keduanya, tapi juga kebangkitan keagamaan secara ritual. Hal ini dapat dilihat di Indonesia, masyarakat memadukan secara baik ajaran agama dan keinginan spiritualitasnya. Dengan kata lain, agama dijadikan sebagai sarana penyalur hasrat spiritual. Kebangkitan spiritualitas lebih menekankan pada aspek pengalaman (afektif)  yang bertumpu pada qalb dalam beragama, dibandingkan penekanan pada aspek pemikiran intelektual (kognitif) yang bertumpu pada aql. Oleh karena itu, kelompok keagamaan yang fokus pada pengalaman ruhaniyah sebagai ujung dari spiritualitas beragama, dapat lebih diterima daripada kelompok-kelompok lainnya.</p>
<p>Praksis keberagamaan HmI yang cenderung pada penekanan sisi kognitif-aqliyah dibandingkan daripada sisi afektif-qalbiyahnya dapat menjadi ancaman dan sekaligus tantangan bagi sistem rekruitmen dan perkaderan organisasi ini. Disatu sisi dikatakan ancaman, karena pola perkaderan HmI cenderung menuju pada pengembangan intelektualitas di atas kecenderungan membangun pengalaman spiritualitas dalam beragama. Oleh karena itu, sulit untuk menemukan kader HmI yang berlarut-larut dalam membaca Al-Qur’an sembari meneteskan air mata, karena kebanyakan kader HmI memiliki preferensi untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab operasional teknis dalam mewujudkan masyarakat adil makmur ketimbang menjadikannya sekadar sebagai kitab novel yang menggugah jiwa. Sulit pula untuk menemukan kader HmI yang terpolarisasi dalam arus mayoritas islam tradisional untuk berdzikir akbar bagi mencari pengampunan dosa, karena pengampunan dosa dapat dilakukan melalui aktifitas-aktifitas sosial yang lebih bermanfaat bagi seluruh ummat, dalam hal ini, pandangan egoistik (pengampunan dosa pribadi) disingkirkan terlebih dahulu demi kepentingan kolektif yang lebih mulia (kemaslahatan ummat).</p>
<p>Di sisi lain, dikatakan tantangan karena fenomena diatas (kecenderungan meningkatnya hasrat pengalaman sipritual dalam beragama) dapat menjadi refleksi perkaderan HmI dalam hal rekruitmen kader. Penyesuaian-penyesuaian harus dilakukan terkait dengan perkembangan fenomena zaman, jika HmI ingin terus eksis dalam menyuarakan keluhuran nilai-nilai ajaran Islam. Cara bijak dimasa yang akan datang untuk lebih mendekatkan HmI pada massa yang akan menjadi calon kader adalah dengan mengubah pendekatan diatas, yaitu tidak semata-mata kognitif-aqliyah tapi juga mengimbanginya dengan pendekatan afektif-qalbiyah. Sehingga dengan itu, kuantitas dan kualitas kader HmI dapat menjadi kebanggan dalam meneruskan eksistensi organisasi ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/320/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=320&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/renungan-perkaderan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Liberalisasi Pemikiran Keislaman</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/liberalisasi-pemikiran-keislaman/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/liberalisasi-pemikiran-keislaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 21:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa waktu terakhir, banyak isu yang berkembang dalam kehidupan indonesia sebagai sebuah bangsa yang majemuk. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai macam latar belakang etnis, agama, pandangan politik dan setting geografis yang luas, tentu saja akan di iringi dengan problematika yang dinamis dari saat ke saat. Salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=318&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>         Dalam beberapa waktu terakhir, banyak isu yang berkembang dalam kehidupan indonesia sebagai sebuah bangsa yang majemuk. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai macam latar belakang etnis, agama, pandangan politik dan setting geografis yang luas, tentu saja akan di iringi dengan problematika yang dinamis dari saat ke saat. Salah satu isu yang muncul dalam kurun waktu belakangan ini adalah mengenai gerakan NII (Negara Islam Indonesia).<br />
	Isu gerakan NII yang mencuat ini banyak menghiasi berbagai macam media massa baik cetak maupun elektronik. Gerakan NII mulai ramai dibicarakan ketika ada pemberitaan mengenai ‘orang hilang’. Belakangan diketahui, bahwa orang tersebut menjadi korban pencucian otak yang dilakukan oleh kelompok ini. Dan yang menjadi sasaran, sebagian besar adalah mahasiswa di perguruan tinggi.<br />
	Semua pemberitaan itu terarah pada NII komandemen Wilayah IX (KW IX). NII KW IX ini sendiri diduga dipimpin oleh Abu Toto alias Abdul Salam alias Abu Maarik alias Panji Gumilang. Panji gumilang juga merupakan pimpinan ponpes Al-Zaitun di Jawa Barat. Gerakan yang dilakukan kelompok ini adalah dengan merekrut orang-orang untuk dijadikan sebagai penggerak organisasi tersebut. Cara perekrutan dapat dikatakan modus baru dalam gerakan organisasi islam, yaitu metode pencucian otak. Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai aksi perekrutan ini, apakah yang dimaksud pencucian otak merupakan salah satu dari metode dalam hipnotis ataupun proses internalisasi nilai yang dilakukan secara alamiah berupa transformasi gagasan. Tapi jika dilihat hasilnya, proses perekrutan itu begitu cepat, dan hal ini mengarahkan bahwa proses perekrutan dilakukan dengan pendekatan pencucian otak melalui metode hipnotis.<br />
	Sebagaimana yang telah diketahui, organisasi NII merupakan organisasi yang memiliki cita-cita ideologis untuk mendirikan negara islam indonesia. Sebuah negara yang diatur penuh berdasarkan hukum dan syari’at islam. Gerakan ini berakar dari cita-cita gerakan yang diprakarsai oleh Kartosoewiryo melaui organisasi DI/TII pada tahun 1949. Namun demikian secara praktek kekinian yang ditunjukkan oleh NII dinilai menyimpang dari ajaran islam. MUI berpendapat bahwa letak penyimpangan NII diantaranya adalah mobilisasi dana yang menghalalkan berbagai macam cara, termasuk merampok, penipuan dan lain sebagainya. Kemudian tidak mengakui keislaman orang diluar kelompoknya dan praktek keislaman dalam masalah zakat dan kurban yang berbeda dari pemahaman islam pada umumnya (sebagaimana yang terjadi pada ponpes Al-Zaitun pimpinan Panji Gumilang).<br />
	Peristiwa ini sebenarnya hanya merupakan salah satu dari sekian banyak peristiwa serupa yang pernah terjadi di masa lalu. Serangkaian peristiwa tersebut sebagian besar merupakan peristiwa yang berkaitan erat dengan cita-cita ideologis kaum agamawan dalam usaha menegakkan supremasi agamanya dalam ranah kekuasaan. Sebut saja diantara kasus itu adalah peristiwa teror sosial yang terjadi dalam rentang waktu satu dasawarsa terakhir, berupa pengeboman sarana sosial seperti kantor, hotel, café dan yang terakhir adalah paket bom buku yang dikirim kepada tokoh-tokoh kontroversial negeri ini. Rasionalisasi yang diberikan adalah kegiatan teror sosial yang dilakukan tersebut adalah upaya untuk memerangi orang-orang dan kelompok yang menghalangi cita-cita ideologis mereka tersebut.<br />
Para terpidana mati kasus bom bali menyebutkan bahwa sasaran mereka adalah orang-orang asing eropa dan amerika yang menjadi representasi kekuatan barat yang selama ini berada pada posisi menghalangi cita-cita ideologis islam (menurut versi para terpidana tersebut). Begitupun ketika terjadi pengeboman di salah satu kedutaan besar negara sahabat di jakarta, kemudian pengeboman hotel berbintang yang merupakan simbol penguasaan barat terhadap perekonomian negeri ini. Dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat disebutkan.<br />
	Yang dapat dicermati dan menonjol dari akasi-aksi serupa ini adalah corak perjuangan untuk mencapai tujuan yang cenderung abai terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan. Dan terlebih lagi, kaum fundamentalis ini beranggapan bahwa yang dilakukan merupakan sesuatu yang berasal dari islam dan mendapat restu dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini tidak dapat dihindarkan dari cara kaum fundamentalis ini dalam memahami ajaran islam yang sangat literal dan kaku. Otoritas hukum dipandang hanya sebatas apa yang dapat mereka tangkap secara simbolik dari sumber hukum islam, yaitu Al-qur’an dan Hadits.<br />
Azyumardi Azra dalam bahasannya mengenai tipologi gerakan keagamaan, menggolongkan kelompok/golongan seperti yang disebutkan diatas sebagai golongan legalisme/formalisme. Paham keagamaan legalisme/formalisme menekankan sikap eksklusif dan ketaatan formal pada hukum agama, yang dalam konteks sosial kemasyarakatan sering di ekspresikan dalam bentuk-bentuk yang sangat lahiriyah semacam label atau simbol keagamaan. Bagi para pendukung paham ini, ekspresi keagamaan harus didukung secara ekplisit melalui formalisasi misalnya, formalisasi bank islam, asuransi islam, griya dan lain-lainnya. Dalam tataran yang lebih jauh, formalisme dalam bentuk busana pun dilakukan, yaitu berpakaian arab berupa jubah, jenggot yang panjang dan celana di atas mata kaki. Golongan ini bercirikan sangat literalistik dalam memahami ajaran islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi. Sikap seperti ini lah yang disebut sebagai radikal dan fundamentalistik, yang jika tidak di hadapi dengan baik akan berujung pada radikalisme destruktif. Yaitu tinndakan radikal yang membahayakan lingkungan di sekitarnya, berupa pengrusakan dan teror-teror sosial.<br />
Banyak hal yang menyebabkan sikap pemahaman keagamaan yang keras dan radikal seperti itu. Syafii Maarif mengatakan bahwa sikap fundamentalisme agama, yang pertama, dapat disebabkan oleh kegagalan islam dalam menghadapi modernitas yang dianggap sebagian kalangan, menyudutkan islam. Karena ketahanan yang tidak memadai dalam menghadapi modernitas ini dan kemudian terasing, para kaum fundamentalis selanjutnya menghibur diri dengan mencari justifikasi teologis untuk melawan modernitas tersebut. Kedua, sikap fundamentalisme agama dapat di dorong oleh rasa kesetiakawana dan solidaritas keimanan terhadap nasib yang menimpa ummat islam di berbagai belahan dunia, seperti Palestina, Irak, Afganistan, dan negara lainnya di daerah timur tengah. Ketiga, adalah isu kegagalan pemerintah, khususnya indonesia, dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan ummat. Isu ini kemudian dijadikan propaganda oleh kaum radikal fundamentalis untuk mengeksploitasi kegagalan demokrasi (yang sering mereka sebut produk barat dan hasil dari modernitas), dan akhirnya mengukuhkan kedigdayaan syari’at islam dalam mewujudkan negara yang adil dan sejahtera. </p>
<p>Perbedaan ontologis Agama dan Ideologi<br />
	 Sebenarnya yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, sejauh manakah relevansi untuk menegakkan supremasi agama dalam bingkai kekuasaan?. Penulis berpandangan bahwa upaya untuk menegakkan nilai-nilai agama, dalam hal ini islam, dalam bingkai kekuasaan justru akan menurunkan tingkat spiritualitas nilai-nilai agama itu sendiri. Cita-cita untuk menegakkan supremasi agama dalam bingkai kekuasaan, berarti mengharuskan untuk mengubah nilai-nilai agama yang semula luhur dan sangat tinggi, menjadi nilai ideologis yang selanjutnya mendasari perjuangan kelompok tertentu dalam mencapai kekuasan sesuai dengan kadar dan interpretasi kelompok tersebut terhadap nilai-nilai agama itu. Pada tahap ini, nilai-nilai agama tidak lagi menjadi universal, namun sebaliknya menjadi parsial dan partikular. Agama tidak lagi menjadi spirit, malah menjadi hipokrit karena menjustifikasi kekuasaan melalui kesucian agama.<br />
	Agama dan ideologi sebenarnya memiliki titik aksentuasi yang berbeda jika dilihat dari cara pandang ontologis. Keberadaan agama di yakini sebagai manifestasi dari tuntunan Tuhan dalam membimbing fitrah spiritualitas manusia dalam menjalani kehidupan. Sementara ideologi, merupakan penghayatan manusia terhadap alam dan lingkungannya yang membentuk cara pandang manusia tersebut. Selanjutnya ranah aktualisasi agama adalah pada sikap ketundukan dan kepatuhan manusia pada setiap ketentuan Tuhan, pada saat yang bersamaan ideologi menekankan pada institusionalisasi hasil-hasil rasionalisasi pemikiran manusia sebagai ketentuan dalam melaksanakan kehidupan. Dilihat pada perbedaan ontologis ini, maka upaya apapun yang dilakukan untuk menjustifikasi nilai-nilai agama dalam negara akan menghadapi tantangan, apakah nilai-nilai agama yang di usung benar-benar merupakan murni ajaran agama tersebut? Bukannya malah itu merupakan hasil pemikiran para kelompok tersebut mengenai agama yang telah bertransformasi menjadi ideologi.<br />
	Tetapi, entah sengaja atau tidak, kelompok-kelompok radikal fundamentalis yang memperjuangkan hal ini seakan tidak menyadari bahwa telah terjadi degradasi nilai-nilai spiritualitas pada nilai-nilai agama yang mereka perjuangkan. Harus disadari bahwa tindakan seperti ini (justifikasi nilai-nilai agama dalam praktek politik) hanya akan menjatuhkan tingkat spiritualitas agama yang sangat mulia ke tingkatan yang rendah. Nilai-nilai agama yang diarahkan pada ideologisasi gerakan politik hanya akan membuat sempit kerangka nilai agama tersebut, kerana bagaimanapun juga, nilai-nilai agama yang mulia itu akan terkungkung dalam batasan-batasan ideologi dan platform politik golongan tertentu sesuai dengan tingkat pemahamannya terhadap ajaran agama tersebut.<br />
Karakter dari interpretasi ideologi itu bersifat hegemonik, sehingga hal ini menimbulkan anggapan bagi mereka, bahwa siapapun yang menentang ideologi mereka  berarti mentang islam (yang sebenarnya itu hanyalah islam versi mereka). Kelanjutan dari anggapan seperti ini adalah sikap permissif terhadap penyerangan dan kekerasan bagi siapa saja yang berada pada posisi diametral terhadap ideologi mereka.</p>
<p>Akar Historis Relasi Agama, Ideologi dan Kekuasaan<br />
Sejarah islam mencatat banyak hal mengenai persinggunan agama dan ideologi dalam kancah perebutan kekuasaan. Pada masa pasca wafatnya Nabi saw terjadi perdebatan yang hebat mengenai siapa yang akan menggantikan Nabi sebagai pemimpin ummat, sehinnga jenazah Nabi pun pada saat itu, tiga hari baru dikebumikan dikarenakan tidak diinginkan adanya kekosongan kepemimpinan ummat islam. Banyak riwayat yang mengatakan hampir terjadinya pertumpahan darah, namun pada akhirnya atas inisiatif dan saran dari Umar ibn Khattab, terpilihlah Abu Bakar sebagai Khalifah pertama penngganti Nabi Saw.<br />
	Nurcholish Madjid mengatakan bahwa semenjak pergantian kepemimpinan itu terjadi perpecahan di kalangan ummat islam pada saat itu. Ummat islam terbagi dalam tiga golongan. Pertama adalah golongan pewaris aristokrasi makkah yang direpresentasikan oleh kelompok Bani Umayyah dengan ciri memiliki kekuatan finansial dan pengalaman dalam menjalankan pemerintahan. Kedua adalah golongan sosialis-populis yang dipimpin oleh Ali ibn Abi Thalib dengan ciri yang shaleh. Kemudian yang ketiga adalah golongan moderat yang dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar. Jika dilihat lebih jauh, sebenarnya golongan Ali (syi’ah Ali) sebenarnya adalah oposisi terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, apalagi terhadap kaum aristokrat Bani Umayyah. Pergantian kekuasaan dapat kita lihat, setelah turunnya Umar ibn Khattab digantikan oleh utsman bin affan, yang merupakan representasi dari golongan aristokrat umayyah, pewaris tahta kekuasaan makkah pada saat itu. Pada saat yang sama kelompok Ali (syi’ah Ali) merupakan kelompok yang tetap konsisten untuk beroposisi terhadap kepemimpinan golongan Umayyah tersebut.<br />
	Pada masa berkuasanya Utsman inilah perpecahan umat islam mulai menemukan momentumnya. Azyumardi Azra mengatakan bahwa pada masa Utsman (24-36 H/ 644-656 M), terjadi konflik antara kaum muslimin mengenai tuduhan pada pemerintahan Utsman yang melakukan politik nepotisme, karena sejumlah anggota kabilahnya (golongannya) muncul memegang posisi-posisi penting di permerintahan. Oleh karenanya, utsman mendapat oposisi yang keras dari luar pemerintahan oleh golongan Ali, hingga berakhir pada pembunuhan. Selanjutnya perseteruan terus terjadi di kalangan kaum muslimin pasca kematian Utsman, yaitu terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah kelompok yang ingin mengangkat segera Ali ibn Abi Thalib sebagai Khalifah, dan yang kedua adalah kelompok keluarga utsman yang dipimpin oleh Mu’awiyah ibn Abi Sofyan yang menghendaki agar kasus pembunuhan Utsman diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengangkat pemimpin baru dikalangan kaum muslimin. Perseteruan ini akhirnya berakhir dengan perang Shiffin (656-661 M) yang sempat akan dimenangkan oleh golongan Ali, namun karena golongan Mu’awiyah mengajukan perdamaian, akhirnya perang berakhir dengan perdamaian antara dua golongan ini.<br />
Perdamaian ini kemudian memunculkan pro dan kontra di kalangan pendukung Ali ibn Abi thalib. Ada kalangan yang setuju dengan perdamaian tersebut dan adapula yang tidak setuju. Golongan yang tidak setuju terhadap perjanjian perdamaian tersebut pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari golongan Ali. Golongan ini menganggap perdamaian tersebut merupakan dosa besar yang pernah dilakukan, mereka beralasan bahwa golongan Mu’awiyah tidak selayaknya di beri tempat untuk perdamaian karena telah melakukan makar terhadap pemerintahan yang sah. Kelompok yang kemudian dinamakan golongan khawarij ini  menganggap golonagan Ali benar-benar telah keluar dari ajaran islam karena melakukan perdamaian dengan golongan Muawiyah.<br />
Dari sinilah dasar pemikiran gerakan radikal dalam islam dapat dilacak. Peristiwa keluarnya kelompok khawarij dari barisan Ali sebenarnya dapat dimaknai sebagai kekecewaan politik kelompok khawarij yang aspirasinya tidak didengar. Kekecewaan ini kemudian mengambil setting teologis dengan justifikasi bahwa golongan Ali telah kafir karena melakukan perdamaian dengan golongan Muawiyah yang merupakan kelompok makar yang berusaha menumbangkan kekuasaan kekhalifahan yang sah.<br />
	Justifikasi teologis yang diambil adalah QS. Al-Hujurat ayat ke 9,<br />
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia Telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”<br />
Ayat selanjutnya yang menjadi dasar kaum khwarij memusuhi golongan Ali adalah QS. Al-Anfal ayat ke 39-40,<br />
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. Dan jika mereka berpaling, Maka Ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”<br />
	Kelompok Ali telah kafir dan layak untuk diperangi dalam pandangan kaum khawarij, karena Ali tidak memerangi sampai tuntas kelompok Mu’awiyah yang disebutnya sebagai melanggar perjanjian pengangkatan Ali sebagai Khalifah.<br />
Keputusan perjanjian damai Ali dan Mu’awiyah ini kemudian dikatakan tidak sesuai denga perintah Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat ke 9 diatas, padahal telah jelas bagi kaum muslimin untuk mendasarkan segala tindakan sesuai tuntunan Quran dan hadits, Firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat ke 44, 44.<br />
“….Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”<br />
	Dalam menanggapi kaum pandangan kaum khawarij yang mengkafirkannya ini, menurut riwayat, pada saat itu, Ali ibn Abi Thalib berkata, “Kitab Suci (Al-Qur’an) tidak membawa makna di atas pundaknya, Ia membutuhkan pembaca untuk menangkap maknanya. Dan pembaca itu adalah manusia”. Pernyataan Ali ini memberitahu kita bahwa setiap manusia memiliki potensi ijtihad dalam menangkap jiwa dan semangat ajaran Tuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hegemoni terhadap penafsiran Al-Qur’an pada satu kelompok tertentu saja berarti mendegradasikan potensi-potensi manusia yang diberikan oleh Tuhan pada manusia.<br />
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS At-Tiin:05)<br />
	Uraian diatas menunjukkan bahwa akar radikalisme agama dalam islam ini mengambil setting pada peristiwa politik dan perebutan kekuasaan oleh kelompok khawarij, dan kemudian kaum khawarij inilah yang menjadi model radikalisme saat ini yang mengambil momentum pada masa modern.</p>
<p>Liberalisasi : Epistimologi Pemikiran Relasi Agama, Ideologi dan Kekuasaan<br />
Penjelasan mengenai kisah di zaman Nabi Saw ini membawa kita pada pertanyaan mendasar selanjutnya, setelah diawal kita mendiskusikan tentang relevansi formalisasi agama dalam kekuasaan. Pertanyaan itu adalah, lantas bagaimana sebenarnya relasi yang ideal antara agama, ideologi dan kekuasaan?<br />
Untuk menjelaskan tentang hal ini penulis ingin mengajak untuk mendiskusikan apa yang telah disampaikan oleh Jalaluddin Rahmat. Kang Jalal telah dengan baik mengutip apa yang disampaikan oleh mantan rektor institut ilmu al-qur’an, Prof. Ibrahim Hosen yang mengajukan saran bagi pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. Ada beberapa hal yang menjadi pokok pikiran dari prof. Ibrahim tentang pembaruan pemikiran keagamaa, khususnya islam.<br />
Pertama, meninggalkan pemahaman harfiah terhadap Al-Qur’an dan menggantinya dengan pemahaman berdasarkan semangat dan jiwa Al-Qur’an. Kedua, mengambil sunnah rasul dari segi jiwanya untuk tasyri’ al-ahkam dan memberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan teknik dan pelaksanaan masalah-masalah keduniawian. Ketiga, mengganti pendekatan ta’abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan ta’aqquli. Keempat, melepaskan diri dari masalikul illah gaya lama dan mengembangkan perumusan illat hukum yang baru. Kelima, menggeser perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan oleh nash (jawabir) untuk masalah pidana pemidanaan (zawabir). Dan yang terakhir, mendukung penuh hak pemerintah untuk mentakhshish umumnya nash dan membatasi muthlaqnya.<br />
Konsekwensi dari saran-saran pembaruan prof. Ibrahim Hosen ini kemudian memunculkan arus baru bagi pemahaman ajaran islam dengan jalan menangkap makna generik dari penjelasan Al-Qur’an dan Hadits. Dikatakan bahwa, kita harus menangkap jiwa sumber hukum islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits sebelum menyalahkan realitas, sehingga apabila dalam kehidupanini kita dapati suatu aturan atau perundang-undangan yang dari segi semangat dan jiwanya relevan dengan Al-Qur’an (maa anzalaLLah), maka aturan atau perundang-undangan itu dapat kita terima (dibenarkan oleh Islam), sekalipun secara harfiah  tidak disebut Al-Qur’an.<br />
Di tengah kaum fundamentalis terus melakukan propaganda formalisasi islam dalam bingkai kekuasaan, sangat menarik untuk memperhatikan gagasan yang dikembangkan oleh prof. Ibrahim Hosen ini. Gagasan untuk mengganti pendekatan ta’abbudi ( pendekatan tradisional-literal) dan menuju pada pendekatan ta’aqquli (rasional) memberikan argumentasi  sekaligus justifikasi bagi berlakunya hukum perundang-undangan (yang oleh kalangan fundamentalis dikatakan sebagai hukum kuffar) di indonesia. Contoh yang dapat dilihat, hukum rajam merupakan perintah Al-Qur’an bagi penzina, namun secara ta’aqquli kita harus melihat terlebih dahulu aspek hikmah dari hukuman tersebut, yaitu membuat jera dan agar sang penzina tidak mengulangi lagi perbuatannya. Karena itu, hukuman rajam dapat diganti dengan hukum apapun yang membuat orang tersebut jera. Pada kasus ini terlihat bahwa illat (sebab) masalah tidak terpaku dalam dimensi waktu, illat dapat berubah sesuai dinamika zaman. Lebih lanjut dijelaskan kang jalal, dahulu illat qashar itu adalah perjalanan, tapi sekarang seiring pergeseran masalah dan kompleksitas pekerjaan, illat qashar dapat bergeser pada tingkat kelelahan akibat rutinitas. Sebagai contoh, bisa saja menqashar sholat ketika kita kelelahan sehabis melakukan aktifitas, misalnya setelah mencari nafkah bagi keluarga.<br />
Pemikiran Prof. Ibrahim hosen ini juga mengatakan bahwa illat dari hukum-hukum baru ditetapkan oleh pemerintahan yang sah. Pemerintah dapat mengecualikan dalil-dalil yang umum atau mensyaratkan dalil-dalil mutlak. Dalam Al-Qur’an, poligami dibenarkan bagi setiap laki-laki muslim, namun pemerintah dapat mengecualikan hukum itu bagi pegawai negeri sesuai peraturan pemerintah.<br />
Pemikiran yang dipaparkan di atas sebenarnya menjadi representasi bagi banyak orang yang menolak relasi agama dan kekuasaan, karena dalam sejarahnya, agama justru menjadi alat kekuasaan untuk mempertahankan status quo. Agama, menurut hemat penulis seharusnya dijadikan sebagai “Open paradigm”, yaitu kerangka sipiritualitas yang terbuka bagi berbagai macam penafsiran atas ajaran agama tersebut, bukan sebaliknya, hanya di hegemoni oleh penafsiran kelompok tertentu. Al-Qur’an justru sebenarnya memberikan ruang bagi perbedaan-perbedaan pandangan (penafsiran),baik itu intern-islam, bahkan dalam tataran ekstern-islam sekalipun. Untuk memberikan harmonisasi diantara perbedaan itu, Al-Qur’an tidak pernah memaksa untuk menyeragamkan pandangan kita tentang islam, tapi cara terbaik adalah bagaimana kita dapat membangun kalimatun sawa’ (common platform) yang dapat menjadi perantara bagi perbedaan pandangan tersebut.<br />
“Katakanlah: &#8220;Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah&#8221;. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: &#8220;Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)&#8221;. (QS. 3:64)<br />
Disinilah kemudian letak pentingnya kita memberikan makna liberalisasi bagi pemahaman keagaman, yaitu sikap memberikan kebebasan (dalam pengertian yang bertanggung jawab) bagi setiap manusia, setiap golongan, dan setiap kelompok kepentingan untuk menghayati dan menginternalisasikan nilai-nilai spiritualitas agama dalam penghayatan spiritualitas masing-masing. Liberalisasi pemahaman keagamaan juga bertujuan untuk menciptakan ruang terbuka dialogis untuk mendialogkan wacana-wacana spiritualitas dalam menghayati agama serta menghilangkan sikap eksklusif yang berujung pada tindakan radikalisme/fundamentalisme agama, apalagi sikap kekerasan akibat tidak dapat menerima perbedaan pandangan keislaman. Al-Qur’an mengingatkan kita dalam QS Ar-Ruum ayat 31-32,<br />
“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”<br />
	Akhirnya, Demikian yang dapat menjadi sumbangan pemikiran penulis, istilah radikalisasi pemhaman agama sebenarnya istilah yang phobia bagi beberapa kalangan. Harapannya adalah kita dapat menangkap makna dari gagasan ini demi mencegah dan menangkal radikalisme agama yang ada di negara kita dan tetap berkomitmen tentang NKRI yang utuh sebagai sebuah bangsa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=318&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2011/08/21/liberalisasi-pemikiran-keislaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agama Demokratis dan Demokratisasi Agama [Telaah Filosofis Hubungan Agama dan Demokrasi]</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2010/03/16/agama-demokratis-dan-demokratisasi-agama-telaah-filosofis-hubungan-agama-dan-demokrasi/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2010/03/16/agama-demokratis-dan-demokratisasi-agama-telaah-filosofis-hubungan-agama-dan-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 05:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Secara natural, nilai-nilai yg di bawa oleh agama merupakan refleksi kritis atas permasalahan yg trjadi pada kehidupan sosial-kemasyarakatan. Masalah-masalah sosial pada masa turunnya agama-agama adalah ketika terjadi banyak ketimpangan-ketimpangan sosial baik di bidang politik, budaya, ekonomi dsb. Semangat yg di bawa oleh agama adalah semangat pembebasan manusia dari segala bentuk ketimpangan itu dan menuju pribadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=314&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara natural, nilai-nilai yg di bawa oleh agama merupakan refleksi kritis atas permasalahan yg trjadi pada kehidupan sosial-kemasyarakatan. Masalah-masalah sosial pada masa turunnya agama-agama adalah ketika terjadi banyak ketimpangan-ketimpangan sosial baik di bidang politik, budaya, ekonomi dsb. Semangat yg di bawa oleh agama adalah semangat pembebasan manusia dari segala bentuk ketimpangan itu dan menuju pribadi sosial yg egaliter, berkebebasan dan demokratis.<br />
Pada hal ini, kita jumpai terdapat nilai-nilai demokratis dalam semangat ajaran agama, bahwa segala gap sosial harus di benahi dan mewujudkan kesejahteraan serta kebebasan sbg bentuk pghormatan thd nilai-nilai kmanusiaan dlm bingkai pemahaman egalitarianisme sosial.</p>
<p>Terdapat perbedaan fundamen antara konsep agama dan demokrasi. Perbdaan keduanya terjadi di ranah ontologis. Aktualisasi prima sikap keberagamaan adalah penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Sementara demokrasi mewujud dalam sikap sedia bernegosiasi dengan mempertimbangkan kehendak orang lain. Demokrasi berarti menempatkan kehendak dan rasionalitas manusia yg terlembagakan sebagai referensi tindakan sosial kemasyarakatan dan bernegara. Sedangkan dLm khidupan beragama, yg mjdi referensi puncak adalah ajaran Tuhan. Selain hal yg di sebutkan, secara historis sosiologis, sjarah agama tak terlepas dr kenyataan, peran agama tak jarang hanya di gunakan utk kpentingan politik dan kekuasan dalam mempertahankan status quo, shg memunculkan gerakan sektarian pemberontakan.<br />
Secara teologis pula kita fahami bahwa, ajaran agama yg bersifat deduktif-metafisis dan selalu mendasarkan rujukan pada Tuhan (padahal Tuhan tak nampak secara empiris), sementara demokrasi adalah persoalan empiris dan bersifat dinamis, maka agama tak punya kompetensi untuk berbicara dan menyelesaikan persoalan demokrasi.</p>
<p>Meskipun tjdi prbdaan pd ranah ontologis, tp keduanya menemukan kesepahaman di ranah aksiologis, bahwa agama dan demokrasi teraktualisasi dLm objek yg sama, yaitu manusia dgn sgala kompleksitasnya. Titik temu agama dan demokrasi ini menebarkan asa agar keduanya memiliki premis dan komitmen yg sama ttg cita-cita kemanusiaan yg mjdi objek aksiologisnya.<br />
Komitmen tsb di wujudkan dLm bentuk bertemunya cita-cita demokrasi dan komitmen agama sbgai refleksi keimanan untuk menegakkan masyarakat yg egaliter dan dalam bingkai kesejahteraan sosial. Agama dan demokrasi harus mampu saling mengisi dan mengayomi khidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=314&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2010/03/16/agama-demokratis-dan-demokratisasi-agama-telaah-filosofis-hubungan-agama-dan-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Universalitas Ajaran Islam: Membangun Konsensus Pemahaman Agama</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2010/03/16/universalitas-ajaran-islam-membangun-konsensus-pemahaman-agama/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2010/03/16/universalitas-ajaran-islam-membangun-konsensus-pemahaman-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 05:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Hmmm, kali ini ku coba lagi tuk meng-explore pengetahuanku yang terbatas tentang khazanah keislaman. Semoga kiranya bermanfaat dan dapat memberikan sedikit kontribusi bagi kehidupan beragamaan kita. Sekiranya jika ada pemikiran yang kurang berkenan, saya yakin, seiring dengan perjalanan waktu pemikiran-pemikiran tersebut akan dengan sendirinya kehilangan relevansinya di tengah arus khazanah intelektual keislaman. Tulisan ini berangkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=312&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hmmm, kali ini ku coba lagi tuk meng-explore pengetahuanku yang terbatas tentang khazanah keislaman. Semoga kiranya bermanfaat dan dapat memberikan sedikit kontribusi bagi kehidupan beragamaan kita. Sekiranya jika ada pemikiran yang kurang berkenan, saya yakin, seiring dengan perjalanan waktu pemikiran-pemikiran tersebut akan dengan sendirinya kehilangan relevansinya di tengah arus khazanah intelektual keislaman. Tulisan ini berangkat dari refleksi pribadi keprihatinanku terhadap kondisi umat islam saat ini, khususnya terhadap kejumudan intelektual yang memberi dampak pada ekspresi keberagamaan yang &#8220;Lebay&#8221; dan di luar cerminan nilai-nilai keislaman, seperti ekspresi ritual agama yang terjebak pada simbol dan tradiisi yang pada akhirnya menutupi substansi nilai ajaran islam itu sendiri. okelah kalo beg&#8230;beg&#8230;begituuu&#8230;!</p>
<p>Lets check it out&#8230;!!!!!!!!!!!</p>
<p>=================================================<br />
“Dan tidaklah Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad), kecuali sebagai Rahmat bagi alam semesta.” (QS. Al-Anbiya:107)</p>
<p>Islam di turunkan oleh Allah SWT sebagai agama dan tuntunan hidup bagi umat manusia yang ada di dunia, sehingga oleh karenanya islam sebagai rangkaian nilai di harapkan mampu untuk membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Pemahaman bahwa islam tidak hanya di peruntukkan bagi segelintir orang dan kelompok, melainkan kepada seluruh alam semesta, membawa kita pada pengertian bahwa pengejawantahan nilai-nilai keislaman seharusnya di rasakan oleh seluruh manusia, termasuk kepada manusia yang tidak memeluk islam sebagai sebuah lembaga formal agama.<br />
Namun dalam realitas sebenarnya, pengejawantahan nilai-nilai keislaman yang seharusnya berlaku universal itu, menjadi timpang ketika kita dapati sikap umat islam yang kurang toleran terhadap perbedaan agama. Kita bisa melihat bagaimana sikap umat islam yang terlalu reaktif terhadap kegiatan keagamaan yang bersinggungan dengan aqidah mereka, seperti kasus baru-baru ini, protes yang dilancarkan oleh MUI terhadap kegiatan perayaan natal yang berbahasa arab. Hal ini terjadi karena agama di pahami dalam perspektif kultural dan tradisi serta simbol-simbol belaka, bukan secara substansi nilainya. Selanjutnya kita melihat sikap kurang toleran dan kekerasan yang mengatasnamakan agama terhadap para jamaat ahmadiyah, dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya.<br />
Jika demikian, lalu kita patut bertanya, dimanakah letak universalitas (yang pada akhirnya mewujudkan inklusifitas demi mereduksi radikalisme desruktif dan anarkisme agama) ajaran Islam yang luhur itu sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an:</p>
<p>“Dan Kami (Allah) tidaklah mengutusmu (Muhammad), kecuali kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. As-Saba:28)</p>
<p>Hemat saya, bukan pada tempatnya kita menyoroti Islam sebagai sebuah institusionalisasi nilai-nilai ilahiyah, sebagai sebab dari fenomena tersebut di atas. Akan tetapi pemahaman para pemeluknyalah yang menjadi konsen kita dalam mengamati gejala praksis keagamaan yang reaktif ini. Kiranya perlu kita formulasikan dan kita interpretasikan kembali pemahaman kita tentang nilai-nilai keislaman, sehingga memunculkan wajah islam yang toleran, humanis dan universal, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an.</p>
<p>Pertanyaan yang menarik ketika kita berbicara mengenai persoalan agama adalah jika sekiranya kita mengakui bahwa Tuhan itu Esa/Tunggal, maka seharusnya pula segala nilai kebenaran yang datang dari Tuhan juga bersifat Esa/Tunggal. Tetapi pada kenyataannya banyak sekali klaim-klaim kebenaran yang di ajukan oleh berbagai lembaga agama yang notabene juga mengakui keesaan Tuhan. Jika masing-masing agama memiliki dan mengakui Tuhannya, maka nilai “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi tidak relevan dalam wacana praksis keberagamaan kita. Fenomena semacam ini juga sering menjadi akar permasalahan konflik antar-agama , khususnya pada tiga agama besar yang memiliki kesamaan dasar teologis, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Permasalahannya bukan sekedar bagaimana kita menyikapi perbedaan ini, tapi yang lebih penting adalah bagaimana semangat teologis agama-agama tersebut menemukan relevansinya terhadap realitas Ketuhanan Yang Maha Esa.<br />
Terhadap permasalahan tersebut di atas, saya coba memberikan konsep Kebenaran Mutlak yang bersifat Tunggal dan Universal sebagai suatu pemahaman yang dapat menjembatani seluruh perbedaan faham keagamaan, sehingga lewat konsepsi ini di harapkan kita sebagai umat beragama mampu mencapai konsensus yang pada akhirnya berkontribusi memunculkan kehidupan antar umat beragama yang toleran, humanis dan universal.<br />
Kebenaran universal berarti bahwa konsep kebenaran yang ada di alam semesta ini hanya satu, tunggal dan Mutlak. Akan tetapi derivasi/turunan dari Kebenaran universal ini mewujud dalam berbagai bentuk dan nilai kehidupan.Kebenaran universal ini juga merupakan konsekwensi logis dari keesaan Tuhan, sehingga nilai kebenaran ini pun bersifat Transeden, Esoteris dan Metahistoris (terlepas dari dimensi keduniawian). Pada prakteknya ketika Kebenaran Mutlak dan universal yang berasal dari Tuhan yang esa ini di komunikasikan kepada manusia yang relatif, terjadi demanifestasi nilai Kebenaran, dari sebelumnya Esoteris menjadi eksoteris, transeden menjadi immanen, dan dari Metahistoris menjadi terhistorisasi. Tidak hanya itu, akibat dari interaksi Kebenaran Mutlak yang datang dari Tuhan ini dengan manusia yang relatif, terjadi fragmentasi dan remanifestasi konsep Kebenaran menjadi kebenaran-kebenaran kecil yang bersifat parsial dan kemudian terpolarisasi oleh arus kehidupan duniawi. Kebenaran-kebenaran parsial tersebut kemudian terlembagakan dalam institusi dan pranata sosial seperti paguyuban dan kelompok-kelompok ideologis sampai pada institusionalisasi nilai kebenaran parsial tersebut ke dalam pranata sosial yang bernama agama.<br />
Sehingga konsekwensinya adalah, nilai-nilai kebenaran parsial tersebut mewujud dalam agama-agama yang di bawa oleh para utusan Tuhan sebelum datangnya Muhammad SAW yang bertugas menghimpun kebenaran-kebenaran yang berserakan itu menjadi satu himpunan Kebenaran yang mendekati Kemutlakan Tuhan (Dimensi duniawi hanya mampu mendekati nilai Kebenaran dan tidak mungkin mampu menggapai kemutlakan Kebenaran, karena esensi duniawi adalah relatif). Jadi disinilah letak universalitas Islam, dia datang untuk menghimpun dan membawa kesatuan nilai-nilai agama sebelumnya menjadi suatu tatanan nilai keagamaan yang menghormati pluralitas ajaran dan tidak terjebak pada realitas realitas tradisi dan simbol masing-masing agama. Kesatuan nilai-nilai tersebut hanya bisa tercapai, jika kita melakukan penelusuran dan perenungan secara intelektual dan spiritual. Kesatuan itu pula, kita sadari berangkat dari realitas keagamaan yang berbeda, karena setiap agama diturunkan dalam rentang kontinuitas ruang dan waktu yang berbeda pula. Oleh karena itu, konsekwensinya adalah agama mengalami reinterpretasi dalam bentuk kemasan simbol-simbol dan tradisi tertentu yang heterogen. Sebagai contoh, kita mengenal sholat, puasa dan zakat dalam ajaran Islam. Kemudian kebaktian dan ajaran cinta kasih dalam doktrin kekristenan, serta bentuk tradisi-tradisi tertentu pada agama Yahudi. Secara substansial, semua itu memiliki maksud dan tujuan yang tidak berbeda, yaitu sebagai sarana mendekatkan diri pada Tuhan.<br />
Selain dari hal-hal di atas, klaim kebenaran ekslusif masing-masing agama juga memberikan kontribusi yang signifikan bagi konflik antar-agama, sehingga berpotensi memunculkan perselisihan yang bersifat horizontal (sosial) maupun vertical (masalah teologis). Lalu bagaimana Islam melihat permasalahan ini? Adakah Islam juga memiliki klaim eksklusif tentang Kebenaran agamanya?. Salah satu keterangan di dalam Al-Qur’an yang sering di jadikan pijakan kebenaran eksklusif adalah:</p>
<p>“Sesungguhnya agama yang di ridhoi di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imran:19)</p>
<p>Sepertinya, jika ini yang menjadikan umat islam terlihat eksklusif dan menjadikan sikap mereka bertentangan dengan inklusifitas Islam yang di ajarkan Al-Qur’an dalam QS. Al-Anbiya:107 (telah di sebutkan sebelumnya), maka agaknya kita perlu melihat kembali ayat tersebut dalam konteks yang lebih luas dan universal.<br />
Saya mengajak kita semua untuk melihat ayat tersebut dari segi kebahasaan, bahwa Ad-Din dalam ayat tersebut di artikan sebagai agama dan kemudian Al-Islam di artikan sebagai bentuk formal agama yang di bawa oleh Muhammad SAW. Mari kita lihat ayat tersebut dalam perspektif lain, agar cita-cita universal Islam tidak sebatas wacana tanpa aksi. Dalam tinjauan bahasa arab, kata Ad-Din itu berasal dari tiga huruf yaitu Dal, Ya’ dan Nun. Dalam khazanah Arabic, setiap kata yang terbentuk dari rangkaian tiga huruf tersebut merujuk pada pengertian “Hubungan dua pihak yang saling berinteraksi, dimana salah satu pihak lebih tinggi kedudukannya di banding pihak lainnya”. Oleh karenanya, Hutang dalam bahasa arab di namakan Ad-Dain, karena berhutang berarti ada hubungan interaksi antara si pemberi hutang (kedudukannya lebih tinggi) dengan orang yang berhutang. Begitupun dengan Ad-Din (yang dalam bahasa Indonesia di terjemahkan menjadi Agama) merupakan hubungan interaksi antara Tuhan (kedudukannya lebih tinggi) dengan manusia sebagai makhluk ciptaanNya.<br />
Kemudian mari kita lihat kata Al-Islam, secara etimologis Al-Islam berasal dari akar kata salama-yusallimu-salaaman yang berarti keselamatan, kepasrahan, ketundukan dan penyerahan diri. Di dalam Al-Qur’an kita dapati penyebutan nabi Ibrahim sebagai seorang Muslim (isim maf’ul dari kata Islam), lalu apakah dapat di artikan bahwa Ibrahim saat itu memeluk agama Islam padahal Muhammad belum di utus? Tentu tidak. Karena Islam dalam konteks tersebut di artikan sebagai kepasrahan dan ketundukan Ibrahim pada setiap perintah Tuhan, sehingga dia layak di sebut Islam dalam artian yang universal itu. Dari sinilah kemudian kata Al-Islam bukan sekedar merujuk pada agama formal terlembagakan yang di bawa oleh Muhammad SAW, melainkan sebagai sebuah sistem nilai substantif yang berasal dari Tuhan semesta alam. Sehingga ayat pada QS. Ali Imran:19 tersebut di atas dapat kita formulasikan kembali sebagai berikut:</p>
<p>“Sesungguhnya hubungan interaksi yang benar terhadap Tuhan adalah sikap ketundukan menyeluruh terhadapNya (dengan mengikuti Kebenaran Mutlak dariNya).” (QS. Ali Imran:19)</p>
<p>Berangkat dari pengertian ini, akan terlihat titik temu antar-agama, yang sama-sama mengakui keesaan Tuhan dan coba mempraktekkan Kebenaran dari Tuhan seraya tunduk dan pasrah terhadapNya. Jika semua agama memahami esensi ini, maka Islamlah Kebenaran substantif yang mampu menjadi wasilah atau sarana konsensus (titik temu atau dalam bahasa agama di sebut Kalimatun Sawa’) antar ajaran agama.<br />
Dari sini kemudian Islam menjadi agama universal yang akseptabel dan mampu menciptakan suasana kehidupan keagamaan yang harmonis, toleran dan menjadi Rahmat bagi alam semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=312&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2010/03/16/universalitas-ajaran-islam-membangun-konsensus-pemahaman-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa dan Kemerdekaan Indonesia</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/08/17/mahasiswa-dan-kemerdekaan-indonesia/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/08/17/mahasiswa-dan-kemerdekaan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 06:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Adalah menjadi sebuah keharusan bahwa kemerdekaan bangsa untuk terus di isi dan di revitalisasi tanpa henti, pasca revolusi fisik yg di lakukan oleh para pahlawan. Kemerdekaan harus mewujud dalam seluruh relung dan sendi kehidupan bangsa ini, mulai dari merdeka secara fisik dari kolonialisme penjajah hingga merdeka secara finansial, sejahtera dan bebas dari berbagai belenggu kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=310&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah menjadi sebuah keharusan bahwa kemerdekaan bangsa untuk terus di isi dan di revitalisasi tanpa henti, pasca revolusi fisik yg di lakukan oleh para pahlawan. Kemerdekaan harus mewujud dalam seluruh relung dan sendi kehidupan bangsa ini, mulai dari merdeka secara fisik dari kolonialisme penjajah hingga merdeka secara finansial, sejahtera dan bebas dari berbagai belenggu kehidupan yg mengancam eksistensi kata &#8216;merdeka&#8217; itu sendiri. Keharusan yg menjadi tanggung jawab generasi pasca kemerdekaan sedikit lebih ringan jika di banding dengan para pahlawan kemerdekaan. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi kita untuk menghindar dari konsekwensi imperatif baru yg di emban oleh generasi saat ini. Semangat kemerdekaan dalam konteks kekinian sangatlah relevan jika di isi dengan aktualisasi kaum muda dalam berkarya dalam bidang dan bentuk apapun, memberi sumbangsih berharga bagi bangsa dan negara.<br />
Mahasiswa sebagai generasi muda yg menjadi bagian dari elemen warga bangsa, harus mampu memberi sumbangsih sesuai dgn kapasitas dan kapabilitasnya.<br />
Mahasiswa di pandang sebagai kaum intelektual muda yg mnjadi tumpuan harapan perjalanan bangsa ini di masa depan. Kampus sebagai laboratorium pencetak para mahasiswa harus mampu menjawab harapan tersebut menjadi sebuah imperatif sosial yg di inginkan masyarakat. Mahasiswa harus bergerak dan berkontribusi sesuai dengan konsepsi Tri Dharma Perguruan Tinggi, dimana para Mahasiswa di tuntut selain menjadi kaum cendikia, juga harus mampu mengaplikasikan ilmu yg di dapatnya dalam tataran praktis.<br />
Masyarakat kita dewasa ini, tidak begitu peduli terhadap latar pendidikan Mahasiswa, yg pasti dalam benak mereka adalah ketika seorang pemuda berlabel &#8216;MAHASISWA&#8217; maka itu berarti bahwa pemuda tersebut adalah kaum cendikia yg &#8216;seharusnya&#8217; memiliki kemampuan &#8216;serba-bisa&#8217;. Di satu sisi, fenomena semacam ini mengakibatkan beban yg bgitu berat bagi kaum muda cendikia tersebut, namun di sisi lain, hal yg perlu di pandang positif adalah Mahasiswa merasa terpacu untuk meng-upgrade pengetahuan dan tentunya pengalaman mereka. Kondisi sangat di harapkannya mahasiswa sebagai tumpuan asa, sering di temui ketika para mahasiswa melakukan Kuliah Kerja Nyata, di mana mereka di hadap pada kondisi untuk mampu berkontribusi di masyarakat. Bukan pemandangan biasa, ketika mahasiswa di minta oleh masyarakat untuk melakukan kegiatan di luar bidang akademik mereka.<br />
Intinya adalah mahasiswa di tuntut untuk terus berkarya bagi bangsa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=310&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/08/17/mahasiswa-dan-kemerdekaan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kontekstualisasi Semangat Oposisi Gerakan Mahasiswa.</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/08/10/kontekstualisasi-semangat-oposisi-gerakan-mahasiswa/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/08/10/kontekstualisasi-semangat-oposisi-gerakan-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 02:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/2009/08/10/kontekstualisasi-semangat-oposisi-gerakan-mahasiswa/</guid>
		<description><![CDATA[rHoMie_zF Mahasiswa adalah generasi muda yg memiliki berjuta cita-cita dan harapan tentang kondisi ideal bangsa ini. cita-cita dan harapan tsb di interpretasikan melalui perjuangan sistematis melalui gerakan mahasiswa dalam instrumen organisasi kemahasiswaan di kampus-kampus. Semangat oposisi dalam perjuangan mahasiswa telah mewarnai karakter dan memberi ruh pada gerakan mahasiswa selama ini. Oleh karena itu, semangat itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=308&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>rHoMie_zF</p>
<p>Mahasiswa adalah generasi muda yg memiliki berjuta cita-cita dan harapan tentang kondisi ideal bangsa ini.<br />
cita-cita dan harapan tsb di interpretasikan melalui perjuangan sistematis melalui gerakan mahasiswa dalam instrumen organisasi kemahasiswaan di kampus-kampus.</p>
<p>Semangat oposisi dalam perjuangan mahasiswa telah mewarnai karakter dan memberi ruh pada gerakan mahasiswa selama ini.</p>
<p>Oleh karena itu, semangat itu harus tetap terus di pupuk dan di aktualisasikan.</p>
<p>Hal yg menjadi penting dlm semangat oposisi gerakan mahasiswa adalah ia harus memiliki fokus perjuangan dan start awal dalam memulai momentum gerakannya. Dengan kata lain, harus cermat dalam menentukan sikap oposisi, sehingga tidak terjadi &#8216;oposisi buta&#8217; tanpa memperhatikan aspirasi rakyat.<br />
Jika ini tak di perhatikan, alih-alih mendukung mahasiswa, rakyat justru akan skeptis dan menuduh gerakan mahasiswa hanya akan mendelegitimasi kepercayaan rakyat thd pemimimpinnya.</p>
<p>Disinilah pentingnya makna kontekstualisasi dalam mencermati gerakan mahasiswa dewasa ini.</p>
<p>Mahasiswa dan instrumen perjuangannya harus mampu memberi solusi perbaikan dan perubahan bangsa ini. Label &#8216;gerakan oposisi konstruktif abadi&#8217; selayaknya menjadi dasar bagi gerakan mahasiswa untuk tetap kritis dan konsisten memperjuangkan visi kerakyatan yg di embannya.</p>
<p>Jika dewan perwakilan secara resmi menjadi representasi rakyat, maka gerakan mahasiswa pun demikian. Gerakan extraparlementer yg di lakoni mahasiswa adalah gerakan yg terbukti secara sistematis dan massif mampu menjadi kontrol dan check and balances bagi kebijakan yg tak pro rakyat.</p>
<p>Kontekstualisasi menjadi sangat relevan ketika kita mencermati dewasa ini, begitu maraknya politik pencitraan di kalangan elit pemimpin dan pejabat. oleh karenanya, jika mahasiswa kalah dalam pencitraan tsb, maka bukan simpati yg akan menghampiri, malah justru akan menuai antipati. saya tidak dalam posisi menyarankan agar kiranya mahasiswa berkompetisi pencitraan di hadapan rakyat dgn kalangan elit tertentu, tapi saya ingin menyampaikan bahwa pentingnya proporsionalisasi dan ketepatan momentum dlm mengawali sebuah gerakan.</p>
<p>Jika pada masa pra reformasi mahasiswa di hadapkan pada common enemies yg jelas dan nyata, seperti PKI dan komunismenya di masa soekarno, kemudian gaya pemerintahan yang otoriter pada masa soeharto. Maka saat ini, musuh bersama gerakan mahasiswa belum terindentifikasi dan terfahamkan secara jelas.</p>
<p>|bersambung. . . . .|</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/308/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=308&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/08/10/kontekstualisasi-semangat-oposisi-gerakan-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Video:: Ledakan bom di Hotel Marriot dan Ritz Carlton Mega Kuningan.</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/07/17/video-ledakan-bom-di-hotel-marriot-dan-ritz-carlton-mega-kuningan/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/07/17/video-ledakan-bom-di-hotel-marriot-dan-ritz-carlton-mega-kuningan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 06:40:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[carlton]]></category>
		<category><![CDATA[kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[marriot]]></category>
		<category><![CDATA[MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[.Wuikhh, cuma satu kata.. biadab. videonya bener-bener mengusik nurani kemanusiaan siapapun yg melihatnya. Na&#8217;udzubillah. Semoga ini kejadian teror terakhir di Indonesia.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=304&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>.Wuikhh, cuma satu kata.. biadab. videonya bener-bener mengusik nurani kemanusiaan siapapun yg melihatnya.<br />
Na&#8217;udzubillah.<br />
Semoga ini kejadian teror terakhir di Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/304/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=304&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/07/17/video-ledakan-bom-di-hotel-marriot-dan-ritz-carlton-mega-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HMS Unmul dan Tantangan Perbaikan::Sebuah Refleksi Menjelang Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sipil.</title>
		<link>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/05/09/hms-unmul-dan-tantangan-perbaikansebuah-refleksi-menjelang-musyawarah-besar-himpunan-mahasiswa-sipil/</link>
		<comments>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/05/09/hms-unmul-dan-tantangan-perbaikansebuah-refleksi-menjelang-musyawarah-besar-himpunan-mahasiswa-sipil/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 03:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang CiviL]]></category>
		<category><![CDATA[Sipil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rhomiezf.wordpress.com/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : rHoMie_zF*) Sebuah Organisasi merupakan suatu wadah bagi sekelompok orang yang di harapkan mampu untuk menjadi sarana efektif demi mengakomodasi kepentingan kolektif orang-orang yang tergabung di dalamnya. Atas dasar pemahaman itulah sebenarnya sebuah organisasi bias terbentuk dan menjadi entitas bersama dalam melakukan setiap kegiatannya untuk mencapai cita-cita besar dalam berorganisasi. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=300&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh : rHoMie_zF*)</em></p>
<p>Sebuah Organisasi merupakan suatu wadah bagi sekelompok orang yang di harapkan mampu untuk menjadi sarana efektif demi mengakomodasi kepentingan kolektif orang-orang yang tergabung di dalamnya. Atas dasar pemahaman itulah sebenarnya sebuah organisasi bias terbentuk dan menjadi entitas bersama dalam melakukan setiap kegiatannya untuk mencapai cita-cita besar dalam berorganisasi.<br />
Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi tertentu merupakan manifestasi dari bentuk pengakomodasian kepentingan-kepentingan yang ada di dalam organisasi tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat merefleksikan tujuan dari sebuah organisasi.<br />
Oleh karena itu, urgentisitas kegiatan-kegiatan keorganisasian tidak bisa terelakkan, untuk mencegah organisasi tersebut dari kata “Mandeg” atau “Stagnan”.<br />
Dalam konteks Himpunan Mahasiswa Sipil Universitas Mulawarman pun demikian. Himpunan Mahasiswa Sipil sudah seharusnya dapat menjadi garda terdepan untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa teknik sipil, mengingat HMS memiliki banyak potensi, baik dari sisi kemampuan Sumber Daya maupun jaringannya. Kontekstualisasi tujuan dan cita-cita besar suatu Himpunan Mahasiswa di banding dengan organisasi kemahasiswaan lainnya, adalah bahwa himpunan harus mampu untuk menjadi sarana Komunikasi Publik bagi program studi atau jurusan tempat himpunan itu bernaung.<br />
Program studi Teknik Sipil di Fakultas Teknik Universitas Mulawarman sudah berjalan hampir 6 tahun. Usia yang cukup matang untuk menjadi sebuah Program Studi yang memiliki Bargaining Position yang besar, mengingat pertumbuhan yang begitu pesat dan kebutuhan yang sangat tinggi akan volume tenaga ahli di sektor jasa konstruksi yang berhubungan erat dengan bidang ketekniksipilan. Fakta mencatat bahwa saat ini sektor jasa konstruksi di Kalimantan Timur memerlukan tidak kurang dari 3.600 orang tenaga ahli yang bersertifikasi. Sementara saat ini yang tersedia dan terdata di Dinas PU dan Kimpraswil KalTim adalah 700an orang tenaga ahli bersertifikasi, serta 700an orang lainnya di sinyalir tersebar di berbagai himpunan tenaga ahli yang tidak terdata oleh Dinas PU dan Kimpraswil KalTim (Data ini tak termasuk jumlah tenaga teknis yang jumlahnya tentu lebih banyak lagi). Itu berarti bahwa ada sekitar kurang lebih 2.100 tenaga ahli di sektor jasa konstruksi di KalTim yang belum terpenuhi, sementara diketahui pula bahwa tidak kurang dari 5 trilliun rupiah lebih anggaran mengucur di sektor ini tiap tahunnya. (KaltimPost, 1 mei 2009)<br />
Data ini menunjukkan bahwa betapa strategisnya program studi teknik sipil Universitas Mulawarman ini. Kita tentu berharap menjadi Tuan rumah di daerah sendiri. Mahasiswa teknik sipil Universitas Mulawarman berharap agar kesempatan ini dibuka peluang sebesar-besarnya bagi putra daerah yang menimba ilmu ketekniksipilan di Universitas kebanggaan daerah ini, untuk bisa berkompetisi dan mengisi kelowongan kesempatan tersebut.<br />
Oleh karena itu, Teknik Sipil Universitas Mulawarman harus mampu pula untuk menjawab tantangan berkompetisi dengan perguruan-perguruan tinggi ternama. Untuk mewujudkan hal tersebut, sangat diperlukan dukungan dari banyak pihak, seperti pemerintah, pihak Universitas dan Fakultas serta tak kalah penting adalah upaya dari mahasiswa teknik sipil Unmul sendiri untuk menunjukkan potensi program studinya di depan publik.<br />
Upaya tersebutlah yang menjadi tantangan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) Unmul untuk di jawab dan di wujudkan. Hal ini semakin meneguhkan kedudukan dan mendeskripsikan betapa strategisnya peran dan fungsi Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Mulawarman.<br />
Upaya-upaya tersebut harus di bangun di atas kinerja yang optimal dari seluruh mahasiswa teknik sipil melalui instrumen yang telah tersedia, yaitu instrumen penting yang bernama HMS. HMS harus dapat menjadi sarana marketisasi Program Studi agar menjadi program studi yang menjadi perhatian publik dan juga mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah. Tidak hanya itu, untuk mendukung program studi yang berkualitas, HMS juga harus mampu menciptakan iklim professonalitas dan keilmuan. Atau dengan kata lain, HMS harus memiliki kepekaan terhadap hal-hal yang diperlukan oleh Mahasiswa di bidang akademis, yang tentunya relevan dengan kondisi kekinian Mahasiswa Teknik Sipil.<br />
Untuk melengkapi perannya sebagai Mahasiswa yang bergerak sesuai dengan idealisme gerakan mahasiswa , Himpunan Mahasiswa Sipil juga di harapkan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Bentuk-bentuk kepedulian itu harus di wujudkan dalam kerja yang nyata. Pengabdian masyarakat menjadi poin yang sangat penting agar Himpunan ini memeiliki fokus gerakan yang jelas kedepannya sesuai dengan Konsep Tri Dharma perguruan Tinggi.<br />
Organisasi yang baik juga di bangun di atas sistem kinerja yang baik pula. Oleh karena itu, manajemen yang rapih dan terorganisir secara sistematis, harus menjadi landasan bagi HMS dalam membangun budaya dan tradisi berorganisasi. Tradisi ini pada akhirnya akan membangun trust (rasa percaya) dari berbagai pihak, baik itu fakultas maupun pemerintah terhadap organisasi Kita. Dan itu menjadi modal awal yang penting demi kemajuan HMS dan kebaikan program studi Kita.<br />
Persoalan yang juaga tak kalah penting bagi HMS adalah memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban antara mahasiswa teknik sipil dan para birokrat kampus. Mengapa hal ini sangat penting untuk di perjuangkan??, karena mengingat belakangan ini sering terjadi permasalahan akademik yang menjadi tanggung jawab Fakultas dan Mahasiswa menjadi korbannya.<br />
Di satu sisi, pihak Fakultas menerapkan regulasi-regulasi yang begitu ketat terhadap syarat-syarat akademik mahasiswa. Namun, disisi lain tidak di imbangi dengan pelayanan yang optimal terhadap mahasiswa. Hal ini akan menimbulkan kesenjangan dan konflik kepentingan yang dapat menimbulkan gesekan-gesekan yang tidak di harapkan. Untuk itu, kedepannya, HMS harus mampu menjadi Fasilitator bagi permasalahan-permasalahan seperti ini. Dengan kata lain, sangat diperlukan penguatan peran advokasi mahasiswa di tingkat program studi.<br />
Tulisan ini bukanlah evaluasi pribadi penulis terhadap kinerja HMS selama ini, tetapi lebih kepada sumbang saran  Penulis demi kemajuan HMS Unmul di masa yang akan datang. Penulis sangat menyadari betapa pentingnya Himpunan ini sebagai sarana awal bagi mahasiswa teknik sipil untuk menyalurkan minat dan bakatnya, baik itu di bidang keorganisasian maupun akademik. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan di awal, Himpunan Mahasiswa Sipil harus dapat mengakomodasi seluruh kepentingan mahasiswa teknik sipil.<br />
Kita harus memahami terlebih dahulu betapa strategisnya himpunan kita, baik dari perspektif akademis maupun dari perspektif dan peran mahasiswa teknik sipil sebagai kontrol kebijakan, terutama kebijakan-kebijakan pemerintah di sektor pembangunan yang notabene berkaitan erat dengan bidang ketekniksipilan. Setelah memahami itu, barulah kita mampu membangun persepsi positif tentang eksistensi himpunan kita, dan untuk selanjutnya persepsi tersebut akan menjadi motivator untuk membangun himpunan ini menjadi lebih baik.<br />
Kita harus mengapresiasi kerja-kerja besar dari generasi-generasi pendahulu kita yang telah banyak berkontribusi bagi himpunan ini. Apa yang telah mereka lakukan merupakan pondasi awal bagi kejayaan Himpunan Mahasiswa Sipil di masa yang akan datang. Dan merupakan tugas kita untuk melanjutkan estafet kepemimpinan ini dalam tataran yang lebih baik lagi.<br />
Penulis merespon dengan baik tantangan perbaikan himpunan ini pada periode mendatang, mengingat banyak persoalan-persoalan baru pada kepengurusan yang baru terbentuk nanti. Setiap generasi memeiliki zamannya masing-masing, dan setiap zaman memiliki tantangan yang beragam dan berbeda pula. Oleh karena itu, generasi penerus Himpunan Mahasiswa Sipil pada periode selanjutnya harus mampu menjawab tantangan perbaikan yang dipercayakan kepadanya nanti, sebagaimana yang telah disebutkan pada uraian-uraian sebelumnya.<br />
Akhirnya, Penulis mengajak seluruh elemen Kampus, terutama stakeholder Mahasiswa Sipil Universitas Mulawarman, mari bersama <strong>Membangun Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) yang berbasis keilmuan, aspiratif dan progressif, sebagai bentuk penguatan peran dan fungsi strategis teknik Sipil di lingkup Kampus dan Masyarakat. </strong></p>
<p>“…Untuk HMS yang lebih Baik.”</p>
<p>Semogaaa…!</p>
<p><em>*)Mahasiswa Teknik Sipil 2007 Universitas Mulawarman<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rhomiezf.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rhomiezf.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rhomiezf.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rhomiezf.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rhomiezf.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rhomiezf.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rhomiezf.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rhomiezf.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rhomiezf.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rhomiezf.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rhomiezf.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rhomiezf.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rhomiezf.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rhomiezf.wordpress.com/300/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rhomiezf.wordpress.com&amp;blog=2424450&amp;post=300&amp;subd=rhomiezf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rhomiezf.wordpress.com/2009/05/09/hms-unmul-dan-tantangan-perbaikansebuah-refleksi-menjelang-musyawarah-besar-himpunan-mahasiswa-sipil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e70fa31f8da2881b127e199fbf519ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rhomiezf</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
